Gurihnya Bisnis Gerabah, Omzet Bisa Puluhan Juta Rupiah Sebulan

Sri Idayanti, perajin gerabah yang bermukim di RT 2/RW 2 Pekon Podomoro, Pringsewu, Lampung memperlihatkan gerabah produksinya. - Bisnis/Nurul Hidayat
17 September 2019 20:57 WIB Rivki Maulana & Ropesta Sitorus News Share :

Harianjogja.com, PRINGSEWU — Usaha pembuatan gerabah bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Omzetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam sebulan.

Hal ini seperti diakui oleh Sri Idayanti, yang bermukim di RT 2/RW 2 Pekon Podomoro, Pringsewu, Lampung. Ibu empat anak kelahiran tahun 1973 ini menjadikan bisnis gerabah sebagai sumber mata pencaharian utama.

Tak tanggung-tanggung, baru-baru ini dia mampu membeli mobil Mitsubishi Xpander secara tunai.

Ida merupakan generasi kedua pembuat perabotan gerabah yang telah dirintis orang tuanya sejak 20 tahun lalu. Selain keluarga, dia juga dibantu oleh beberapa tenaga kerja di dapur produksinya yang ada di belakang rumah.

Untuk modal usahanya boleh dibilang tidak terlalu tinggi karena bahan bakunya diambil dari sawah atau dari sungai di wilayah sekitarnya.

Di teras rumahnya yang berada di sudut jalan, terpajang ratusan hingga ribuan unit perabotan dari gerabah seperti tungku, anglo (tungku dengan ukuran lebih kecil), cobek, pot bunga, kendi, serta wajan penggorengan. Produk tersebut dipasarkan dengan harga paling murah Rp3.000 serta paling mahal Rp100.000 per unit.

“Kalau bicara omzet ya, tidak tentu, sehari kadang-kadang Rp100.000—Rp200.000, tapi ada juga yang datang membeli secara grosiran sampai Rp1 juta—Rp3 juta. Saya tidak pilih-pilih, yang beli grosiran dan eceran semua saya ladeni,” katanya kepada Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019 di kediamannya, Selasa (17/9/2019).

Selain pembeli perorangan, segmen pasar produk gerabah tersebut yakni rumah sakit dan bidan-bidan mandiri serta pedagang. Tak hanya wilayah Kabupaten Pringsewu, pelanggan Ida juga tersebar di berbagai daerah seperti dari Bandar Lampung dan Kota Metro.

Meski tidak secara langsung, keberadaan infrastruktur jalan tol Trans-Sumatra yang telah beroperasi di beberapa ruas serta peningkatan jalan nasional di kawasan Sumatra bagian selatan, turut berkontribusi mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah seperti yang dijalani Ida.

Pasalnya, keberadaan infrastruktur jalan yang semakin baik membuat konektivitas dan transportasi barang dan orang semakin mudah ke berbagai wilayah di Sumbagsel.

“Kemarin saya baru mengirim gerabah ke rumah sakit Mitra di Bandar Lampung serta ke Baturaja, Sumatra Selatan. Saya memang hanya menjual gerabah di rumah saja, tidak ada toko khusus, pembeli yang datang mencari ke sini,” katanya.

Ida mengaku diuntungkan karena jalan reguler menjadi lebih lancar karena sebagian besar kendaraan, terutama truk melewati jalan tol.

“Di Terbanggi Besar dan Bandar Jaya dulu itu pasti macet, sekarang jadi lancar, perbandingannya dulu bisa butuh waktu 3 jam sekarang hanya 2 jam,” katanya.

Salah satu ruas tol Trans-Sumatra yakni tol Bakauheni—Terbanggi Besar (Bakter) sepanjang 140,50 km telah beroperasi penuh sejak Maret 2019.

Selain itu, jalan tol Terbanggi Besar—Pematang Panjang—Kayu Agung (Terpeka) sepanjang 185 km juga telah beroperasi fungsional dan akan diresmikan dalam waktu dekat sehingga arus transportasi Palembang—Bandar Lampung— Jakarta diharapkan semakin meningkat.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia