Advertisement
Ketegangan di Timur Tengah Bikin Kenaikan Harga Minyak Capai 15%
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Kenaikan harga minyak naik mendekati 15% pada perdagangan kemarin dan minyak mentah jenis Brent mencatat lonjakan terbesar dalam kurun lebih dari 30 tahun di tengah rekor volume perdagangan.
Lonjakan harga itu terjadi setelah serangan terhadap fasilitas minyak mentah Arab Saudi memangkas produksi minyak kerajaan itu menjadi separuhnya.
Advertisement
Sementara, kekhawatiran akan terjadi ketegangan memuncak di Timur Tengah. Serangan itu meningkatkan ketidakpastian di pasar yang relatif tenang dalam beberapa bulan terakhir.
Kekhawatiran muncul karena berkurangnya minyak mentah dari Arab Saudi yang secara tradisional menjadi pemasok utama di dunia.
BACA JUGA
Guncangan pasar minyak mencapai level tertinggi sejak Desember tahun lalu, sedangkan aktivitas perdagangan menunjukkan investor memperkirakan harga akan lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Miyak mentah Brent berada di posisi US$69,02 per barel atau naik US$ 8,80, atau 14,6 persen. Kenaikan persentase satu hari itu merupakan yang terbesar sejak 1988.
Perdagangan berjangka untuk Brent tercatat lebih dari dua juta kontrak yang merupakan rekor volume harian sepanjang masa, kata juru bicara Intercontinental Exchange, Rebecca Mitchell seperti dikutip Reuters, Selasa (17/9/2019).
Sedangkan kontrak untuk minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada posisi US$62,90 per barel atau melonjak US$8,05 (14,7 persen). Kenaikan persentase itu merupakan yang tertinggi dalam satu hari sejak Desember 2008.
"Serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi muncul sebagai kejutan," kata Tony Headrick, seorang analis pasar energi di Stpaul, Minnesota yang merupakan pialang komoditas CHS Hedging LLC. Dia melihat perubahan harga tersebut terjadi tanpa diduga.
Arab Saudi merupakan pengekspor minyak terbesar di dunia dan dengan kapasitas cadangan yang relatif besar, negara itu menjadi pemasok yang aman beberapa dekade.
Serangan terhadap fasilitas pemrosesan minyak mentah milik produsen Saudi Aramco di Abqaiq dan Khura telah memangkas produksi sebesar 5,7 juta barel per hari dan menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan negara itu untuk mempertahankan ekspor minyak. Pihak Aramco belum memberikan batas waktu kapan perusahaan itu akan beroperasi secara penuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Rawan Kecelakaan, Jembatan di Sendangrejo Akan Diperlebar
Advertisement
Korea Selatan Perpanjang Bebas Biaya Visa hingga Juni 2026
Advertisement
Berita Populer
- 80 Tahun Jogja Ibu Kota RI, Eko Suwanto Ajak Warga Cinta Tanah Air
- Prabowo Bahas Proyek Hilirisasi Rp100 Triliun di Hambalang
- Pemkab Kulonprogo Lantik 25 Kepsek Baru
- Parlinka Project Amikom Edukasi Pola Asuh Positif Orang Tua Remaja
- Kementan Bentuk 33 Balai Besar Modernisasi Pertanian
- Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali
- ADD Gunungkidul 2026 Tetap Rp123 Miliar Meski TKD Dipangkas
Advertisement
Advertisement



