Prabowo dan FPI, Pengamat: Bukti Tak Habis Manis Sepah Dibuang

Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno menyapa wartawan usai memberikan keterangan pers terkait putusan MK tentang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2019 di kediaman Prabowo, Jakarta Selatan, Kamis (27/6/2019). - ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
04 Agustus 2019 09:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Pengamat menilai mantan capres Prabowo Subianto telah membuktikan salah satu kesantunannya dalam berpolitik.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mau menjembatani Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan Front Pembela Islam (FPI) agar izin ormas tersebut tak dicabut pemerintah.

Melihat yang dilakukan Prabowo, pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Ade Reza Hariyadi menganggap Prabowo tengah membuktikan satu kesantunan politiknya.

"Satu kesantunan politik untuk membuktikan bahwa beliau [Prabowo] ini bukan orang yang setelah selesai habis manis sepah dibuang," kata Ade saat ditemui di kawasan Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (3/8/2019).

Diketahui, FPI merupakan salah satu pendukung koalisi partai pendukung Capres - Cawapres Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Meskipun Pilpres 2019 telah usai, namun Prabowo tetap mempertahankan komitmennya.

"Beliau (Prabowo) juga masih konsern terhadap apa yang selama ini menjadi komitmen bersama," sambungnya.

Dengan begitu, Ade melihat tidak ada yang salah dengan keputusan Prabowo untuk membantu FPI yang kini perizinannya masih dipertimbangkan oleh pemerintah. Belum lagi Jokowi pernah menegaskan untuk tidak segan mencabut izin operasional FPI apabila tidak sejalan dengan Pancasila dan mengancam NKRI.

"Saya kira enggak ada masalah itu bagus-bagus saja justru menunjukkan tradisi gentlemen," tandasnya.

Untuk diketahui, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan menjadi jembatan antara Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan Front Pembela Islam (FPI) seandainya izin ormas berbasis Islam itu dicabut pemerintah.

Hal itu dilakukan Prabowo sebagai bentuk mewujudkan nilai demokratis di Indonesia.

Juru Bicara Partai Gerindra Kawendra Lukistian mengatakan bahwa Prabowo tergerak dengan menegakkan keadilan bagi seluruh elemen bangsa.

Ketimbang diputuskan untuk dicabut lantas membuat sebagian pihak kecewa, Prabowo mau untuk mengajak kedua belah pihak antara Jokowi dan FPI untuk mencari solusi.

Sumber : Suara.com