Setelah Munas, Kader Yakin Golkar Tak Pecah

Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo (tengah) bersama Politikus Golkar Ali Yahya (kedua kiri) dan Anggota Dewan Pembina Partai Golkar Paskah Suzetta (kedua kanan) memberikan keterangan kepada wartawan saat mendeklarasikan dirinya maju sebagai calon ketua umum Partai Golkar periode 2019-2024, di Jakarta, Kamis (18/7/2019). - ANTARA/Reno Esnir
01 Agustus 2019 15:17 WIB Jaffry Prabu Prakoso News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan agar Partai Golkar tidak pecah dan ada partai baru setelah pemilihan ketua umum. Pengurus yakin tidak akan terjadi.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah I Golkar Jawa Timur, Zainudin Amali mengatakan bahwa para calon ketua umum tidak akan melakukan seperti itu. 

“Karena Golkar itu kalau ada perselisihan internal dia bukan ideologis, sehingga dia tidak lama. Kalau ideologis pasti lama,” katanya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (1/8/2019). 

Amali menjelaskan bahwa para calon ketua umum (ketum) yang muncul saat ini, Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo memiliki ideologi yang sama dengan partai, yaitu pembangunan dan Pancasila. Akan tetapi dia belum tahu apabila nanti ada calon baru.

Baginya, perbedaan pilihan itu wajar, yang penting setelah itu partai tetap bersatu dan tenang lagi. Inilah yang terjadi pada musyawarah nasional sebelumnya.

“Nah, yang selalu menjadi penyebab dua kali pada 2004 dan 2014 ada satu pandangan yang berbeda tentang posisi partai berada di pemerintah atau di luar pemerintah, kalau itu memang membuat setelah itu efeknya itu agak lama selesainya,” jelasnya. 

Para mantan calon ketum Golkar yang mendirikan partai baru adalah Prabowo Subianto, Wiranto, dan Surya Paloh.

Setelah gagal jadi calon pada 2004, Prabowo membuat Partai Gerindra tahun 2008 dan Wiranto mendirikan Partai Hanura tahun 2006. Sementara Surya pada 2011 mendirikan Partai Nasional Demokrat. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia