Bekas TPA Jatibarang Semarang Terbakar, Penyebab Belum Pasti
Bekas TPA Jatibarang Semarang terbakar seluas 3 hektare. Damkar menyebut sampah masih dibuang dan penyebab kebakaran belum dipastikan.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan keterangan terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Semarang, Jateng, Senin (8/7/2019). (Bisnis-Alif Nazzala Rizqi)
Harianjogja.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menyambut siswa baru sekolah menengah atas (SMA) yang kali pertama masuk sekolah mengatakan penerapan sistem zonasi dalam penerimaan siswa SMA merupakan upaya penyamarataan pendidikan bagi anak.
Saat meninjau hari pertama masuk sekolah di SMAN 1 Semarang, ia melontarkan harapan wali murid dan guru berkolaborasi memoles potensi siswa. Nilai ulangan bukanlah acuan dasar untuk pelabelan kecerdasan siswa.
"Tidak ada anak bodoh, tetapi mungkin dia berbakat di bidang lain. Anak-anak mungkin tidak pintar di soal akademis, tapi dia pintar di seni, olahraga, dan sesuatu yang kreatif lainnya. Di SMAN 1 Semarang ini varian nilainya banyak," kata Ganjar.
Ganjar memastikan bahwa semua murid yang lolos masuk di SMA negeri, seperti SMAN 1 misalnya, masuk dengan perasaan gembira. Kemampuan mereka yang beragam membuka kesempatan untuk belajar berkolaborasi.
"SMAN 1 Semarang ini menarik karena ada yang nilainya 17 dan bisa masuk, mereka bergabung dengan teman-teman lain dan ada diskusi. Itu nanti guru akan jadi fasilitator, kita ajarkan mulai dari sekarang bahwa kelas itu menyenangkan. Kalian punya hak belajar yang sama dan kalian harus saling membantu," katanya.
Di SMAN 1 Semarang, total yang diterima sebanyak 432 siswa. Zonasi seleksi jarak meloloskan 259 siswa. Sedangkan, siswa yang masuk menggunakan zonasi seleksi prestasi 86 siswa. Sementara itu yang menggunakan jalur prestasi sebanyak 78 dari kuota 65. Yang pindah tugas orangtua dari kuota 22, hanya terisi sembilan siswa.
Salah seorang siswa yang menggunakan jalur prestasi di luar zonasi adalah Jovan Fernando Putra Wiyono asal Lingkungan Kolang Kaling RT 002/RW 002, Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang. Dia atlet wushu yang telah meraih medali emas di tingkat nasional dan pernah berlaga di kejuaraan dunia di Brasil.
"Dia telah berlatih sejak SD. Medali pertama yang dia raih saat kelas I SMP, meraih medali emas di tingkat provinsi," kata Joko Wiyono, orangtua Jovan.
Dia merasa bersyukur anaknya bisa masuk ke SMAN 1 Semarang. Padahal jika menilik nilai evaluasi akhir (NEM) SMP, nilai putranya hanya 19. Dia pun sadar, sistem zonasi ini merupakan yang terbaik untuk pemerataan pendidikan.
"Kalau begini kan anak-anak bisa terpacu karena kemampuannya beragam. Kalau kumpul hanya satu kemampuan, yang bodoh semua, ya kapan anak-anak bisa pintar," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Bekas TPA Jatibarang Semarang terbakar seluas 3 hektare. Damkar menyebut sampah masih dibuang dan penyebab kebakaran belum dipastikan.
Warga Padukuhan Karang, Tuksono, Kulonprogo, kembali memprotes tambang pasir Sungai Progo. CV BKS menyebut seluruh perizinan telah lengkap.
Jenazah Sukarman, kru KM Arupadatu I, tiba di Soetta dari Bengkulu dan langsung dibawa ke rumah duka di Pandeglang.
Harga BBM hari ini 24 September 2026 masih mengikuti penyesuaian awal September. Pertamax tetap Rp15.950 per liter.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 5,75% pada September 2026. Stabilitas rupiah dan tekanan pasar keuangan global menjadi pertimbangan utama.
Pendapatan transfer DIY turun Rp583,77 miliar pada perubahan APBD 2026. DPRD meminta PAD diperkuat tanpa menambah beban masyarakat.