Ini Penjelasan BMKG tentang Fenomena Embun Es di Dieng

Wisatawan di Dieng menunjukkan balok es. - Suara.com/Unit Pengelola Teknis (UPT) Pengelolaan Obkek Wisata Banjarnegara
24 Juni 2019 22:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena embun es di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, dianggap biasa terjadi di dataran tinggi.

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara) Setyoajie Prayoedhie mengatakan kemunculan embun es merupakan anomali cuaca ekstrem yang disebabkan oleh banyak faktor dan biasa terjadi di daerah dataran tinggi.

Berdasarkan hasil analisa BMKG, lanjut Setyoajie, aliran massa udara di wilayah Indonesia saat ini didominasi angin timuran, yaitu massa udara dingin dan kering yang berasal dari Benua Australia. Wilayah belokan angin terjadi di wilayah Sumatera Utara bagian barat dan Kalimantan bagian utara.

Monsun Asia pada dasarian III Juni diperkirakan tidak aktif, sementara monsun Australia diperkirakan lebih kuat dibanding normalnya. Karenanya, berpotensi mengurangi peluang pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia khususnya bagian selatan.

“Analisis tanggal 19 Juni 2019 menunjukkan MJO aktif di fase 5 (Maritime Continent) kemudian diprediksi tidak aktif hingga pertengahan dasarian I Juli 2019. Kondisi ini diperkirakan tidak berkontribusi terhadap penambahan atau pengurangan awan konvektif di wilayah Indonesia,” kata Setyoajie Prayoedhie kepada Suara.com, jaringan harianjogja.com, Senin(24/6/2019) malam.

Dampaknya, lanjut dia dataran tinggi berupa puncak gunung atau di atas lereng gunung menjadi dingin secara cepat. Hal itu diakibatkan karena kehilangan radiasi.

“Oleh sebab itu, di puncak gunung bertekanan lebih tinggi dibandingkan dengan di lembah. Udara yang lebih dingin memiliki densitas [kerapatan udara] yang lebih besar, kemudian akan mengalirkan udara ke lembah [catabatic flows],” kata dia.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, udara dingin yang mengalir ke lembah secara signifikan mempercepat laju kondensasi uap air atau embun yang ada di permukaan.

“Hal inilah yang dikenal sebagai embun es [frost], seperti yang terjadi di Dieng,” kata dia.

Menurutnya, embun es di dataran tinggi Dieng merupakan fenomena yang wajar, karena tahun-tahun sebelumnya juga terjadi di musim kemarau.

“Itu wajar, karena di Jateng saat ini sudah masuk musim kemarau,” kata dia.

Disinggung mengenai kemungkinan dampak bagi kesehatan manusia, Setyoajie Prayoedhie menyebutkan tidak terlalu berpengaruh. Hanya saja, masyarakat khususnya yang tinggal di kawasan tersebut akan merasakan suhu udara yang lebih dingin dari biasanya.

“Untuk dampak pada tanaman, itu bisa mengakibatkan layu atau matinya bibit sayuran, khususnya yang belum cukup umur,” kata dia.

Fenomena embun es di dataran tinggi Dieng, ucap Setyoajie Prayoedhie, masih memungkinkan terjadi lagi. Puncak musim kemarau di wilayah tersebut dan Jateng pada umumnya, diperkirakan baru akan berlangsung sekitar bulan Agustus mendatang.

Fenomena embun es di wilayah tersebut sudah terjadi beberapa kali di musim kemarau ini. Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Pengelolaan Objek Wisata Banjarnegara Aryadi Darwanto mencatat, fenomena itu sudah terjadi delapan kali dalam Juni 2019 ini. Fenomena yang sama juga pernah terjadi pada Mei lalu.

Pada Senin pagi tadi, kisaran pukul 05.00 WIB, pihaknya mengukur suhu udara di wilayah tersebut sampai minus sembilan derajat celsius.

Sumber : Suara.com