Biasanya Tampil Tenang, Ketua MK Ternyata Bisa Protes

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman (tengah) memimpin sidang perdana Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (14/6/2019). - Antara
22 Juni 2019 04:57 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman yang raut wajahnya biasanya tampak paling tenang dari Hakim Konstitusi lain dan bahkan cenderung datar, kini tampak tak sabar mengungkapkan sesuatu. 

Selama ini, Anwar Usman dikenal paling tenang. Apalagi jika 'anak buahnya' yang tengah beradu pendapat dengan pengacara dari para pihak. Anwar selalu bisa memenangkan suasana dengan ungkapan khasnya, 'Sudah, clear ya', 'Begitu', atau 'Jadi begitu, ya'.

Tetapi, kini Anwar protes.Ia protes karena saksi ahli dari pihak terkait (TKN Jokowi-Ma'ruf), ahli hukum pidana Universitas Gajah Mada (UGM) Eddy Hiariej dan Dosen Pascasarjana FH UIA Heru Widodo tak menyebutnya sebagai alumni UGM juga.

Padahal, dalam perdebatan di persidangan, para pengacara dari Tim Hukum BPN Prabowo-Sandiaga, yakni Iwan Satriawan, Luthfi Yazid, Denny Indrayana yang juga alumni UGM, memamerkan masa lalu masa studi mereka dengan Heru dan Eddy, di samping perdebatan terkait materi persidangan.

Bahkan, Luthfi menyebut Heru sebagai teman satu kosnya. Mereka pun bernostalgia dengan Hakim Konstitusi yang juga alumni UGM, Enny Nurbaningsih dan Saldi Isra.

"Saya mau protes dulu ke Prof Eddy. Dari tadi saya sama Pak Wakil [Aswanto] merasa sedih. Saya sama Pak Wakil tidak diakui gimana ceritanya? Kami kan juga alumni," ujar Anwar, kali ini sembari tersenyum di ujung sidang kelima sengketa Pilpres 2019, Jumat (21/6/2019).

Barangkali, Anwar dan Aswanto tidak disebut sebab mereka bukan berasal dari Fakultas Hukum UGM. Anwar merupakan jebolan S3 UGM Ilmu Kebijakan, sedangkan Aswanto S2 UGM Ilmu Ketahanan Nasional. Kendati demikian, hal tersebut tetap tak melunturkan rasa haru Anwar.

"Jadi sekalian juga saya terus terang merasa terharu dan terima kasih [oleh karena] suasana persidangan yang luar biasa, ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana kekeluargaan terbentuk di sini, dan perdebatannya luar biasa sejak kemarin," ungkap Anwar.

Anwar pun sekaligus mengungkapkan pesan terakhir sebelum agenda sidang terakhir, yaitu Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH), dengan berterima kasih kepada para pihak atas kerja samanya menjalani persidangan dengan kondusif.

Bahkan, Anwar sempat meminta maaf pada Ketua Tim Hukum TKN Jokowi-Ma'ruf Yusril Ihza Mahendra, dengan menyindir perdebatan untuk melanjutkan sidang yang telah larut malam, hingga selesai pagi hari.

"Kedua, InsyaAllah usai sidang, apa yang terjadi dalam ruangan ini akan kami bahas karena waktu tadi sudah disampaikan oleh Prof Denny, dan sudah saya sampaikan di awal sidang bahwa sidang ini peradilan cepat, speedy trial, sehingga kami habis selesai sidang ini, kami akan berdebat dari apa yang bapak-bapak suguhkan di hadapan kami," ungkapnya.

Anwar berharap agenda RPH nantinya bisa memberikan keadilan bagi semua pihak. Walaupun berat bagi seorang hakim memutuskan perkara. Anwar pun mengungkap suatu kisah tentang beratnya beban hakim. Anwar bertutur tentang kisah Imam Abu Hanifah.

"Kisah Imam Abu Hanifah yang lahir di Kuffah tahun 80 H. Empat kali, lima kali keluar masuk penjara, dihukum karena tidak mau menerima jabatan hakim. Saking beratnya, sampai beliau dikasih minum racun pada usia 75 tahun, kemudian kembali ke penjara dan meninggal," ungkap Anwar.

"Jadi Insyaallah, apa yang bapak-bapak pihak pemohon [Tim Hukum BPN], pihak termohon [KPU], pihak terkait [Tim Hukum TKN], termasuk Bawaslu, akan menjadi dasar bagi kami untuk mencari kebenaran, berijtihad, untuk mencari kebenaran dan keadilan. Mungkin itu saja," tutup Anwar.

Sumber : bisnis.com