Kemendikbud Terbitkan 6 Rekomendasi karena Siswa Masih Kedodoran Baca Teks Panjang

Ilustrasi perpustakaan. (Dok)
21 Mei 2019 09:57 WIB Ayu Prawitasari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Siswa di Tanah Air masih kedodoran membaca teks panjang. Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan rekomendasi budaya membaca yang berisi enam poin.

Rekomendasi yang dikeluarkan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan (Puslitjakdikbud Balitbang) Kemendikbud di antaranya meminta pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian khusus kepada daerah yang indeks literasi membacanya rendah, perlunya teknologi informasi untuk kegiatan kampanye, dan lainnya.

Sebelumnya pemerintah telah meluncurkan program Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang terdiri dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi Bangsa. Perlu ada kajian yang memadai agar GLN dapat lebih tepat sasaran. Caranya menelaah indikator yang merepresentasikan aktivitas literasi membaca dan menyusun indeks untuk mengukur tingkat aktivitas literasi membaca dengan hasil Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) tingkat provinsi.

“Dalam membaca kita selalu terkendala. Rata-rata dalam Ujian Nasional [UN], anak bisa menjawab soal bahasa Indonesia hanya 60 persen. Dengan wacana atau teks yang agak panjang, kedodoran. Ini disebabkan aktivitas bacanya kurang,” kata Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, saat membuka Diskusi dan Peluncuran Buku Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta, pada Jumat (17/5) seperti dilansir di laman Kemdikbud.go.id, Minggu (19/5/2019).

Pemahaman Guru

Kepala Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Emi Emilia, dalam paparannya mengatakan guru seharusnya lebih memahami teks bacaan sehingga dapat memberikan penjelasan yang mendalam kepada murid.

“Yang paling penting juga pemahaman guru mengenai pemahaman teks ini yang belum. Misalnya ini teks eksplanasi. Jangan ketika diminta berargumen, kok kita malah mendeskripsikan. Diminta memberikan instruksi malah justru mendeskripsikan. Perlu guru pintar yang dilatih mengenai hal-hal ini. Jadi untuk guru harus dilatih untuk lebih meningkatkan pemahaman teks,” ujarnya.

Seorang narasumber, Nirwan Ahmad Arsuka, menjelaskan masalah terbesar adalah adanya mitos bahwa minat baca anak Indonesia rendah. “Kemendikbud adalah salah satu agen yang sering mengulang-ulang mitos tersebut. Kemudian ditirulah banyak selebritis, termasuk Mbak Najwa dulu. Belakangan kita tunjukkan sebenarnya minat baca anak Indonesia tinggi, hanya bukunya yang tidak ada,” kata Nirwan.

Nirwan menambahkan peran serta masyarakat saat ini dalam memajukan literasi sangat besar. “Warga yang selama ini jadi objek, sekarang sudah jadi subjek. Mereka bisa menyumbang bambu, atap, dan bikin perpustakaan di kampung-kampung. Bukunya siapa yang menyumbang? Sebagian ada anak-anak yang pulang atau yang bekerja di Jakarta, TKW-TKW di Hongkong, misalnya. Itulah yang mengirim buku ke kampung-kampung. Banyak warga yang dulunya tidak sekolah dan merantau kini menjadi penyumbang untuk membantu sosial masyarakat,” jelas Nirwan.

Seusai diskusi, Totok mengatakan persoalan literasi dalam dunia pendidikan tidak bisa diabaikan. “Jujur saja, salah satu persoalan kita dalam dunia literasi adalah akses. Jumlah murid naik, tetapi persoalanya ada pada literasi ini. Apakah ini merupakan literasi sains atau apa. Semua awalnya dari membaca. Bagaimana bisa paham sains kalau memahami kalimat saja tidak bisa? Apalagi membedah implisit yang tidak tertulis. Jadi, literasi membaca merupakan awal untuk memahami ilmu-ilmu yang lain. Kalau ini saja problematik, jangan berharap literasi yang lain juga baik,” jelas Totok.

6 Rekomendasi Kemendikbud

1. Pemerintah pusat dan daerah harus memberikan perhatian khusus untuk daerah/provinsi yang indeks literasinya rendah seperti Provinsi Papua, Papua Barat, dan Kalimantan Barat.

2. Teknologi informasi disertai kampanye penggunaan Internet harus menunjang aktivitas literasi

3. Perlu upaya sistematis untuk meningkatkan akses terhadap fasilitas literasi publik di sekolah maupun di masyarakat

4. GLS perlu diimbangi dorongan pembiasaan di rumah, misalnya melalui kebijakan jam belajar

5. Swasta dan dunia usaha dapat mendukung pemenuhan akses literasi melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan, misalnya mendukung perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan komunitas

6. masyarakat dan pegiat literasi dapat berpartisipasi dengan membuat perpustakaan di rumah, menyelenggarakan aktivitas rutin membaca di tingkat keluarga, serta menjadi donatur bantuan buku untuk sekolah maupun komunitas literasi

Sumber: Kemendikbud

Sumber : Solopos.com