Ini Pesan Rektor IPB untuk Gerakan Mahasiswa di Indonesia

Ilustrasi mahasiswa - Reuters
19 Mei 2019 08:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Gerakan mahasiswa dinilai harus menyikapi sejumlah narasi besar dalam era disrupsi.

Rektor IPB, Arif Satria memberikan sambutan pada Kongres Kebangkitan Mahasiswa Indonesia 18 Mei 2019 di Institut Pertanian Bogor. Menurutnya, terdapat dua narasi besar yang perlu disikapi oleh gerakan mahasiswa Indonesia saat ini.

Pertama, peran mahasiswa dalam mengawal transisi demokrasi, karena saat ini demokrasi di Indonesia masih dalam tahapan prosedural belum substansial. Secara substansial, masih banyak nilai-nilai dan perilaku dalam berdemokrasi yang perlu disempurnakan agar demokrasi bisa lebih matang.

Hal itu menurutnya, yang membedakan peran mahasiswa di negara maju dan negara berkembang, di mana sistem demokrasi di negara maju sudah mapan dan masyarakatnya sudah matang sehingga peran gerakan mahasiswa dalam pengawalan demokrasi tidak terlalu dituntut. Sebaliknya di negara berkembang dengan kondisi masyarakat yg berpendidikan relatif rendah, gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral masih sangat dibutuhkan untuk mengawal proses demokrasi untuk mencapai tujuan dalam berbangsa dan bernegara.

“Dalam peran inilah idealisme dan independensi mahasiswa menjadi sangat penting. Idealisme dan independensi tersebut adalah modal pokok yang melandasi gerakan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh berbagai kelompok kepentingan, khususnya dalam menghadapi dinamika politik saat ini,” kata Arif Satria dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (18/5/2019). Acara ini diselenggarakan oleh Aliansi BEM seluruh Indonesia (BEM SI).

Kedua, peran mahasiswa pada era disrupsi, di mana Indonesia saat ini menghadapi kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity. Volatility banyak dipicu oleh perkembangan teknologi 4.0 seperti IOT, big data, artificial intelligence, robotic, blockchain dan lainnya yang membawa perubahan kehidupan begitu cepat.

Selanjutnya perubahan iklim, dinamika geopolitik global juga telah memicu uncertainty. Persoalan yang dihadapi juga semakin kompleks, sehingga mahasiswa dituntut harus berpikir sistem secara komprehensif.

“Selain itu, perubahan yang terjadi juga semakin tidak familiar yang menyebabkan situasi ambigu. Untuk itu, para pemimpin mahasiswa harus berorientasi masa depan dengan mempertimbangkan VUCA tersebut,” ujarnya.

Dia menyebutkan, ada lima kompetensi utama yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa depan, yakni complex-problem solving, critical thinking, creativity, communication dan collaboration.

“Era disrupsi saat ini menuntut mahasiswa menjadi powerful agile learner agar tidak terus terjebak pada masa lalu (escape from the past), dan sebaliknya harus mampu menemukan masa depan (to invent the future). Karena itu dalam kongres kebangkitan mahasiswa Indonesia saat ini perlu dipikirkan bagaimana reformulasi dan revitalisasi model gerakan mahasiswa Indonesia agar gerakan mahasiswa adaptif terhadap perubahan dan tantangan bangsa ke depan,” ucapnya.

Sumber : Okezone.com