Garda Depan Fasiltas Kesehatan Kesulitan Mendiagnosa Penyakit Seribu Wajah

Ilustrasi nyeri sendi - Reuters
14 Mei 2019 04:47 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Lupus dikenal sebagai penyakit seribu wajah. Penyakit yang memiliki hari khusus yaitu Hari Lupus Sedunia pada 10 Mei ini, gejalanya yang sering tak tampak membuat penangannya sering terlambat. Terlebih fasilitas kesehatan tingkat pertama belum memiliki kapasitas untuk menangani lupus.

Memeringati Hari Lupus Sedunia, Harian Jogja merunut penyebab sulitnya fasilitas kesehatan tingkat I, yaitu puskesmas, mendiagnosa penyakit ini. 

Salah satunya di Puskesmas Tegalrejo, Kota Jogja. Kepala Puskesmas, Dokter Abdul Latief mengaku sering kesulitan mendeteksi lupus pada pasiennya. Terlebih, jika tanda-tanda khasnya belum muncul. “Kalau sudah muncul tanda-tanda khas itu lebih mudah,” kata Abdul Latief ketika ditemui Harian Jogja di Puskesmas Tegalrejo, Rabu (8/5).

Kekhasan menurut dia biasanya tampak di kulit melalui ruam merah di pipi berbentuk kupu-kupu dan nyeri pada sendi. “Karena penyakit autoimun itu biasanya nyeri sendi, kemudian ada [bentuk] butterfly [kupu-kupu]. Tetapi rata-rata memang yang muncul pertama itu nyeri sendi yang tidak sembuh,” kata dia.

Ketika mendapati gejala tersebut, dokter Abdul akan mengevaluasi apakah nyeri tersebut tergolong organik atau nonorganik. “Nyeri yang nonorganik itu kalau bermasalah psikologis, masalah psikis. Tapi kalau dari dokter bukan masalah nonorganik, melainkan organik, kami evaluasi screening lewat pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.

Begitu juga dengan gejala ruam di kulit yang menurutnya seringkali dikira orang-orang sebagai kusta. “Kusta itu kan sebenarnya beda dengan lupus, kalau lupus itu kan kebanyakan tidak tahu. Tapi kalau kusta itu karena malu, karena mungkin mereka tahu tapi malu. Makanya kan pola pendekatannya, pola deteksi dini sama sosialisasinya berbeda,” tutur dia.

Karena sulitnya deteksi tersebut, tak jarang orang-orang yang memiliki gejala tersebut harus bolak-balik ke puskesmas untuk memeriksakan penyakitnya. Meski begitu, ia menekankan bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama hanya bisa melakukan screening, deteksi, dan sosialisasi. Sedangkan, penanganannya hanya bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut seperti rumah sakit.

“Kami menjaring semua masyarakat di wilayah Tegalrejo ini yang kemungkinan atau dicurigai dia terkena lupus untuk datang kemudian kita periksa. Kita arahkan, kan ada scoring-nya untuk penderita, screening lupus itu. Ketika scoring dia kecurigaannya banyak, kita refer ke rumah sakit,” ujar dia.

Ia melihat masih banyak ketidaktahuan tentang lupus di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya selalu menekankan pentingnya edukasi tentang gejala lupus dan pentingnya penanganan sejak dini.

Meski begitu, ia mengakui jika pengobatan lupus sangat mahal dan saat ini obat yang ada belum bisa menyembuhkan total, namun hanya mengendalikan supaya selnya tidak merusak odapus. Terlebih, menurutnya, fasilitas kesehatan tingkat lanjut pun pernah mengalami kondisi kesulitan pengadaan obat.

Untuk itu, ia menyarankan supaya pemerintah lebih memperhatikan pengobatan lupus secara berkelanjutan. Sebab, sia-sia saja sosialisasi dan deteksi yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama, jika ternyata pemerintah tidak mampu menyediakan obatnya.

“Harapannya fasilitas rumah sakit dan ketersediaan obat itu kalau bisa terjamin, karena itu penting. Kami bisa menyampaikan informasi, masyarakatnya tahu, terus tahu tanda-tandanya, bisa periksa ke puskesmas, kami deteksi ternyata kecurigaan lupus, akhirnya ke rumah sakit, diperiksa lagi dan periksa laboratoriumnya ternyata mendukung, tapi kalau memang obatnya enggak ada, kan susah,” tegasnya.

Kesulitan serupa diakui oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Yogyakarta, dokter Sumadiono. Ia menyebut fasilitas kesehatan tingkat pertama sejatinya berperan penting dalam upaya penanganan penyakit lupus.

Sayangnya, selama ini banyak hambatan, terutama saat mendiagnosa. Menurut Sumadiono baik puskesmas maupun dokter yang praktik di klinik, kesulitan deteksi penyakit, lebih karena penyakit ini memiliki gejala seperti penyakit lain. Fasilitas kesehatan pertama juga berperan merujuk pasien terdeteksi lupus menuju layanan kesehatan lanjutan untuk penanganan lebih intensif.

“Tak hanya mendeteksi tetapi juga berperan penting dalam memberikan edukasi,” ujarnya kepada Harian Jogja, Sabtu (11/5). Misalnya, untuk pasien lupus, puskesmas maupun dokter memberikan edukasi bahwa penderita lupus tidak boleh terlalu lelah,  tidak boleh terkena sinar Matahari, harus mencegah terjadinya infeksi pada tubuh, serta mengedukasi pasien agar minum obat secara teratur.

Sebagai dokter spesialis anak, Sumadiono, juga menerangkan bahwa untuk penanganan anak-anak penderita lupus dilakukan serupa dengan penanganan terhadap orang dewasa. “Penanganannya serupa. Misalnya dengan memberikan obat-obatan khusus sesuai jadwal, memberikan edukasi, dan melakukan kontrol rutin,” katanya.

 

Tak Ada Program

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaning Astutie mengatakan hingga saat ini belum ada program yang secara khusus mendorong para dokter puskesmas untuk lebih mengenali gejala lupus dan segera merujuk ke rumah sakit besar. Akan tetapi sementara ini para dokter dapat mempelajarinya melalui program Penyakit Tidak Menular (PTM).

"Deteksi dini lupus memang termasuk yg memerlukan pemeriksaan khusus,  karena gejalanya bisa menyerupai banyak penyakit. Dari banyak kasus, pasien lupus baru terdeteksi setelah beberapa kali periksa. Maka perlu sosialisasi lebih secara bersama dengan pihak akademik dan fasilitasi pelayanan kesehatan yaitu RS Sardjito," kata Pembayun, belum lama ini.

Pembayun mengatakan penyakit lupus biasanya terdeteksi ketika pasien sudah di rumah sakit. Hal ini menyebabkan puskesmas maupun dinas tidak memiliki data prevalensi lupus di DIY. "Itu tersebar di rumah sakit-rumah sakit," kata Pembayun.

 

Kesulitan Pasien

Kesulitan yang dialami para dokter pada fasilitas kesehatan tingkat pertama tentu berimbas kepada pasien. Contohnya Yuli Setianingsih, 20. Ia bercerita pada suatu malam, pada 2016 ia sakit di sekujur badannya. Buih-buih keluar dari mulutnya dan seluruh kulitnya terasa panas hingga mengelupas. Ibunda yang panik langsung membawa Yuli ke RSUP Sardjito. Segala pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi penyakit Yuli saat itu.

"Saya sakit begitu terus selama delapan bulan, hilang muncul begitu tipenya. Tetapi ketika dites, hasilnya semua negatif tidak kenapa-napa," kata Yuli saat ditemui Harian Jogja di RSUP Sardjito belum lama ini. Saat itu Yuli dijadwalkan mengambil hasil periksa berkala.

Pada 2017, seluruh mulut Yuli dipenuhi sariawan hingga bibirnya bengkak dan dia kesulitan makan. Alhasil badannya demam dengan suhu tak karuan. Badan Yuli merasakan panas dan dingin secara bergantian dengan tidak terprediksi.

"Saya saat itu sempat ke Puskesmas terdekat dari rumah saya di Minggir, Sleman, akan tetapi, kata dokter itu cuma sariawan biasa. Dikasih obat, terus suruh pulang. Padahal seluruh mulut sudah bengkak," kata Yuli.

Setelah beberapa minggu, Yuli dan sang ibunda kemudian bergegas ke RSUP Sardjito. Setelah menjalani cek darah, Yuli didiagnosa Demam Berdarah Dengue (DBD) dan harus rawat inap. Namun saat rawat inap, muncul ruam di sekujur tubuhnya. Hingga sebulan, Yuli tidak mendapatkan diagnosa tegak. Akhirnya dokter menyarankan Yuli tes DNA. "Seminggu kemudian saya tegak diagnosis Systemic Lupus Erythematosus [SLE]. Jadi total saya menjalani proses untuk mengetahui bahwa saya mengidap lupus itu butuh satu tahun," kata Yuli.

Proses selama satu tahun tentu tidak memakan biaya yang sedikit. Puluhan juta sudah terkuras dari dompet orang tuanya. Kini pun Yuli harus mengonsumsi enam jenis obat, terkadang tak semua obat terkover oleh BPJS. Biasanya BPJS hanya mengkover Rp1,5 Juta.

Menurut Yuli, penyakit yang dideritanya kini adalah penyakit langka. Yuli adalah satu-satunya penderita Lupus di Kecamatan Minggir. Sehingga, menurutnya, wajar bila tenaga puskesmas membutuhkan waktu lama untuk mendeteksi penyakitnya atau sigap menyarankannya memeriksakan diri di rumah sakit besar. Apalagi gejala lupus mirip seribu wajah yang sering berubah, peralatan medis di puskesmas tidak menunjang mendeteksi penyakitnya dengan cepat. (ST15/ST17)