PARENTING: Melatih Si Kecil Berdamai dengan Kegagalan

Ilustrasi anak-anak - Reuters
07 Mei 2019 08:27 WIB Mahardini Nur Afifah News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Orang tua zaman sekarang banyak yang mencurahkan perhatian ekstra buat buah hatinya. Terkadang, beberapa di antaranya terlalu melindungi anaknya, sampai level menjaga putra-putrinya dari kegagalan. Padahal itu adalah pola asuh yang keliru. 

Ada kalanya lingkungan terkadang juga mendukung situasi tanpa kegagalan pada anak-anak. Misalkan beberapa kompetisi untuk anak-anak, sengaja tidak diberi skor dengan tujuan tidak ada tim merasa menjadi pihak kalah. Sistem pemeringkatan juga dihapus agar tidak ada anak merasa bersalah saat hasil belajarnya tidak memuaskan.

Padahal tidak selamanya kompetisi itu buruk. Kegagalan ada faedahnya buat si kecil. Bermula dari kegagalan, anak jadi belajar mengembangkan karakteristik kunci yang diperlukan agar berhasil. Antara lain kemampuan mengatasi rasa gagal, belajar berkolaborasi, melatih ketahanan emosional, dan berpikir kreatif.

“Banyak orang tua memandang kegagalan sebagai sumber kekecewaan anaknya. Padahal itu merupakan kesempatan untuk belajar kuat dan melalui masa sulit,” ujar Madeline Levine, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids, seperti dilansir Parents.com.

Sebanyak 200 riset yang dirilis Psychological Science in the Public Interest mengungkap fakta percaya diri tinggi tidak mendongkrak prestasi atau bermanfaat untuk karier anak ke depan.  Alih-alih menyiapkan menara gading untuk si kecil, alangkah lebih bijak jika orang tua mengajarkan langkah sederhana untuk menyiapkan mereka berdamai ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapannya.

Jadi Pendamping Anak

Orang tua perlu menyadari tidak selamanya orang tua bisa mendampingi si kecil saat mereka gagal atau kecewa. Siapkan anak sejak dini akrab dengan ketidaksempurnaan. Saat suatu ketika dia pulang menangis karena tidak diajak bermain temannya, kita sering bertanya, “Bagaimana perasaanmu kalau suatu saat gantian tidak memperbolehkan mereka main sama kamu?” Selanjutnya diskusikan caranya mengubah situasi berikutnya. Semakin banyak solusi yang didapat semakin baik. Selama masa diskusi, hindari menganggap ide anak konyol. Fokus pada prosesnya memecahkan masalah dengan kreatif.

Batasi Pujian

Melimpahi anak dengan pujian bisa menjadi bumerang kepercayaan diri bagi buah hati. Anak-anak yang sering dipuji jadi bergantung pada validasi orang lain. Sebuah riset yang diterbitkan Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan argumen tersebut. Carol Dweck, memberikan 400 soal kepada siswa kelas lima di suatu sekolah. Satu kelompok dipuji cerdas dan yang lain dipuji karena upayanya. Setelah kedua kelompok tidak dapat menyelesaikan soal sulit, mereka diberikan yang mudah lagi. Kelompok "cerdas", patah semangat lebih dulu karena kegagalan sebelumnya. Sedangkan kelompok yang minim pujian cerdas termotivasi berupaya lebih keras 30% lebih baik dari kelompok lainnya.

Mencoba Hal Baru

Kebanyakan anak secara alami tertarik dengan hobi atau minat di bidang unggulannya. Jadi persoalan ketika anak menghindari mencoba aktivitas berbeda karena takut gagal. Praktis si kecil jadi kehilangan keinginan memperluas wawasannya. Orang tua kadang membatasi anak dengan bersikap protektif. Padahal perlu memperkenalkan anak dengan hal baru sambil menegaskan tidak perlu melulu mencetak prestasi. Tugas orang tua untuk mengupayakan dan mendorong anak.

Menunda Kepuasan

Melatih anak sabar menunggu mendapatkan apa yang dia inginkan membantunya mengembangkan kontrol diri. Misalkan saat ingin menghadiahi mereka liburan atau sekadar permen setelah anak berhasil mengerjakan sesuatu. Keterampilan ini diperlukan anak sepanjang hidupnya. Anak yang lebih sabar terbukti lebih mahir mengatasi frustasi dan stres. Sementara anak yang tidak sabaran cenderung menjadi orang yang bermasalah saat dewasa. Hal ini berkait dengan kebiasaan mengendalikan impuls. Kemampuan ini penting untuk mengatasi tantangan. Untuk membiasakan anak mengendalikan diri, salah satu kiatnya dengan menerapkan aturan tanpa pengecualian.

Teladan yan Baik

Anak merupakan peniru ulang. Penting untuk orang tua menunjukkan kemahirannya menghadapi kekecewaan. Jika kita panik setiap kali ada kesalahan atau mengalami kekecewaan, kita secara tidak langsung mengajari mereka gampang panik. Saat anak gagal meraih medali di kejuaraan, setop tunjukkan kekecewaan. Cukup bilang, “Yang terbaik kamu sudah bersenang-senang. Itu yang paling penting.”

Gunakan frasa untuk membantu anak mampu mengatasi kekurangannya sendiri seperti, “Saya akan berusaha lebih keras lagi”, “Saya dulu pernah bisa, jadi sekarang bisa melakukannya lagi.” Latih juga anak terbiasa mengakui kesalahannya.

Kelola Harapan

Anak gagal ujian, gagal membawa pulang medali, lupa dialog saat tampil di panggung, piknik mendadak batal, toko kehabisan mainan impian. Beberapa hal tersebut tidak bisa dikendalikan. Tapi orang tua bisa mengurangi kesedihan anak. Caranya dengan mengajarkan anak mengelola harapan. Biasakan anak belajar kekecewaan merupakan bagian dari kehidupan.

Mulai Intervensi?

Kita tidak bisa melindungi anak setiap mereka kecewa. Tapi ada saatnya orang tua mengulurkan bantuan ketika anak gagal dan bersedih hati. Berikan uluran tangan saat kegagalan membuat anak dirisak, dihina, mereka dalam kondisi bahaya, atau saat mereka mulai merasa terganggu.

 

Sumber : JIBI/Solopos