SOSOK: Sri Wuryati Ajarkan Tari Angguk pada Siswa Disabilitas

Sri Wuryanti bersama anak didiknya.
03 Mei 2019 08:07 WIB Lajeng Padmaratri News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kesetaraan hak bisa dijunjung lewat beragam cara apapun. Bahkan sesederhana kegiatan menari. Tanpa pernah mengambil pendidikan luar biasa sebelumnya, rupanya Sri Wuryati sudah melatih Tari Angguk pada siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) selama 12 tahun.

Perempuan 53 tahun ini bukan asli kelahiran Kulonprogo. Ia lahir di Purworejo, Jawa Tengah Namun, kecintaannya terhadap Tarian Angguk begitu membuncah hingga ia rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melestarikan warisan budaya ini.

Darah seni mengalir dalam darahnya.  Ayah Sri merupakan pemain teater dan ketoprak. Sementara itu, minatnya dalam dunia tari diperoleh dari kakek dan neneknya. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, ia gemar menari Dolalak, tarian dari Purworejo. Menyadari bakat anaknya di dunia seni, ayah Sri menyekolahkannya ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta (SMKN 1 Kasihan, Bantul).

“Menggeluti [seni] sampai sekarang. Kalau di sini angguk, kalau di sana dolalak, hampir sama kan,” ujar Sri ketika ditemui di sela-sela mengajar tari di sanggarnya yang bernama Sri Panglaras di Pripih, Hargomulyo, Kokap, Kulonprogo, belum lama ini.

Ia menceritakan, setelah dipinang teman satu sekolahnya yang tinggal di Pripih, Sri semakin tertarik dengan tari angguk karena di Pripih ada seni tradisi angguk namun khusus untuk kalangan laki-laki. “Saat itu saya punya ide, gimana kalau nggak cuma untuk laki-laki. Akhirnya saya kumpulkan remaja sini untuk pentas 17-an. Belum jadi pentas di balai desa [Hargomulyo], pihak kecamatan [Kokap] tahu kalau ada latihan pentas. Terus mereka bilang, ‘Wis sesuk pentaske nang kemacatan (Sudah besok langsung dipentaskan di kecamatan)’. Dari pak lurah bilang langsung diresmikan sekalian,” katanya. Sejak itu, berdirilah kelompok seni budaya di Pripih bernama Sri Lestari pada 2001 di mana dirinya tergabung sebagai anggota.

Namun, menjelang Pemilu Legislatif 1997, peminat tari angguk untuk pementasan sedikit demi sedikit menurun. Menurut Sri, krisis moneter sempat mempengaruhi minat masyarakat untuk tidak mengadakan pentas budaya. Hingga akhirnya, kelompok ini harus bubar karena ketiadaan pesanan pentas.

“Tapi aku bilang sama bapake [suaminya], pengin tak uri-uri [saya lestarikan]. Terus aku madheg dhewe [berdiri sendiri],” tuturnya. Bersama suami, ia mendirikan sanggar seni yang baru bernama Sri Panglaras. Semua kostum kelompok sebelumnya, Sri Lestari, ia beli untuk properti Sanggar Sri Panglaras.

Di sanggar itu, ibu dua anak ini kini punya lebih dari seratus anak didik. Mereka didominasi perempuan, sementara siswa laki-laki hanya sebanyak lima belas orang. Umumnya, siswanya berasal dari sekitaran Kecamatan Kokap, meski ada pula yang berasal dari Wates.

Sesi Latihan

Setiap hari Minggu, ada dua sesi latihan tari mulai pukul 09.30-13.00 WIB. Masing-masing sesi, siswa belajar tari selama kurang lebih satu hingga satu setengah jam. Sesi pagi untuk anak-anak jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Sedangkan, sesi siang untuk remaja sekolah menengah.

Meski saat ditemui beberapa waktu lalu hanya ada sekitar 30 anak yang berlatih tari, namun di luar itu masih banyak lagi anak didik Sri di sanggarnya. Hanya saja, dirinya memberi kelonggaran bagi anak didiknya yang sedang mempersiapkan ujian nasional di sekolah. “Musim ujian nasional ini. Ini yang datang belum semua, belum separuh,” kata dia.

Anak didiknya hanya perlu membayar sebanyak Rp5.000 setiap masuk latihan. Nantinya, Sri akan mengadakan ujian tari satu tahun sekali untuk melihat seberapa jauh pemahaman anak didiknya akan tarian.

Meski begitu, tak hanya tari yang dilatihnya. Di sanggar, anak-anak juga bisa belajar tentang lagu dolanan anak, tata rias, hingga bagaimana memiliki kepribadian yang baik.

 

Melatih Difabel

Sejak 2007, Sri juga dimintai bantuan untuk turut mengajarkan Tari Angguk di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLB) 1 Kulonprogo. Mulanya, ia cukup kaget dengan permintaan itu. Mengingat dirinya tidak pernah menempuh pendidikan luar biasa sebelumnya.

Namun, karena merasa kepercayaan tersebut sudah diberikan padanya, ia akhirnya mau menjadi pelatih Tari Angguk di sana sekaligus staf bagian tata usaha.

Mulanya, ia perlu banyak menyesuaikan diri terhadap siswa berkebutuhan khusus. Sebab, di sanggar, ia tidak pernah memiliki siswa berkebutuhan khusus. Tari Angguk yang gerakannya dipandu dengan alunan musik perlu disesuaikan dengan kondisi anak berkebutuhan khusus (ABK).

“Kalau di sanggar, dalam satu minggu anak udah bisa gerakan, di sana dua bulan baru bisa. Itu yang kelas C [kelas tunagrahita]. Sukarnya di situ. Tapi kalau kelas B [kelas tunarungu], itu mereka nggak dengar aja, padahal kita harus ngepaske musik. Tapi, alhamdulillah, mereka bisa ngikutin ketukan, sambil saya keraskan volumenya supaya mereka merasakan getarannya,” jelasnya.

Di SLB, Sri melatih Tari Angguk untuk semua jenjang kelas setiap Jumat dalam kelas besar. Meski didampingi oleh guru-guru lain, kesabaran lebih perlu ia tuangkan untuk ABK dari kelas tunagrahita. Tak jarang pekan ini mereka dilatih gerakan tertentu, namun pekan depannya mereka lupa dan menarikan gerakan lain.

“Soalnya anak-anak kalau dilatih tari juga untuk terapi, to. Jadi nggak memandang yang bakat aja. Walaupun cuma sambil duduk, denger musik, gerak-gerak sendiri, nggak apa-apa. Perlu lebih sabar. Tapi, saya lebih sayang juga,” tuturnya.

Tanpa pernah belajar pendidikan luar biasa sebelumnya, ia berlatih otodidak pada siswa berkebutuhan khususnya. Bahkan, ia mengaku sedikit demi sedikit berlatih bahasa isyarat. Rupanya, proses tak mengkhianati hasil. Bahkan, salah seorang siswa tunarungu baru saja menang perlombaan tari dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di tingkat Kabupaten Kulonprogo.