Penyelundupan Pakaian Bekas Senilai Rp1,5 Miliar dari Malaysia Berhasil Digagalkan

Ilustrasi kapal kargo melakukan bongkar muat di terminal petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/4/2018). - Bisnis Indonesia
02 April 2019 16:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, PONTIANAK – Petugas Bea Cukai wilayah Kalimantan Bagian Barat dan Bea Cukai Pontianak menggagalkan penyelundupan 260 ballpress berisi pakaian bekas yang diduga kuat berasal dari Malaysia. Ratusan ballpress pakaian bekas itu ditemukan dalam tiga kontainer dan rencananya akan dikirim ke Pulau Jawa.

Kepala Kantor Bea Cukai wilayah Kalimantan Bagian Barat, Azhar Rasyidi, mengungkapkan kronologi penindakan yang dilakukan oleh jajaran Bea Cukai. “Berdasarkan informasi yang diterima petugas, didapati akan ada pengiriman barang antar pulau. Barang diduga merupakan barang eks perbatasan sebanyak 3 kontainer,” ungkap Azhar Selasa (2/4/2019).

Menindaklanjuti informasi tersebut, sambung Azhar, pada 11 maret 2019, petugas Bea Cukai melakukan pelacakan posisi kontainer yang dimaksud dan menemukannya di Pelabuhan Dwikora Pontianak. Kemudian tim berkoordinasi dengan pihak Temas selaku pemilik Petikemas serta Pelindo untuk melakukan pemeriksaan terkait isi ketiga kontainer tersebut.

"Setelah pihak Temasline dan pengurus kontainer datang serta dengan disaksikan oleh pihak Pelindo, tim melakukan pembukaan terhadap tiga kontainer dimaksud dan didapati isinya berupa ballprees [pakaian bekas] sebanyak kurang lebih 260 ball," terang Azhar.

Perkiraan nilai barang dalam tiga kontainer itu sekira Rp1,3 miliar. Hingga saat ini, Bea Cukai dan pihak lainnya masih melakukan pengembangan. Pengiriman ballpress ini melanggar peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 51/M-Dag/Per/7/2015 Tahun 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas. Isi aturan itu bahwa pakaian bekas impor berpotensi membahayakan kesehatan manusia sehingga tidak aman untuk dimanfaatkan dan digunakan oleh masyarakat.

“Pakaian bekas dilarang untuk diimpor ke Indonesia. Ini karena pakaian bekas asal impor berpotensi membahayakan kesehatan manusia sehingga tidak aman untuk dimanfaatkan dan digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Sumber : Okezone.com