Begini Analisis Jokowi tentang Prabowo di Debat Capres Keempat

Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) bersama Ketua KPU Arief Budiman sebelum mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Hafidz Mubarak A
31 Maret 2019 07:57 WIB Feni Freycinetia Fitriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-- Debat capres keempat sukses digelar di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019) malam. Calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo angkat bicara seusai bertemu Prabowo Subianto di acara Debat Capres Keempat.

Memakai jaket Tim Kampanye Nasional (TKN) warna hitam, Jokowi melewati lobi Ballroom Hotel Shangri-La menuju ruang transit.

"Mengalir aja mengalir, pertanyaan kita jawab apa adanya. Saya kira itu saja," katanya, Sabtu (30/3/2019).

Berdasarkan pantauan, beberapa pendukung paslon 01 terlihat berkerumun untuk berfoto bersama atau swafoto dengan capres petahana tersebut.

Ketika ditanya soal penguatan pertahanan di wilayah perbatasan Jokowi menjawab dengan tegas dan singkat.

"Tadi [saya] sudah cerita banyak mengenai angkatan laut di Riau. Kemudian angkatan udara di Biak. Saya rasa sudah jelas sekali," ujarnya sambil berjalan cepat.

Dalam debat capres keempat, Jokowi menilai calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto terlalu khawatir soal kedaulatan negara.

Pernyataan itu dibuat Jokowi untuk menanggapi keresahan Prabowo soal operasional pihak asing di sejumlah objek vital negara seperti pelabuhan laut dan bandar udara.

Prabowo mengungkapkan hal tersebut dapat membuat Indonesia kesulitan 'bernapas' mengingat pentingnya objek-objek tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Jokowi menyatakan bahwa Prabowo kelewat khawatir. Ia mengatakan urusan kedaulatan negara adalah hal mutlak dan tidak akan memberinya bahkan satu senti ke pihak luar.

Dalam hal keterlibatan pihak asing dalam operasional pelabuhan dan bandara, Jokowi meyakinkan Prabowo bahwa yang dikelola bukanlah objek vital milik Tentara Nasional Indonesia.

"Kita mungkin haru lebih hati-hati kalau berkaitan dengan radar udara atau maritim, tapi kalau untuk badara dan pelabuhan tak masalah, negara lain juga begitu," jelasnya.

Sumber : Bisnis.com