Advertisement
Bukan Kecurangan, Ini Penyebab Banyaknya Pemungutan Suara Ulang
Ketua Presidium Jadi, Mohammad Najib (kiri) dan Anggota Jadi, Guno Tri Tjahjoko, Selasa (7/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Proses Pemilu 2019 telah memasuki tahap penghitungan suara di tingkat provinsi. Sejumlah lembaga memberi catatan pada pelaksanaan pemilu kali ini, salah satunya Jaringan Demokrasi Indonesia (Jadi), yang menilai KPU memiliki banyak PR untuk pelaksanaan pemilu berikutnya.
Ketua Presidium Jadi, Mohammad Najib, mengatakan pemilu presiden dan legislatif yang dilaksanakan serentak membuat semakin banyak pula subjek yang berpotensi melakukan kesalahan.
Advertisement
Jadi merekomendasikan kepada KPU agar pemilu selanjutnya dilaksanakan terpisah, agar permasalahan yang dihadapi tidak sekompleks saat ini, yang bahkan sampai menimbulkan banyak korban jiwa.
Jadi memgeluarkan sejumlah catatan evaluasi Pemilu 2019. Pertama, banyak mahasiswa yang kehilangan hak pilih akibat kurangnya surat suara. Sebagai kota pelajar, Jogja memiliki banyak mahasiswa yang tersebar di beberapa titik. Sayangnya hal ini tidak diantisipasi dengan penambahan surat suara di titik yang memiliki banyak mahasiswa.
KPU hanya memberi surat suara tambahan sebanyak 2% di setiap TPS. KPU hanya mengimbau KPPS jika kekurangan surat suara, bisa dimintakan di TPS terdekat. Tapi pada prakteknya meminta surat suara tidak semudah itu.
“Pada akhirnya banyak mahasiswa yang kehilangan hak pilihnya, sekalipun sudah mengurus A5,” kata Najib.
Kedua, banyaknya pemungutan suara ulang (PSU) yang menunjukkan tidak sedikit petugas di lapangan tidak memahami prosedur teknis pemungutan dan penghitungan suara. Hal ini terjadi salah satunya karena peraturan yang mengharuskan petugas maksimal dua periode pemilihan. Selebihmya harus diganti baru.
Meski ini mengesankan pemerataan pada petugas, profesionalitas petugas jadi sulit divapai. Petugas baru kemungkinan besar sulit menyesuaikan, apalagi dengan banyaknya beban yang diemban.
PSU, selain membuat boros anggaran, menyebabkan penurunan jumlah pemilih. PSU juga kerap dilaksanakan pada hari kerja, sehingga banyak yang tidak bisa ikut.
Anggota Jadi, Guno Tri Tjahjoko, menambahkan dalam pemilu sekarang banyak bertebaran hasutan untuk tidak mempercayai KPU. Mereka adalah pihak-pihak yang tidak terima dengan hasil pemilu.
“Padahal sebenarnya sudah ada mekanisme untuk mengakomodasi pihak yang merasa dirugikan, yakni lewat MK, DKPP atau Bawaslu,” kata dia.
Dia mengimbau KPU dan Bawaslu untuk mementahkan wacana destruktif tersebut dengan menyampaikan informasi yang benar tentang proses pemilu kepada para peserta pemilu dan pendukungnya agar menahan diri menunggu hasil hitung manual, dan menghormati kerja-kerja KPU.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- 6.308 WNI Terjerat Scam di Kamboja, Ribuan Dipulangkan
- Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
- Pelecehan Berlangsung 8 Tahun, DPR Kejar Keadilan Korban Syekh AM
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
Advertisement
Pemkab Sleman Perkuat Tata Kelola Data, Gandeng Kemendagri
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Hampir 1.000 Kasus TB Ditemukan di DIY Awal 2026
- Mobil Sport Listrik Denza Z Siap Lawan Porsche 911
- Kylian Mbapp Bantah Skandal Cedera di Real Madrid
- Ancaman DarkSword Intai iPhone, Segera Update iOS Anda
- Veda Ega Pratama Jadi Sorotan Media Spanyol Jelang Moto3 Amerika
- Tol Jogja-Solo Diserbu 376 Ribu Kendaraan Saat Lebaran
- Meta dan Google Kena Sanksi, Bahaya Medsos Terbukti
Advertisement
Advertisement





