Sebelum Tembaki Jemaah Masjid, Brenton Tarrant Dengarkan Musik tentang Penjahat Perang Bosnia

Brenton Tarrant - Reuters
16 Maret 2019 06:27 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Brenton Tarrant, teroris Selandia Baru, mendengarkan lagu penjahat perang Bosnia sebelum dia memberondongkan pelor ke jemaah masjid di Christchurch, Jumat (15/3/2019).

Dia menyiarkan secara langsung kebrutalannya, ketika dia menyetir mobil dan menembaki jemaah masjid, lewat medsos. Sebagaimana dikutip The Guardian, saat mengemudi menuju masjid, Tarrant mendengarkan lagu puja-puji terhadap Radovan Karadzic, mantan politikus Bosnia yang dipenjara karena menjadi penjahat perang dan terlibat dalam genosida saat Perang Bosnia-Serbia pada pertengahan 1990-an.

Tarrant, pria 28 tahun asal Australia, menulisi bedilnya dengan beberapa nama. Senapan yang dia pakai untuk meneror dan membunuh bertuliskan dua nama: Ebba Akerlund dan Charles Martel. Akerlund adalan bocah perempuan 11tahun yang terbunuh pada 2017 ketika pria Uzbekistan, Rakhmat Akilov, menabrakkan truknya ke kerumunan di Stockholm, Swedia.

Adapun Charles Martel, adalah serdadu yang dipuja-puja penganut supremasi kulit putih setelah mengalahkan pasukan muslim dalam perang di Prancis pada 732 yang sering disebut sebagai Battle of Tours.

Brenton Tarrant, diduga menjadi pelaku penembakan di dua masjid di Selandia Baru. Di akun Twitter yang sudah dihapus, Tarrant sempat mengunggah beberapa foto menenteng bedil dan menautkan manifesto yang menjadi alasannya menebar teror. Dalam manifesto 74 halaman tersebut, Tarrant mengutip puisi Dylan Thomas. “Do not go gentle into that good night, and then moves onto a rant about white genocide”, yang artinya kurang lebih “Jangan memasuki malam yang baik ini dengan dengan lembut, kemudian mengumpatlah tentang genosida kulit putih.”

Tarrant menggarisbawahi alasan penyerangannya, yakni menebar ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap umat muslim. Dia berasal dari New South Wales dan memberi judul manifestonya dengan The Great Replacement.

Tarrant terinspirasi Darren Osborne, pria yang sudah divonis penjara seumur hidup karena menyerang Masjid Findbury Park di London, Inggris, Juni 2017, dan juga Andres Breivik, teroris yang membunuh puluhan orang di Norwegia, Juli 2011.

“Saya mendukung siapa saja yang menentang genosida etnis dan budaya. Luca Traini, Anders Breivik, Dylan Roof, Anton Lundin Pettersson, Darren Osbourne, dan lain-lain.”

Kalimat itu menyiratkan gagasannya tentang supremasi kulit putih dan sayap kanan.

Komisaris Polisi Selandia Baru Mike Bush mengatakan kebrutalan Tarrant telah menewaskan 49 korban tewas. Sebanyak 41 orang ditembak di Deans Avenue.

Mike Bush mengatakan beberapa korban meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit. Satu orang sudah ditahan dan diduga menjadi pelaku penembakan brutal saat umam muslim menunaikan Salat Jumat tersebut. Tarrant menjalani persidangan Sabtu (16/3/2019) ini atas tuduhan pembunuhan. Polisi Selandia Baru sudah menahan empat orang: tiga laki-laki dan satu perempuan.

“Satu orang tidak terlibat dalam penyerangan, dan dua orang lainya masih diselidiki,” kata Bush dikutip dari The Guardian.

Penembakan terjadi di dua masjid di Christchurch. Salah satu masjid yang menjadi lokasi serangan, Al Noor, selama ini dikenal sebagai tempat yang damai dan tenang.

“Ketika khotbah dimulai, Anda bahkan bisa mendengar bunyi jarum yang dijatuhkan di lantai,” ujar satu penduduk setempat, Ramzan.

Penembakan berlangsung sekitar pukul 13.40 waktu setempat seusai salat Jumat.

“Pria itu mulai menyerang di ruang utama. Saya berada di ruang sebelah, jadi saya tidak melihat siapa yang menembak. Saya hanya melihat orang-orang berlarian menuju ruangan saya. Mereka bersimbah darah dan beberapa orang ambruk,” ucap dia.

“Saat itu, saya sadar telah terjadi sesuatu yang amat serius.”