Pilkades Klaten: Mengira Sekdes Ponggok Ditangkap Polisi, Keluarga Menangis Histeris

Sekretaris Des Ponggok Yani Setiadi - JIBI/Solopos/Ponco Suseno
14 Maret 2019 20:12 WIB Ponco Suseno News Share :

Harianjogja.com, KLATEN–Kericuhan seusai penghitungan suara dalam Pilkades Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, melahirkan desas-desus berkaitan dengan perangkat desa.

Sekretaris Desa (Sekdes) Ponggok, Yani Setiadi, sempat dikabarkan diciduk polisi, Rabu (13/3/2019) sore. Pria kelahiran 6 Juli 1966 itu pun dibawa polisi dari rumahnya menuju rumah salah satu calon kepala desa (cakades) agar situasi di Ponggok selalu kondusif.

Kericuhan sempat terjadi di tempat pemungutan suara (TPS) karena ada pendukung salah satu cakades menendang kursi. Pascapenghitungan suara, juga terdengar suara pendukung cakades yang menderu-derukan sepeda motor. Pendukung yang mbleyer-mbleyer sepeda motor merayakan kemenangan itu rupanya berada di kawasan Nganjat. Kebetulan Desa Nganjat dengan Ponggok saling bersebelahan.

Aparat polisi sempat mendatangi Yani di rumahnya, di Jeblegan RT 002/RW 003, Ponggok. Di lokasi ini, beberapa anggota polisi bersenjata lengkap mengajak  Yani ke rumah salah satu cakades di Ponggok, yakni Prasmaji Andi Pitono.

Lantaran ketidaktahuan, anggota keluarganya mengira Yani diciduk.

Wiwik Sri Muryanti, istri Yani, dan Galuh, salah seorang anak Yani, sempat menangis histeris.

“Saya diajak polisi ke rumah Prasmaji Andi Pitono [berjarak sekitar 100 meter dari rumah Yani]. Di situ, sudah berkerumun massa. Saya disuruh menenangkan sekaligus mengingatkan massa agar menjaga iklim kodusivitas di Ponggok. Saat itu, saya masih menjabat sebagai penjabat (Pj) kades. Sehingga saya harus mengajak semua warga untuk tetap kondusif. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB dan berlangsung sekitar 15 menit,” kata Yani Setiadi, ditemui wartawan, di kantornya, Kamis (14/3/2019).

Yani Setiadi mengatakan peristiwa itu memunculkan spekulasi di kalangan warga dan mitra kerjanya. Tak heran, setelah itu muncul isu tentang penangkapan Yani Setiadi.

“Saat saya di kantor kecamatan tadi [Polanharjo], banyak yang kaget setelah mengetahui saya. Ternyata saya juga baru tahu kalau saya diisukan ditahan polisi di Mapolres Klaten. Kenyataannya, informasi itu tidak benar. Saya hanya disuruh menenangkan massa. Selanjutnya, saya bekerja seperti biasa. Soal ada anggota keluarga saya yang menangis karena kaget saja. Waktu itu, ada polisi bersenjata lengkap. Situasinya seperti penangkapan seorang terduga terorisme,” katanya.

Berdasarkan penghitungan suara dari panitia pilkades di Ponggok, cakades petahana, yakni Junaedi Mulyono memenangi pilkades dengan memperoleh 585 suara. Adapun cakades lainnya, seperti Suharta memperoleh 204 suara, Hartanto memperoleh 10 suara, Prasmaji Andi Pitono 524 suara.

“Yang kami tahu, kondisi pilkades di Ponggok tetap kondusif. Penghitungan suara juga berjalan lancar,” kata Ketua Panitia Pilkades Kabupaten Klaten, Ronny Roekminto.

Sumber : JIBI/Solopos