FEATURE: Geger Sepehi dan Upaya Mengembalikan Naskah Kraton

Carik KHP Widya Budaya, KRT Widyacandra Ismayaningrat menunjukkan naskah masa Sro Sultan HB V, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
04 Maret 2019 20:03 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Geger Sepehi pada 1812 membuat naskah-naskah dari Perpustakaan Kraton hilang. Jejak-jejak peristiwanya masih diingat oleh sebagian warga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Salsabila Annisa Azmi.

Pada 17 Juni 1812 malam, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dikepung ribuan prajurit berparas orang-orang Gurka, India bagian pegunungan Himalaya dan Nepal. Mereka berperang untuk Inggris, membawa senapan dan laras panjang.

Peristiwa itu sering disebut dengan Geger Sepehi, terjadi di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II (1792-1810; 1811-1812; 1826-1828). Kata Sepehi berasal dari pasukan Sepoy yang dipekerjakan oleh Inggris untuk menyerang Kraton.

Kejadian itu dilatarbelakangi pemberontakan Sri Sultan terhadap serangkaian kebijakan Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur di Jawa. Pemberontakan itu dibalas pengiriman bala tentara Inggris. Dalam peristiwa itu Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kalah, diikuti kerugian terampasnya naskah-naskah dari Perpustakaan Kraton.

Menurut Carik KHP Widya Budaya, KRT Rinta Iswara, setidaknya ada 17.000 prajurit dan ratusan warga bersenjata yang berjaga di kampung-kampung sekitar Kraton untuk mempertahankan wilayah Jogja saat Geger Sepehi terjadi.

Tiga meriam yang tersisa di depan Museum Batik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi saksi bisu penyerbuan itu.  Saat Geger Sepehi pecah di Bumi Mataram hingga 20 Juni 1812 malam, ribuan meriam disusun menjadi dua baris di pintu utama menuju Kraton.

Kraton memiliki empat benteng sebagai bagian sistem pertahanan, satu bentengnya memiliki 20 hingga 30 meriam.

Meriam-meriam itulah yang membalas meriam milik Inggris yang tak berhenti menyalak hingga menjebol sisi timur laut benteng Kraton.

“Dalam Babad Sepehi disebutkan bahwa bagian benteng itu tidak kuat. Serangan tidak berjalan terlalu lama, hanya beberapa jam saja sudut benteng ini runtuh. Serangan ini kemudian disusul dengan masuknya pasukan ke Plengkung Nirbaya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada bangsawan Kraton yang [berkhianat] membantu Inggris dengan membuka gerbang plengkung itu,” kata Rinta.

Seluruh pasukan Inggris merangsek masuk ke seluruh penjuru Kraton. Peperangan penuh darah terjadi di seluruh sudut. Sri Sultan Hamengku Buwono II akhirnya menyerah. Sesuai hukum perang saat itu, Inggris sebagai pemenang perang berhak merampas apa pun kekayaan yang ditaklukkan. Maka beberapa pasukan Inggris menyelinap ke kompeks Kedhaton yang berada di belakang Gedung Prabayeksa. Mereka mendobrak Perpustakaan Kraton dan merampas seluruh naskah yang ada di dalamnya.

Sebagian Dilelang

“Naskah-naskah itu diukir dengan tinta emas asli, kertasnya beberapa ada yang menggunakan kertas buatan Eropa yang tebal, bukan kertas lokal dengan campuran serat ketela yang gampang dimakan rayap. Jadi mungkin itu yang membuat mereka tertarik merampas naskah-naskah Kraton, karena tintanya mahal,” kata Carik KHP Widya Budaya, KRT Widyacandra Ismayaningrat.

Rinta menambahkan penjelasan Candra. Konon pasukan Inggris membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memindahkan seluruh naskah Kraton ke loji atau beteng buatan Belanda. Tepatnya loji tempat tentara Inggris beristirahat.

Rinta memperkirakan jumlahnya lebih dari ratusan naskah. Sebab ada lebih dari gerobak yang digunakan untuk mengangkut naskah-naskah rampasan. Gerobak tersebut berukuran dua kali empat meter.

Menurut pengetahuan Candra, di tengah perjalanan memindahkan naskah-naskah rampasan, pasukan Inggris berhenti di Titik Nol Kilometer. Mereka melelang beberapa naskah yang dianggap tidak memiliki nilai atau isinya tidak menarik. “Naskah yang bagi mereka tidak menarik itu dilelang dan dijual ke masyarakat umum. Itu sebabnya banyak naskah-naskah Jawa kuno banyak ditemukan di masyarakat umum, itu naskah yang dibeli oleh nenek moyang mereka dan diwariskan ke mereka,” kata Candra.

Beberapa naskah dikabarkan telah jatuh tenggelam ke dasar perairan Afrika Selatan saat perjalanan kapal Inggris kembali ke London. Naskah yang sampai ke London saat ini disimpan sebagai benda bernilai sejarah. Namun warga di Inggris telah mengetahui bahwa naskah-naskah tersebut milik Indonesia. Beberapa naskah itu yang akan dikembalikan dalam bentuk digital ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Kamis, 7 Maret 2019 untuk dipelajari nilai-nilai keilmuannya.

Tersisa Dua Naskah

Di tengah hiruk pikuk pasukan Inggris yang sibuk menjelajahi setiap sudut Perpustakaan Kraton, ada satu naskah yang tertinggal. Candra mengatakan pasukan Inggris tidak membawa naskah berisi huruf Arab yang tidak lain adalah Alquran itu. “Mungkin karena tulisannya Arab, mereka jadi enggak tertarik, naskah itu ditinggal begitu saja, satu saja di perpustakaan,” kata Candra.

Selain Alquran, naskah yang selamat dari tangan-tangan pasukan Inggris adalah Serat Suryorojo. Naskah itu tersimpan rapi di kamar Sri Sultan Hamengku Buwono II. Itu berisi tembang jawa yang memuat wejangan-wejangan seorang raja kepada putra mahkota penerusnya. Wejangan tersebut antara lain pesan-pesan untuk memimpin dengan baik dan menjadi sosok raja yang diteladani rakyatnya. Serat Suryorojo tak boleh dibaca sembarang orang, hanya raja atau putra mahkota yang dapat membacanya.

Candra berasumsi itulah sebabnya naskah tersebut tersimpan di kamar Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Kini kedua naskah disimpan di Gedung Prabayeksa, dalam rak kaca dan dibungkus dengan kain kelambu berwarna kuning.

“Keadaan naskah masih sangat baik, bahkan tinta emasnya masih jelas terlihat. Tebalnya sekitar 15 sentimeter. Kertasnya buatan Eropa yang ketika diterawang terlihat watermark-nya,” kata Candra.

Setiap acara siraman pusaka, kedua naskah dibersihkan dengan cara disikat lembut dan diangin-anginkan. Tak seperti naskah lainnya yang disimpan di Widya Budaya, kedua naskah belum sampai pada tahap pelapisan tisu jepang. Jenis kertas kedua naskah itu lebih kuat daripada naskah lain yang terbuat dari kertas serat ketela yang cepat dimakan rayap.

“Lalu bagaimana nasib naskah-naskah yang dirampas Inggris? Sebenarnya semua naskah yang dirampas itu telah ada konsepnya. Konsep itu seperti reng-rengan atau garis besar isinya. Untungnya, seluruh konsep naskah yang dirampas ada di Kraton. Jadi meski hilang, kami bisa tetap tahu kurang lebih isi naskah-naskah itu seperti apa,” kata Candra.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III hingga IV, konsep-konsep itu diabaikan. Sebab, politik bergejolak. Beberapa perang seperti Geger Diponegoro tak henti menggempur Kraton. Akhirnya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V, konsep-konsep itu diteliti kebenarannya oleh sang raja dan diterjemahkan kembali ke dalam naskah-naskah baru. Saat ini naskah-naskah tersebut tersimpan di dalam KHP Widya Budaya.

Naskah-naskah itu mayoritas terbuat dari kertas lokal yang menggunakan serat ketela, sehingga perlu perawatan lebih intensif seperti pelapisan tisu jepang agar terhindar dari gigitan rayap. Kraton juga telah bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah untuk pemeriksaan kondisi naskah-naskah yang tersimpan di Widya Budaya. “Beberapa naskah yang ada di Inggris akan dikembalikan ke Kraton pada 7 Maret 2019. Dari Belanda juga mau dikembalikan, dengan syarat perpustakaannya mengacu standar sana [Belanda]. Maka kami rencana mengacu Perpusnas RI,” kata Candra.