FEATURE: Apartemen di DIY Laris Manis Diburu Anak Kuliahan

Adam Krisna merapikan unit apartemennya yang terletak di lantai I, Student Castle Apartement, Sleman, Rabu (24/10/2018). - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
26 Oktober 2018 11:25 WIB Rheisnayu Cyntara News Share :

Harianjogja.com, JOGJAAnak  kuliahan di DIY banyak yang tertarik tinggal di apartemen. Pusat-pusat kongko kini dilengkapi gedung-gedung tinggi. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Rheisnayu Cyntara.

Saat menapaki jenjang pendidikan tinggi, Adam Krisna mulanya berusaha mencari tempat indekos di sekitar kampusnya, Universitas Teknologi Yogyakarta. Bermacam-macam pondokan mahasiswa tersebut sudah ia datangi satu demi satu. Mulai dari yang menyediakan fasilitas kamar mandi dalam, kamar mandi luar, AC, hingga wifi. Namun belum ada satu pun yang menarik hatinya.

Kebanyakan rumah indekos menawarkan fasilitas standar. Ia harus merogoh kocek lagi untuk mendapatkan fasilitas tambahan yang dia inginkan. Walhasil perburuan pun ia alihkan ke rumah kontrakan. “Eh terus Ibu saya telepon. Kenapa enggak ambil apartemen aja? Bayar di awal terus enggak usah repot usung-usung. Wah, tentu tertarik dong,” katanya kepada Harian Jogja, Rabu (24/10/2018).

Adam pun sepakat dengan usulan orang tuanya. Ketika kawan-kawannya sibuk mengangkut barang-barangnya untuk ditempatkan di pondokan, Adam bisa berleha-leha. Dengan membeli apartemen, fasilitas pun sudah lengkap di dalamnya. Mulai dari kasur, lemari, meja, hingga kitchen set. Dia hanya perlu membawa koper berisi baju dan beberapa perlengkapan penting saja. “Kenapa enggak beli rumah saja? Jujur enggak tahu sih kenapa ortu malah milih apartemen. Tapi mungkin karena akses dan fasilitasnya lengkap,” ujar mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi semester kelima ini.

Seluruh pemilik maupun penyewa apartemen bisa mengakses kolam renang di lantai dasar tanpa dibebani tambahan biaya. Bahkan ada fasilitas gim, minimarket, dan kafe. Adam lantas menunjukkan area rooftop Student Castle Apartement yang dilengkapi dengan kafe. Kursi-kursi bulat dengan peneduh atap diatur berjejer rapi di atap apartemen dengan pemandangan luas ke arah Babarsari dan sekitarnya. Area di lantai kesembilan inilah yang menurut Adam menjadi tempat favorit mahasiswa untuk belajar bersama atau sekadar nongkrong bersama kawan-kawannya. “Saya suka lihat sunset di sini,” ujarnya sambil menunjukkan sudut favoritnya.

Sambil kembali turun ke lantai pertama, Adam mengaku masih sering pulang ke rumah orang tuanya di bilangan Janti yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari apartemennya, minimal satu pekan sekali. Tiap Sabtu, ia menyempatkan diri pulang, menengok keadaan rumah. Orang tuanya, terutama ayahnya, juga terkadang datang untuk menginap di apartemen saat tidak sedang berdinas di luar kota. Di luar itu, ia jarang menghabiskan waktu di luar. Sebab kebutuhannya semua sudah dapat dipenuhi di apartemen. “Laiknya kompleks,” kata Adam. Pakaian kotor yang butuh dicuci, tinggal dimasukkan ke laundry yang juga sudah tersedia di apartemen. Unit apartemennya  yang merupakan tipe family dengan dua kamar tidur dan bisa ditempati maksimal empat orang juga bisa digunakan kawan-kawannya jika sewaktu-waktu butuh mengerjakan tugas bersama.

Lantas, berapa sebenarnya uang yang harus disiapkan untuk memiliki unit apartemen ini? Adam menyebut angka yang tidak kecil, sekitar Rp500 juta untuk membayar apartemen, furnitur, dan biaya listrik, air serta  AC untuk tiga bulan pertama. Selanjutnya setiap tiga bulan ada biaya perawatan. Namun Adam menyebut, setelah tak lagi ia tempati, apartemen ini bisa disewakan. “Bisa lah jadi investasi buat ke depan. Kalau tipe family kaya gini, sekitar Rp5 juta sebulan sewanya,” kata dia.

Diminati Mahasiswa

Student Castle mulanya ditawarkan untuk para mahasiswa, tetapi bagaimana dengan apartemen lain yang tidak menyasar mahasiswa sebagai segmen utamanya? Project Director PT Saraswati Indoland Development yang menjadi penanggung jawab apartemen Mataram City, Mita Ratri, mengaku cukup terkejut dengan profil pembeli maupun penyewa unit apartemen di Mataram City. Ditemui di tengah-tengah jadwalnya yang padat, Mita menjelaskan 70% unit apartemennya dibeli oleh mahasiswa. Baik mahasiswa S1, S2 ataupun S3 yang rata-rata berasal dari luar Jogja. Tapi ia tak menampik ada pula beberapa yang berasal dari Kota Gudeg ini. “Rata-rata karena alasan mandiri. Orang tuanya membelikan unit apartemen agar mereka bisa berlatih hidup mandiri,” katanya.

Adapun 30% sisanya, dibeli untuk investasi, entah dijual atau disewakan kembali. Menariknya, 90% dari penyewanya juga mahasiswa. Sisanya adalah keluarga atau ekspatriat yang tengah bekerja di Jogja. Mita memperkirakan perubahan tren dari pondokan atau kontrakan ke apartemen ini juga dipengaruhi gaya hidup yang berubah. Ada faktor gengsi yang dipertaruhkan oleh para mahasiswa jika tinggal di apartemen. “Dengan ukuran 34 meter persegi, rata-rata sewanya di sini Rp5 juta. Cukup mahal sebenarnya untuk ukuran mahasiswa,” katanya.

Namun di sisi lain, ada pertimbangan fasilitas yang didapatkan jika memiliki unit apartemen. Di Mataram City misalnya, Mita menyebut tempat parkir, kolam renang, gim, bahkan coworking space di lantai dasar yang bisa diakses dengan bebas dan gratis. Faktor keamanan juga jadi keunggulan lainnya. Seluruh pemilik apartemen hanya bisa mengakses basement parking, ground floor, lobby, dan lantai unit apartemennya sendiri. Ada CCTV dan sekuriti yang berjaga di basement dan lobby selama 24 jam. “Dengan 19 lantai dan 293 unit apartemen, sekuriti kami pun hafal juga siapa-siapa yang tinggal di apartemen. Jadi lebih aman,” imbuh Mita.

Ketua DPR REI DIY Rama Adyaksa Pradipta menyebut ada perubahan gaya hidup masyarakat. Mayoritas anak muda kini tak terlalu berminat dengan rumah berhalaman besar karena alasan kepraktisan. Mereka lebih memilih rumah dengan lahan seadanya tetapi fasilitasnya komplet, seperti apartemen. Apalagi kini para developer sudah kesulitan membangun rumah dan menjualnya dengan harga di bawah Rp500 juta. Alasannya karena harga tanah makin mahal. Padahal menurut Rama, harga yang masih masuk terjangkau di kantong masyarakat Jogja sekitar Rp300 hingga Rp400 juta untuk rumah tipe sederhana.

“Harga itu masih bisa dijangkau untuk para pegawai, guru, juga keluarga muda yang membutuhkan hunian,” kata dia.

Adapun harga rumah di atas Rp500 juta harusnya diperuntukkan bagi segmen masyarakat menengah ke atas.

Menurut Rama, hingga saat ini tercatat sudah ada 18 tower hunian vertikal di Jogja. Pengembangnya kebanyakan pengusaha skala nasional yang memasarkan tower untuk investasi. Konsep yang mereka bangun merupakan apartemen model studio yang diperuntukkan bagi para pelajar atau mahasiswa.