FEATURE: Mesin Butut Dipaksa Urusi 600 Ton Sampah Sehari Semalam

Sebagian alat berat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan tidak berfungsi dan mangkrak, Kamis (13/12/2018). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
14 Desember 2018 09:25 WIB Ujang Hasanudin News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Alat berat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, dipaksa beroperasi melampaui batas ideal. Akibatnya, mesin sering ngadat dan pembuangan sampah dari Kota Jogja, Sleman, dan Bantul, terganggu. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Ujang Hasanudin.

Antrean sebenarnya adalah ihwal jamak di jalan masuk TPST Piyungan. Saban hari, deretan truk yang menunggu menurunkan sampah bisa sepanjang 100 meter.

Namun, antrean selama dua hari dari Minggu sampai Senin (9-10/12/2018) lalu di luar kelaziman. Truk-truk mengular sepanjang sekitar dua kilometer di jalan masuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Pemandangan serupa juga terlihat pada Agustus lalu. Gara-garanya alat berat yang menata sampah rewel.

Selasa (12/12/2018) siang lalu, antrean panjang sudah hilang, tetapi jembatan timbang di pintu masuk TPST Piyungan tidak difungsikan. Tidak ada pembayaran retribusi, tak ada pencatatan volume sampah yang masuk. Semua truk bebas keluar masuk untuk menurunkan sampah.

“Sejak terjadi antrean, jembatan timbang tidak difungsikan supaya tidak ada truk yang menunggu,” kata satu petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPST Piyungan. Tak cuma itu, jembatan timbang juga dipenuhi timbunan sampah, Kamis (13/12/2018).

Ada dua alat berat yang beroperasi di TPST Piyungan, yakni satu buldoser dan satu ekskavator. Sementara beberapa alat berat lainnya rusak. Tiga ekskavator dan satu buldoser diparkir di bengkel samping Kantor UPT TPST Piyungan. Roda-rodanya ditumbuhi rumput, beberapa bagian bodi sudah karatan.

Ekskavator dan buldoser yang meratakan dan memadatkan sampah di TPST Piyungan Selasa lalu adalah alat berat yang disewa selama alat berat operasional sehari-hari rusak. Harga sewa satu buldoser Rp900.000 untuk sehari semalam, belum termasuk biaya operator. Sehari kemudian, dua alat berat milik TPST Piyungan kembali bisa dipakai.

Sarjani, Kepala Seksi Pemrosesan Sampah Balai Pengelolaan Infrastruktur Sanitasi dan Air Minum Perkotaan (PISAMP) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Manusia (DPUP-ESDP) DIY yang sekaligus penanggung jawab TPST Piyungan, mengakui adanya kerusakan alat berat selama tiga hari lalu.

TPST sempat menyewa buldoser selama sehari, tetapi tanpa operator. Sebab operator yang dibawa perusahaan yang menyewakan alat berat ternyata tidak terbiasa menangani sampah sampai ratusan ton.

Akhirnya operator diambil alih oleh petugas yang sudah terbiasa bekerja di TPST Piyungan. Enam orang selama ini bertugas mendorong sampah dengan buldoser sehari semalam. Keenamnya bekerja bergantian setiap dua jam.

Selain enam operator, ada lima teknisi di bengkel, enam petugas bagian timbangan, empat orang di bagian kolam limbah, dan delapan orang di bagian operasional. Total ada 34 personel yang bekerja siang malam di TPST Piyungan dalam mengelola sampah. Mereka sebagian besar dipekerjakan oleh pihak ketiga melalui sistem alih daya.

Mesin Lama

Marjani mengklaim semua teknisi di bengkel adalah ahli mesin. Namun, mesin alat berat sudah tua sehingga kerap rewel. “Sebenarnya kami memiliki delapan alat berat,” kata Sarjani.

Namun, hanya tiga yang berfungsi, yakni satu ekskavator dan dua buldoser. Dari dua buldoser, satu yang baru dibeli pada 2016 lalu. Sementara, satu buldoser lain dan satu ekskavator dibeli pada 1997 lalu.  Padahal idealnya alat berat hanya mampu beroperasi selama 12 tahun, namun alat berat di TPST Piyungan dipaksa bekerja sampai lebih dari 20 tahun.

“Jadi yang dipakai beroperasi 24 jam itu hanya satu buldoser jenis D8 yang baru, yang satunya dipakai tetapi sering rusak,” ujar dia.

Mesin butut itu beroperasi siang malam mengolah sampah yang dalam sehari mencapai sekitar 600 ton. Satu alat berat harus mampu mendorong 10-15 ton sampah. Kondisi tersebut yang menyebabkan tidak semua pemilik alat berat mau menyewakan ketika ada kerusakan alat milik Balai PISAMP.

“Kami tidak tahu harus bagaimana, karena memang peralatan di TPST Piyungan terbatas,” tutur Sarjani.

Menurut dia, selama belum mampu mengelola sampah melalui metode sanitary landfill, alat berat bakal terus dibutuhkan untuk mendorong dan meratakan sampah yang masuk.

Balai PISAMP sudah menyampaikan kondisi alat berat butut sejak bertahun-tahun. Namun karena efisiensi anggaran, pengadaan alat berat belum menjadi perioritas.

Persoalan yang terjadi saat ini disebabkan TPST Piyungan sudah kelebihan beban sejak 2012 lalu. TPST Piyungan seluas 12,5 hektare hanya mampu menampung 2,4 juta meter kubik sampah. Namun, saat ini sampah yang tertampung bisa empat kali lipat.

Sejauh ini, Balai PISAMP DIY mengakalinya dengan cara menutup sampah yang datang menggunakan tanah. Meski tanah 4.000 kubik didatangkan saban hari, sampah tak juga tertutup.

“Karena belum selesai ditutup sampah sudah datang lagi, dan itu tidak pernah berhenti siang malam. Lha mau bagaimana?” ucap Sarjani.

Akibatnya, sampah berceceran ke jalan. Bahkan dermaga yang baru dibangun tahun ini sudah tidak terlihat karena tertutup gunungan sampah. Pelebaran lahan tidak memungkinkan karena sekitar TPST Piyungan adalah perbukitan.

Meski situasi TPST Piyungan terjepit keterbatasan sumber daya dan banyaknya sampah yang harus dikelola, Sarjani menampik pengelolaan TPST Piyungan oleh Balai PISAMP DIY lebih buruk dibandingkan dengan ketika dikelola Kartamantul (gabungan Pemerintah Kota Jogja serta Pemerintah Kabupaten Sleman dan Bantul).

“Persoalannya adalah kelebihan beban dan belum sanitary landfill.”

Sanitary landfill adalah membuang dan menumpuk sampah di cekungan, dengan cara memadatkan dan menutupnya dengan tanah. Metode ini dapat menghilangkan polusi udara. Cara ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional.

Sarjani yang sudah tiga tahun bertanggung jawab atas TPST Piyungan tidak menutup mata terkait dengan persoalan-persoalan tersebut.

“Tetapi saya tidak punya kapasitas untuk memutuskan.”

Sarjani mendengar kabar tahun depan ada rencana pengelolaan tempat sampah raksasa itu akan diambil alih oleh Badan Lingkungan Hidup DIY, sehingga dia belum mengetahui gambaran pengelolaan TPST Piyungan selanjutnya.

Sederhana

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala DPUP-ESDM DIY Muhammad Mansyur mengakui persoalan pengelolaan sampah di TPST Piyungan. Saat ini pengelolaan sampah di lokasi tersebut masih menggunakan metode open dumping atau controled landfill.

Open dumping adalah sistem pembuangan paling simpel. Sampah dibuang begitu saja tanpa diolah. Adapun controlled landfill adalah sistem pembuangan yang lebih maju dibandingkan dengan open dumping tetapi kurang canggih ketimbang sanitary landfill. Pada metode ini, sampah yang datang setiap hari diratakan dan dipadatkan dengan alat berat. Sampah dipadatkan menjadi sebuah sel, kemudian ditimbun dengan tanah tiap beberapa hari untuk mengurangi bau, lalat, dan keluarnya gas metan.

Mansyur mengatakan sanitary landfill tidak akan bertahan lama di TPST Piyungan karena setiap hari sampah yang masuk hampir 600 ton, meningkat dari tahun lalu yang hanya sekitar 450-500 ton.

Saat ini, DPUP-ESDM DIY baru menjajaki sistem pengelolaan dengan menggandeng pihak ketiga agar sampah bisa diolah tidak hanya untuk pupuk kompos, tetapi bisa menjadi penghasil listrik. “Tetapi masih penjajakan KPBU [kerja sama pemerintah dan badan usaha],” kata Mansyur.

Mansyur mengharapkan TPST Piyungan tidak dijadikan pusat pembuangan semua sampah dari Kota Jogja, Sleman, dan Bantul. Menurut dia, perlu kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah sendiri agar yang dibuang ke tempat pembuangan akhir adalah residunya. Sejauh ini ia belum melihat ada upaya pengelolaan sampah dari rumah tangga.

“Buktinya volume sampah di TPST Piyungan bertambah terus setiap tahun.”