DEBAT PILPRES: Saling Serang Para Calon, Antara Tangkisan Jokowi & Jogetan Prabowo

Pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno mengikuti debat pertama Pilpres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan
17 Januari 2019 22:50 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto serta Sandiaga Uno saling serang dalam sesi tanya jawab. Materi-materi pertanyaan dalam sesi ini murni berasal dari pasangan calon presiden dan wakil presiden, tanpa ada kisi-kisi seperti di sesi pemaparan visi misi.

Jokowi mendapat kesempatan pertama untuk bertanya kepada lawan politiknya. Pertanyaannya adalah soal pemberdayaan perempuan. Jokowi mempertanyakan inkonsistensi Partai Gerindra yang mayoritas pengurus terasnya adalah laki-laki, padahal Prabowo menyebutkan pemberdayaan perempuan dalam visi misinya.

Prabowo cukup kalem menanggapi pertanyaan ini. Dia bahkan mengakui kelemahan partainya sebagai partai baru yang baru berusia satu dekad.

“Tetapi kami bertekad memberdayakan perempuan. Pendukung kami sekarang adalah emak-emak,” ujar Prabowo.

Kemudian, giliran kubu Prabowo yang diberi kesempatan bertanya. Sandiaga Uno kemudian mempertanyakan tumpang tindih peraturan dan kepastian hukum, yang menurut dia, masih buruk di era kepemimpinan Jokowi.

Jawaban Jokowi adalah pemaparan apa yang sudah dia lakukan dalam empat setengah tahun belakangan

“Saya akan revisi Undang-undang yang menghambat berkembangnya UKM. Kami akan revisi banyak undang-undang yang tidak pro investasi. Perbaiki aparat yang tidak mengayomi rakyat.”

Kemudian, Ma’ruf Amin memberikan tambahan.

“Kami akan melanjutkan reformasi di bidang hukum, salah satunya penataan regulasi. Menghilangkan yang tumpang tindih dan memuat peraturan yang memudahkan rakyat dan akan memberikan ruang terhadap investasi dan pengembangan UKM.”

Prabowo tidak puas dengan jawaban itu. Dia melontarkan serangan dengan amunisi yang selalu dia ulang di debat pilpres ronde pertama, yakni anggapan bahwa penegakan hukum di era Jokowi tebang pilih.

“Apa yang bisa dilakukan segera karena bapak sudah memimpin empat tahun tetapi terjadi kesan penegakan hukum hanya untuk orang kuat, orang yang punya koneksi. Bagaimana tanggapan bapak kalu jabatan penting diserahkan ke kader parpol.”

Jokowi menukasnya.

“Saya kira kita tidak boleh mendiskriminasi, jabatan bukan bukannya tidak boleh diisi orang partai.”

Jika Prabowo kerap mengulang kritikannya tentang penegakan hukum yang dia anggap tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, Jokowi kembali mengulang prinsipnya dalam membentuk birokrasi.

“Yang penting sistem merit, proses rekrutmen yang transparan, mengacu pada kompetensi dan integritas. Banyak aparat hukum yang berasal dari partai kok, contohnya Baharuddin Lopa [mantan Jaksa Agung[, dia dari PPP, memimpin Kejaksaan sangat baik.”

Cara Berkelit

Di sesi kedua tanya jawab, giliran Prabowo yang mendapat kesempatan bertanya. Prabowo menyoroti ketidakkompakan menteri-menteri Jokowi, seperti dalam soal impor beras.

“Bagaimana Anda menjamin pejabat tidak memiliki kepentingan pribadi atau kelompok atau bisnis, terutama dalam impor beras, maupun kebutuhan pokok lain yang merugikan petani.”

Jokowi tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, tetapi malah menyindir stigma yang selama ini melekat dalam diri Prabowo.

“Saya tidak memiliki beban masa lalu sehingga lebih enak dalam bekerja,” kata dia.

Jokowi kemudian menjawab pertanyaan dengan jawaban yang kerap dia pakai untuk menangkis serangan lawannya.

“Kalau memang ada bukti kepentingan pribadi atau kelompok, laporkan saja ke kejaksaan ke polisi. Tetapi yang jelas kami ingin semuanya mudah. Seperti dengan online.”

Dia mencontohkan perizinan yang semula bertahun-tahun dipangkas menjadi hanya dalam hitungan hari. “Ada pengawasan dan manajemen. Kalau bapak punya bukti ada kepentingan, silakan laporkan.”

Model berkelit seperti ini juga disampaikan Jokowi saat menjawab kritikan Sandiaga Uno di sesi sebelumnya, sesi tanya jawab dari panelis yang kisi-kisinya sudah diketahui kedua pasangan. Saat itu, Sandi menceritakan nelayan yang dikriminalisasi karena mengambil pasir di hutan bakau. Menurut Sandi, persekusi dan kriminalisasi yang menyasar orang kecil jarang diselesaikan dan Jokowi menjawabnya dengan kata-kata, “Pak Sandi nuduh-nuduh lagi. Kalai ada persekusi laporkan. Saya akan tindak tegas.”

Prabowo kembali mencecar Jokowi dengan pertanyaan tentang menteri yang tidak kompak.

“Yang membingungkan kami, di antara menteri bapak berseberangan.”

Jokowi menimpalinya dengan menyatakan dia mempersilakan menterinya berdebat.

“Tetapi kalau sudah diputuskan, harus dijalankan. Kalau sama semuanya, malah tidak ada saling kontrol.”

Prabowo Joget

Sesi tanya jawab ketiga lebih seru. Jokowi yang mendapat kesempatan bertanya menyinggung ucapan Prabowo yang sempat menyatakan korupsi di Indonesia layaknya kanker stadium empat.

“Saya tidak setuju sebetulnya. Tetapi, menurut data ICW, partai yang bapak pimpin paling banyak mencalonkan mantan koruptor.”

Dan Prabowo menukas dengan tegas, tetapi tak menjawab pertanyaan.

“Saya belum dapat laporannya. Saya kira laporan ICW sangat subjektif.”

Kemudian dia meniru cara Jokowi menepis serangan.

“Kalau ada bukti, laporkan saja pada polisi. Saya jamin Parrtai Gerindra melawan korupsi. Kalau ada Partai Gerindra yang korupsi, saya akan masukkan sendiri ke penjara.”

Moderator memberikan Jokowi kesempatan menanggapi pertanyaan itu.

“Bapak kan ketua umum, bisa tanda tangan keputusan siapa yang dicalonkan jadi anggota legislatif.”

Prabowo hendak memotongnya.
“Saya boleh jawab?”

Tetapi moderator Ira Koesno mencegahnya karena itu adalah kesempatan Jokowi untuk menanggapi.

“Tidak boleh.”

Prabowo kemudian tersenyum dan berjoget. Hadirin riuh sebelum moderator bisa menenangkannya.

“Saya tidak menuduh partai bapak korupsi, tetapi mantan koruptor dicalonkan.”

Prabowo menjawabnya dengan lugas, sekaligus menutup sesi tanya jawan antarcalon yang cukup seru.

“Ini kan demokrasi, kita umumkan saja [mantan koruptor yang menjadi calon], kalau rakyat enggak mau pilih ya enggak akan dipilih.”

Gelak tawa sempat membahana.

“Mungkin korupsinya tidak seberapa. Kalau merugikan rakyat sampai triliunan kita habiskan saja.”