Warisan Budaya Butuh Museum & Ruang Publik, Tak Cukup Hanya Didata

Labuhan Merapi. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
23 Oktober 2018 11:25 WIB Tim Harian Jogja News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 91 ekspresi maupun keterampilan hidup di masyarakat DIY sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dan mendapat sertifikat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendataan saja tak cukup karena warisan itu butuh sokongan besar agar bisa langgeng.

Dinas Kebudayaan Gunungkidul mencatat ratusan warisan budaya tak benda di kabupaten ini. Namun, belum semua peninggalan diakui oleh pemerintah.

Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul Agus Kamtono mencontohkan lebih dari 150 lokasi yang rutin menggelar upacara adat. Sementara, peninggalan yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda meliputi wayang beber, rinding gumbeng, kethek ogleng, dan tayub.

“Kami masih terus mendata. Yang jelas, kami siap memelihara, salah satunya dengan menggelar event rutin menyangkut adat dan tradisi,” kata dia kepada Harian Jogja, akhir pekan lalu.

Pelestarian warisan budaya tak benda menggunakan dana keistimewaan.

“Bahkan di tahun depan, kami menampilkan sepuluh adat dan tradisi agar tidak hanya tetap lestari, tetapi juga dapat menarik minat wisatawan,” kata dia.

Namun, Wisto Utomo, pemilik wayang beber di Dusun Gelaran II, Bejiharjo, Karangmojo, menyatakan perhatian pemerintah masih kurang. Wayang beber yang dimilikinya merupakan warisan turun temurun dari 14 generasi terdahulu. Meski demikian, Wisto mengaku belum ada bantuan dari pemerintah untuk pelestarian. “Belum ada sama sekali, malah yang perhatian orang per orang,” katanya.

Padahal, pemeliharaan wayang beber tidak mudah. Lima gulungan wayang disimpan dalam sebuah kotak dan diberi pengawet berupa bulu merak. “Bulu-bulu merak kami ganti setiap lima tahun sekali supaya lontar dari wayang tidak rusak,” katanya.

Dari kelima koleksi, baru satu cerita wayang beber yang berhasil direstorasi. Cerita yang ditulis ulang ini tentang kisah asmara Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Condro Kirono. “Cerita Joko Tarub baru direncanakan akan ditulis ulang,” ujar dia.

Persoalan yang tak kalah pelik adalah regenerasi. Ini terjadi pada Nini Thowong, warisan budaya tak benda di Bantul. Nini Thowong diyakini membutuhkan inang untuk hidup. Pairan, satu-satunya pemain Nini Thowong yang tersisa mengatakan hanya orang-orang terpilih yang bisa memainkan kesenian boneka ini. Menurut dia, roh pengisi Nini Thowong harus menemukan orang yang cocok dan sampai sekarang Pairan belum mendapatkan penerus.

Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Sunarto, mengatakan cara melestarikan Nini Thowong adalah mengajak masyarakat untuk melihat keseniannya dahulu dan belajar di Pundong. Selanjutnya, regenerasi akan dilakukan berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat. Sunarto belum tahu apakah pelestarian Nini Thowong dibiayai dana keistimewaan atau tidak.

Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan 27 warisan budaya tak benda, meliputi pertunjukan, makanan, dan keterampilan. Puluhan warisan itu melengkapi 64 warisan budaya tak benda yang sudah ditetapkan sejak 2014.

Butuh Dukungan

Budayawan dari UGM Heddy Shri Ahimsa Putra mengatakan pelestarian warisan budaya tak benda tidak cukup hanya dengan dicatat atau disertifikatkan. Warisan ini harus dimuseumkan.

Menurut dia, museum warisan budaya tak benda bisa mengakomodasi warisan yang sekarang sudah sangat jarang, seperti dolanan anak yang tak lagi populer karena perkembangan teknologi dan keterbatasan lahan. Warisan budaya tak benda bisa diarsipkan dan didokumentasikan dalam bentuk video atau sejenisnya agar tak lekang zaman.

“Seperti benthik. Permainan ini membutuhkan tanah yang kemudian digali, kalau sekarang sudah sulit karena di mana-mana beton. Walaupun masih bisa dengan cara tertentu tetapi itu tidak mudah. Kemudian gobak sodor, itu kalau masyarakat tinggal di permukiman sempit atau rumah susun kan susah. Terus permainan yang butuh anak banyak, sekarang susah mengumpulkan anak ketika di area perumahan, jadi kalau anak mau main seperti ombak banyu itu sudah susah,” ucap dia.

Heddy mengakui tidak mudah mendirikan museum warisan budaya tak benda. Hasil kurasinya harus menyajikan warisan yang dipahami masyarakat.

Namun, ia meyakini banyak ahli di Jogja yang bisa menjadi kurator.

“Tinggal ada kemauan dan anggaran atau tidak, karena itu butuh proses cukup lama. Tetapi saya yakin dengan museum warisan budaya tak benda, masyarakat lebih cepat memahami,” kata dia.

Setelah dimuseumkan, warisan budaya tak benda harus disosialisasikan kepada khalayak. Pembuatan buku dan video multibahasa khusus warisan budaya tak benda sangat penting agar wisatawan asing dapat ikut memahami.

Di luar dokumentasi lewat museum, warisan budaya tak benda juga memerlukan ruang publik untuk berkembang.

Heddy mendorong pemerintah memikirkan tata ruang dengan memperhatikan akses terhadap dolanan anak tradisional.

“Setiap perumahan atau rumah susun sebaiknya menyediakan lahan kosong yang bisa digunakan anak untuk bermain sehingga tidak semua lahan dihuni bangunan. Desain pemukiman harus memperhatikan itu.”

Berkembang

Penghageng Tepas Dwarapura Kraton Ngayogyakarta KRT Jatiningrat mengatakan sejumlah warisan budaya tak benda berada di dalam Kraton, seperti tarian-tarian, mocopat, gamelan, cerita wayang kulit, wayang orang, jemparingan dan lain-lain. Kraton rutin menyelenggarakan kegiatan untuk melestarikan warisan tersebut dengan menggandeng masyarakat umum.

“Hari Minggu misalnya, ada tarian yang dipentaskan kelompok dari luar Kraton. Labuhan juga melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya,” kata dia.

Beberapa warisan budaya tak benda sudah sangat berkembang karena mengandung nilai ekonomis tinggi, misalnya di Kota Jogja.

Kepala Seksi Warisan Budaya Tak Benda Dinas Kebudayaan Kota Jogja Lestari Asih mengatakan tiga warisan budaya tak benda dari kota ini adalah bakpia, gudeg, dan tradisi mubeng beteng.

Menurut dia, tidak ada dana pelestarian untuk gudeg maupun bakpia.

“Tidak ada bantuan secara khusus karena yang melestarikan adalah pengusaha. Berbeda dengan karya seni, dan warisan nonprofit lainnya. Kalau untuk mubeng beteng, kami ikut berpantisipasi menyelenggarakannya,” ujar dia, Senin (22/10).

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan Pemerintah Kota Jogja akan terus menginventarisasi tradisi, ekspresi lisan, seni pertunjukan, adat istiadat, hingga kemahiran kerajinan tradisional untuk diajukan ke Pemerintah Pusat sebagai warisan budata tak benda.

“Tidak hanya dipelihara, tetapi bagaimana warisan budaya tak benda bisa dikembangkan dan benar-benar dilestarikan.”

Sementara, Kulonprogo berusaha mentransformasikan warisan budaya tak benda.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo Joko Mursito mengatakan kabupaten ini memiliki tiga warisan budaya: geblek, krumpyung, dan panjidor.

Geblek tidak hanya dikemas sebagai kudapan, tetapi juga diadopsi menjadi goresan motif batik dan purwarupa desain interior maupun artistik dalam tampilan bangunan.

“Kami mempunyai tugas mencoba membuat identitas baru, yaitu pelestarian dan pengembangan dalam bentuk fisik. Antara lain jembatan, gapura, gardu,” kata dia.

Pemerintah Kabupaten Sleman menggunakan dana keistimewaan (danais) untuk melestarikan warisan budaya tak benda.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Sleman Edy Winarya mengatakan beberapa warisan budaya tak benda dari Sleman adalah peksi moi, saparan wonolelo, dan upacara adat dandan kali. “Tahun ini danais untuk kebudayaan di Sleman mencapai sekitar Rp14 miliar,” kata Edy.

Proporsi paling banyak dari danais untuk pengembangan kelompok kebudayaan.

Pemerhati seni budaya Sleman Purwadmadi mengatakan beberapa warisan budaya tak benda di Sleman berkembang, tetapi ada juga juga mandek. “Kalau ada yang berkembang dan ada yang tidak itu lumrah. Namun tingkat apresiasi dan angka partisipasi masyarakat terhadap karya budaya akhir-akhir ini meningkat,” ujarnya.