Kecanduan Gadget Jadi Ancaman Serius di Peringatan Hari Anak Nasional

Dua anak asyik bermain gadget di salah satu sudut Balai Budaya Gambiran, Pandeyan, Umbulharjo, Jogja, beberapa waktu lalu. Kecanduan gadget dan game online bisa mengganggu pertumbuhan anak. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
23 Juli 2018 12:25 WIB Tim Lipsus Harian Jogja News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Efek negatif kecanduan gadget terhadap anak-anak menjadi perhatian banyak kalangan. Tak sedikit orang tua dan guru yang mulai membatasi penggunaan gawai untuk mereka yang belum cukup umur.

Dokumen klasifikasi penyakit internasional ke-11 yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menggolongkan kecanduan bermain game di ponsel pintar atau komputer sebagai penyakit mental. Istiliah yang dipakai adalah gaming disorder, perilaku bermain terus menerus dengan mengesampingkan kepentingan hidup lainnya. Risiko kecanduan main game di ponsel ada banyak: penurunan konsentrasi belajar, daya ingat, tingkat kecemasan tinggi, kesulitan mengontrol emosi, depresi, hingga kurang mampu berkomunikasi.

Di beberapa wilayah di DIY, kecanduan terhadap gadget, meski tidak harus berujung gaming disorder, sudah terlihat.

Agung Sulistyo, penduduk Bangeran, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, harus membatasi penggunaan gadget bagi anak sulungnya, yaitu hanya Sabtu-Minggu. Agung juga mengikutsertakan anaknya ke dalam berbagai kegiatan untuk mengisi waktu agar teralihkan dari gadget. Saat sudah asyik main gadget dan Agung mengambilnya, anak sulungnya menangis.

“Lebih baik dia nangis daripada keterusan main hape,” ujar Agung, Jumat (20/7).

Agung memberikan ponsel pintar sebagai penghargaan bagi anaknya yang mematuhi salah satu permintaan Agung. Namun, anaknya malah terkadang membelanjakan uang jajan untuk pulsa agar bisa terus bermain gadget.

Tiara, warga Kemiri, Kecamatan Pengasih , Kulonprogo juga mengakui adik lelakinya juga tidak jarang menggunakan uang jajan bukan untuk membeli jajanan atau cemilan, melainkan pulsa paket.

“Beruntung adik saya tidak sampai kecanduan, dia ikut banyak kegiatan,” kata dia.

Rahyati, 27 warga Nogosari, Trirenggo, Bantul, mengaku kewalahan melarang anaknya bermain game melalui gadget di rumah. “Anak saya baru berhenti kalau kuota Internetnya habis.”

Dia mengaku sudah kehilangan cara untuk mengingatkan. Sebab, anaknya yang masih duduk di bangku kelas I SD selalu merengek. “Anak saya cuma hobi game,” ucap Rahyati.

Kesadaran Meningkat

Kesadaran akan efek negatif ponsel sudah mulai meningkat di kalangan pendidik dan orang tua. Gadget kini jadi barang terlarang di sejumlah sekolah.

Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bantul Timur Wening Nurdiyah mengatakan sekolahnya sudah sejak beberapa tahun terakhir melarang siswa membawa gadget. “Untuk komunikasi dengan orang tua selama di sekolah kami sediakan telepon. Anggaran untuk pulsa telepon sekolah lebih dari Rp1 juta setiap bulan,” kata Wening.

Sekolah juga memiliki forum komunikasi orang tua siswa atau Paguyuban Orang Tua (POT). Forum komunikasi yang diwadahi melalui grup aplikasi Whatsapp tersebut terdiri dari grup orang tua siswa dengan guru kelas dan grup semua orang tua siswa satu sekolah dengan sekolah.

Forum tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai informasi kegiatan sekolah termasuk imbauan-imbauan agar orang tua siswa tidak membiarkan anaknya membawa gadget ke sekolah. Namun, masih ada beberapa siswa yang kedapatan membawa telepon genggam ke sekolah.

Aturan larangan membawa gadget juga diterapkan di SD Muhammadiyah Pepe Bantul.

“Kami bersama Komite Sekolah sudah menyepakati semua siswa tidak diperkenankan membawa alat komunikasi ke sekolah. Kami menyediakan telepon sekolah yang bisa digunakan oleh siswa," ujar Kepala SD Muhammadiyah Pepe Bantul, Ikhsan.

Guru di masing-masing kelas juga sudah diminta memantau dan memeriksa setiap siswa saat masuk kelas. Sekolah memberikan imbauan terkait efek negatif siswa yang keseringan mengakses gadget. Imbauan itu disampaikan melalui forum komunikasi orang tua siswa dan pertemuan orang tua siswa tiap tiga bulan sekali.

Ikhsan justru merasa kecewa karena ada warung-warung game online yang tidak jauh dari sekolah. Setidaknya ada tiga warung game online di sekitar SD Muhammadiyah Pepe.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada kurikulum khusus yang membatasi gadget. Kepala Unit Pelaksana Teknis PAUD dan SD Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Asduki mengatakan pembatasan penggunaan gadget masuk pada pembentukan karakter dan pembiasaan.

“Saat ini belum ada kurikulum yang khusus untuk gadget, hanya masuk pada pembentukan karakter dan pembiasaan. Beberapa sekolah juga tidak memperbolehkan siswa membawa gadget, dan orang tua tidak masalah,” kata Asduki, Sabtu (21/7).

Andriyanto, Kepala SDN Payaman 2, Semin, Gunungkidul mengatakan di sekolahnya sudah ada pelarangan siswa membawa gadget.

“Dengan mempertimbangkan dampak positif dan negatif pada penggunaan gadget, sekolah kami sepakat menolak penggunaan gadget pada siswa,” kata Andri.

Menurut dia, peran orangtua menjadi penting mengawasi anaknya saat menggunakan gadget di rumah.

Hal yang sama juga dilakukan di SDN Karangsari, Semin, Gunungkidul. Siswa di sekolah, tidak ada yang membawa gadget. “Kami juga memberi penyuluhan ke orang tua melalui pertemuan oran tua atau wali, guna mengantisipasi dampak negatif itu,” kata Kepala SDN Karangsari, Bowo Suratno.

Kepala TK Muadz Bin Jabal Kota Jogja Sapta Dwi Wardhani mengatakan sekolahnya tak hanya melarang siswa membawa gadget, tetapi juga membuat program khusus yang dijalankan orang tua, yakni Gerakan Maghrib Mengaji No Gadget No Televisi atau Gemaji. Menurut dia, pendidikan tidak bisa di sekolah, tetapi di rumah.

“Kami tidak bisa memaksa orangtua, tetapi paling tidak kami rutin memberikan penekanan no gadget, harus ada sinergi antara di sekolah dan di rumah. Intinya [orangtua] harus tega dan konsisten,” kata dia.

Ia mengatakan sebelum tahun ajaran baru 2018/2019, ada dua siswa yang ketika masuk di TK tersebut kecanduan main game atau gadget. Bahkan ada yang terlambat bicara gara-gara gadget.

“Tahun kemarin ada dua anak dan saat ini [siswa baru] gejalanya juga ada. Alhamdulillah untuk kasus tahun kemarin, sekarang anak tersebut sudah baik dan pandai bicara,” kata dia.

TK ini juga memiliki tenaga psikolog setiap sepekan sekali atau sesuai kebutuhan untuk memberikan pendampingan siswa serta konsultasi dari orangtua. Program itu sekaligus untuk mendukung program meminimalkan penggunaan gadget.

Kepala TK Taat Insan Mulia Suparmi juga memberikan perhatian khusus terhadap siswa yang hobi bermain game atau gadget. “Kami ada sentra khusus bagian teknologi yang di dalamnya panduan bagaimana menggunakan alat komunikasi secara bijak.”

Ketua Himpaudi Jogja Sri Wahyuni mengharapkan orangtua menyempatkan waktu untuk mendampingi dan memperhatikan tumbuh kembang anak sehingga anak tidak kecanduan gawai. “Orang tua harus selalu memantau setiap kegiatan anak,” kata dia.

Permainan Tradisional

Ancaman kecanduan gadget ini menjadi persoalan yang perlu dipecahkan, terutama dalam peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh hari ini.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Anastasia Ratnaningsih mengatakan permainan tradisional di kalangan anak-anak harus dikampanyekan secara terus-menerus sebagai upaya mengimbangi penggunaan gadget. Permainan tradisional lebih banyak dimainkan secara bersama-sama sehingga menimbulkan keterikatan sosial yang tinggi. Sementara, gadget yang hanya dimainkan secara individu cenderung mendorong anak bersifat asosial.

“Anak memang perlu diajak untuk bermain seperti zaman dahulu,” kata dia.

Winanti Praptiningsih, peneliti di Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM mengatakan permainan online telah menggeser permainan tradisional yang menjadi kearifan budaya lokal masyarakat Indonesia. Dolanan anak mulai diabaikan, padahal sangat penting.

Berbagai manfaat seperti pengoptimalan perkembangan fisik, belajar berbagai pengetahuan dari alam, kesadaran kolektif, konsep pengendalian diri, inovasi, bahkan perkembangan psikologis anak mampu dirangsang melalui dolanan.

“Dolanan yang tepat, akan memberi landasan perkembangan pribadi yang kokoh untuk anak-anak,”

ujar dia.

Jenis dolanan tradisional punya faedah berbeda-beda. Jamuranmampu mengajarkan anak-anak memiliki sifat egaliter, tidak diskriminatif dan saling mengasihi. Gobak sodor mengajarkan ketangkasan fisik dan kepiawaian anak melewati setiap garis yang dijaga. Cublak-cublak suweng mendorong anak-anak berperilaku tanggung jawab, waspada, jujur, berani, sportif dan adil.

“Kita perlu mengembangkan kembali tradisi dolanan dan memperluas ide-ide pendidikan kreatif di sekolah-sekolah dengan mengembangkan pola permainan anak yang mendidik. Yang tak kalah penting adalah dan merawat lahan hijau untuk ruang bermain anak.”