Pasukan Israel Menembakkan Senjata Membabi Buta di Gaza, 4 Tewas 680 Luka-Luka

Pengunjuk rasa Palestina menggunakan ketapel untuk melontarkan batu ke arah tentara Israel dalam aksi protes memperingati al-Quds Day, (Hari Yerusalem), di perbatasan Gaza-Israel, Jumat 8 Juni 2018. - Reuters/Mohammed Salem
09 Juni 2018 04:05 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :

Harianjogja.com, GAZA -Tentara Pertahanan Israel membunuh empat orang warga Palestina dan melukai ratusan orang lainnya pada bentrok di perbatasan Jalur Gaza-Israel, Jumat (8/6/3018).

Demikian laporan dari tim medis Palestina. Adapun dari pihak Israel mengklaim langkah itu diperlukan karena para militan telah menyerang tentara mereka dengan senjata api dan granat.

Warga Palestina yang terbunuh pada Jumat yakni tiga pria dewasa dan remaja 15 tahun. Dari sebanyak 618 orang yang terluka dalam konfrontasi di perbatasan Gaza-Israel, 120 di antaranya akibat luka tembak.

Di antara korban luka tembak adalah seorang jurnalis foto
Agence France-Presse dan pemuda 23 tahun yang harus dilarikan segera ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis. Si pemuda terluka setelah tabung gas air mata ditembakkan tentara Israel tepat pada wajahnya.

Hari Yerusalem

Israel mengaitkan protes itu berhubungan dengan acara tahunan "Hari Yerusalem" di Iran, yang senada dengan Islamis Hamas penguasa Gaza yang terus mengkhotbahkan penghancuran Israel setelah adanya pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

"Tidak pernah ada negara bernama Israel yang bisa memiliki ibu kota bernama Yerusalem," kata Juru Bicara kelompok Hamas Fawzi Barhoum, dikutip Reuters, Jumat.

Dia mengatakan unjuk rasa di Gaza yang pecah sejak 30 Maret bakal terus berlanjut hingga warga Palestina mendapatkan keinginannya untuk kembali kepada tanah leluhur mereka yang telah dirampas oleh Israel sejak perang 1948.

Israel yang didukung AS, menyatakan gelombang protes yang didalangi Hamas berusaha menerjang perbatasan negara mereka, sehingga pencegahan dengan senjata sangat penting dilakukan untuk mencegahnya.

Setidaknya tercatat sudah 124 warga Palestina terbunuh oleh tembakan tentara Israel, kata tim paramedis di Jalur Gaza.

Pada Jumat, militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi, terdapat sekitar 10.000 warga Palestina yang menyerbu dalam lima kelompok besar di lima titik perbatasan Gaza-Israel. Sebagian dari mereka melempar bebatuan dan ban yang dibakar.

 

Pemuda Hitler

Militer Israel menyatakan, pada satu lokasi sedikitnya dua orang Palestina menembakkan senjata api ke arah pos penjagaan militer Israel, sementara lainnya melemparkan granat dan menerbangkan layang-layang atau balon helium yang dimuati bahan peledak melintasi perbatasan.

Tidak ada satu korban jiwa pun yang jatuh di pihak Israel selama dua bulan konfrontasi di perbatasan Gaza. Namun Israel mengaku telah kehilangan hutan dan lahan pertanian di wilayah mereka yang terbakar akibat serangan layang-layang berapi yang dilakukan warga Palestina.

Emmanuel Nahshon, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel di akun twitternya mendeskripsikan para pemrotes Gaza "para moron penuh kebencian" dan "Hamas Jugend" (Pemuda Hamas), dan terakhir menyebutnya sebagai "Pemuda Hitler" dalam bahasa Jerman.

Israel telah lama menolak menerima pengungsi Palestina yang muncul dari perang 1948 atau jutaan keturunan mereka dan menyarakan mereka berhak atas wilayah Palestina sebagai negara mereka di masa depan. Pembicaraan kenegaraan kedua pihak telah dibekukan sejak 2014.

Hamas merebut Gaza dari Otoritas Palestina yang didukung Barat pada 2007 dan telah berperang tiga kali dengan Israel di sana. Dua juta orang Palestina telah terbebat kemiskinan setelah Israel dan Mesir menutup perbatasan Gaza dari suplai kebutuhan hidup.

"Kami tidak sedang meminta bulan," kata Amer Abu Khalaf, mahasiswa administrasi bisnis berusia 20 tahun yang ikut dalam protes pada Jumat.
Dia mengatakan protes berdarah itu bertujuan untuk mendobrak pengepungan yang dilakukan Israel atas warga Palestina dan membuat dunia mengakui kembali hak warga Palestina.

(Dilaporkan oleh Reporter Reuters Nidal Almughrabi; Disunting Janet Lawrence dan Gareth Jones, diterjemahkan wartawan Harian Jogja Nugroho Nurcahyo)

Sumber : Reuters