Advertisement

Pakar dari Berbagai Negara Bakal Berkumpul di Jogja Bahas Perubahan Iklim

Newswire
Sabtu, 21 April 2018 - 11:50 WIB
Bhekti Suryani
Pakar dari Berbagai Negara Bakal Berkumpul di Jogja Bahas Perubahan Iklim Ilustrasi perubahan iklim. - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA- Puluhan pakar dari berbagai negara bakal berkumpul di Jogja membahas masalah kehutanan, lingkungan serta pengendalian perubahan iklim.

Sebanyak 93 pakar kehutanan dan lingkungan dari berbagai negara akan membahas perkembangan implementasi Kesepakatan Paris (Paris Agreement) dalam Asia Pacific Rainforest Summit (APRS) III yang digelar Pemerintah Indonesia dan Australia dengan dukungan CIFOR di Jogja.

"Ada 93 pakar kehutanan dan lingkungan, 41 di antaranya dari negara lain yang nanti akan memimpin dan menjadi panelis dalam diskusi-diskusi panel. Sedangkan peserta yang sudah registrasi sekitar 950 orang, berasal dari 39 negara di lima benua," kata Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bambang Hendroyono dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

APRS III yang mengangkat tema Menjaga Hutan dan Masyarakat, Mendukung Pertumbuhan Ekonomi, menurut dia, berbeda dengan yang pertama dilaksanakan di Sydney dan yang kedua dilaksanakan di Brunei Darussalam yang lebih banyak dikoordinir pihak mitra. Kali ini pertemuan lebih bersifat "government driven".

Dalam pertemuan yang digelar 23-25 April 2018 tersebut, ia mengatakan selain ada dua pertemuan tingkat tinggi yang dihadiri menteri hingga duta besar sejumlah negara, juga akan ada delapan sesi diskusi paralel.

Diskusi paralel, pertama, akan membahas soal kebijakan restorasi dan manajemen keberlanjutan lahan gambut. Kedua, pembiayaan, investasi dan perdagangan kehutanan.

Ketiga, soal mangrove dan karbon biru. Keempat, kebijakan Perhutanan Sosial, sedangkan kelima, soal implementasi Perhutanan Sosial.

Keenam, ekowisata dan konservasi keanekaragaman hayati. Ketujuh, soal hutan produksi, dan kedelapan, soal implementasi restorasi gambut.

Dirjen Pengendalian Daerah Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) I.B. Putera Parthama mengatakan kegiatan ini penting karena akan menjadi ajang negara-negara di Asia dan Pasifik menyamakan langkah kerja sama dan tukar pengalaman perihal pengelolaan hutan.

"Harapannya di akhir hari ke-2 kita dapat meningkatkan langkah bersama di Asia pasifik dan membuka peluang yang bisa ditindaklanjuti dalam kerja sama bilateral maupun multilateral," lanjutnya.

Advertisement

Peneliti sosioekonomi dan analis kebijakan dalam Tim Lanskap dan Sistem Pangan Berkelanjutan CIFOR Ani Adiwinata Nawir mengatakan forum yang mempertemukan semua pemangku kepentingan ini membuka kesempatan bagi peneliti menjabarkan hasil-hasil risetnya, yang mungkin bisa berkontribusi dalam mengatasi persoalan pengelolaan hutan dan lingkungan untuk pengendalian perubahan iklim.

"Ini juga jadi bahan untuk dibawa ke pertemuan selanjutnya, karenanya harapannya akan ada banyak cerita sukses dari tingkat tapak dibagikan dalam pertemuan," ujar dia.

Sementara itu, National Focal Point (NFP) Indonesia untuk UNFCCC Nur Masripatin mengatakan bahwa ada sesi pertemuan Roundtable tingkat menteri dalam APRS III yang juga membahas kemungkinan kolaborasi yang bisa dicapai di kawasan terkait implementasi Kesepakatan Paris.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Duh, hingga September, Angka Demam Berdarah di Sleman Tembus 236 Kasus

Sleman
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 05:57 WIB

Advertisement

alt

Hadir Tempat Glamping Baru di Jogja, Arkamaya Sembung Namanya

Wisata
| Jum'at, 30 September 2022, 15:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement