TNI AU Sulit Lahirkan Pilot Tempur Wanita

Marsma TNI Imran Baidirus menjabat sebagai Danlanud Adisutjipto Jogja seusai sertijab di Lapangan Jupiter Lanud Adisutjipto, Kamis (30/4/2015). (Sunartono/JIBI - Harian Jogja)
03 Mei 2015 06:20 WIB Sunartono News Share :

TNI AU kesulitan melahirkan pilot tempur wanita

Harianjogja.com, SLEMAN - Wing Pendidikan Terbang Lanud Adisutjipto hingga saat ini masih kesulitan mencetak calon pilot tempur (fighter) wanita. Hal itu disampaikan Danlanud Adisutjipto Marsekal Pertama (Marsma) TNI Imran Baidirus seusai sertijab di Lapangan Jupiter, Kamis (30/4/2015).

Imran kini menjadi Danlanud Adisutjipto yang ke-40 setelah menggantikan Marsma TNI Yadi I yang menduduki jabatan baru sebagai Inspektur Pembinaan Sumber Daya (Irbinsumda) Irtjenau Mabes AU. Mutasi jabatan itu berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/276/IV/2015 Tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI.

Dalam Sertijab itu, Komandan Kodikau Marsda TNI Ras Randra Bowo berharap penerbangan militer berada di titik nol kecelakaan. Karena itu segala proses operasi harus dilakukan secara cermat, teliti dan sesuai prosedur.

Terlebih Lanud Adisutjipto telah menjalankan pendidikan Sekbang Terpadu dengan siswa dari tiga matra TNI yaitu darat, laut dan udara. TNI AD dan AL masing-masing mendapatkan kuota tujuh anggota sebagai penerbang militer untuk menempuh pendidikan di Adisutjipto.

"Harus memiliki airmanship yang tinggi. Sehingga keamanan penerbangan bisa diterapkan kepada rekan di TNI AL dan AD," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (30/4/2015).

Untuk mendukung pendidikan penerbang, lanjutnya, tambahan enam unit pesawat latih Grob 120 TP-A buatan Jerman sudah tiba di Indonesia. Pada Kamis (30/4/2015) lalu telah tiba di Tanjung Emas, Semarang dan Jumat (1/5/2015) dijadwalkan tiba di Lanud Adisutjipto.

Keenam pesawat itu akan dirangkai oleh teknisi Jerman di Skadron Teknik 043 Lanud Adisutjipto. "Sebelumnya sudah ada 12 unit, sekarang sudah tiba enam lagi diassembling di sini, jadi total 18 unit," ungkapnya.

Sementara Imran Baidirus berjanji akan melanjutkan segala perangkat operasi penerbangan yang sudah berjalan dengan baik. Hingga saat ini lembaganya lebih banyak menghasilkan penerbang militer pria. Beberapa kali Sekbang pernah meluluskan penerbang wanita namun hanya memenuhi kualifikasi di satuan heli dan angkut.

Hingga saat ini TNI AU belum mampu melahirkan penerbang tempur wanita seperti negara lain di dunia. Menurut Imran kendalanya adalah ketiadaan sumber daya manusia atau wanita penerbang yang dapat memenuhi kualifikasi tempur.

"Ada kriteria yang harus dipenuhi sampai saat ini belum dapat source [sumber]. Kalau tempur dibuat selincah mungkin supaya bisa manuver dengan maksimal. Ini tentu dia [penerbang wanita] harus mampu menerima konsekuansi psikis, kita lihat ke depan sumber dayanya kalau semakin baik, kenapa tidak," kata dia.

Sekedar untuk diketahui Imran Baidirus sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perawatan Personel (Kadiswatpers) Mabes AU sejak Oktober 2014. Mulai Mei 2015 resmi sebagai orang nomor satu di Lanud Adisutjipto.

Ia tercatat sebagai lulusan AAU tahun 1988. Menjadi siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) di tahun yang sama di Wingdik Lanud Adisutjipto. Lulus Sekbang ia bertugas sebagai penerbang tempur pesawat Hawk MK-53 di Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Madiun kurun 1989 hingga 1990.

Sejak menjadi perwira anggota hingga menjadi Danlanud Adisutjipto, Baidirus telah melalui 20 jabatan militer di TNI AU baik strategis maupun non strategis. 12 jabatan diantaranya berkecimpung langsung dengan dunia penerbang militer.