Advertisement
Konflik Aceh dan Papua Terjadi karena Masalah Ini
Advertisement
Konflik Aceh dan Papua dapat terjadi karena warga setempat merasa tersisih.
Harianjogja.com, JOGJA-Ditugaskan selama 880 hari dalam misi perdamaian di Aceh, dimanfaatkan Laksda TNI Soleman B. Ponto untuk menuliskan setiap kejadian dalam buku. Ia menceritakan dari proses penugasan hingga TNI yang terlibat dalam Memorandum of Understanding (MoU)-Helsinki.
Advertisement
Dalam acara Bedah Buku TNI dan Perdamaian di Aceh di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (27/2/2015) siang, Ponto mengatakan berhentinya pertempuran di Aceh antara pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bukan karena Undang-Undang (UU) tapi MoU Helsinki.
Dalam MoU yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, tersebut, disepakati bahwa tim TNI ikut memberikan kontribusi perumusan penyelesaian masalah Aceh secara damai, adil, dan bermartabat dalam bingkai NKRI. MoU ditandatangi TNI, GAM, dan juga AMM (Aceh Monitoring Mission).
Ponto mengatakan profesionalisme TNI dalam perdamaian Aceh perlu mendapat apresiasi begitu juga dalam penyelesaian konflik di daerah lainnya. Menurutnya, TNI mengambil peran besar dalam penentu perdamaian di Aceh.
“Sampai sekarang tidak ada peluru yang ditembakkan TNI untuk GAM karena MoU ini. Maka TNI butuh
apresiasi untuk tetap menjaga perdamaian,” kata dia.
Ia melihat bahwa konflik Aceh dengan pemerintah Indonesia maupun juga Indonesia dengan gerakan separatis Papua, dilatarbelakangi rasa terpinggirkan dari dua daerah tersebut. Dari sisi pembangunan, semua difokuskan di Jawa sehingga dua daerah Sabang dan Merauke ini merasa disisihkan.
“Pemerintah harus usahakan bagaimana harga semen di Jawa sama dengan harga di Papua. Perdamaian dapat dibangun dari pembangunan yang disamaratakan,” kata Ponto.
Selain mengupas buku TNI dan Perdamaian di Aceh, acara bedah buku juga membahas karya kedua Ponto berjudul Jangan Lepas Papua.
Dosen Universitas Padjadjaran, Fadilah Agus, yang turut menjadi pembicara, menyampaikan apresiasinya terhadap karya Ponto.
“Saya menangkap bagaimana Pak Ponto menganggap gerakan separatis bukan sebagai sesuatu yang harus dibantai tetapi sebagai subjek hukum HAM,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
- Pelecehan Berlangsung 8 Tahun, DPR Kejar Keadilan Korban Syekh AM
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
Advertisement
Lonjakan Tajam Terjadi di Tol-Jogja Solo Saat Arus Balik Lebaran
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- OJK dan Bareskrim Polri Tangkap Tersangka Pidana Perbankan BPR DCN
- Astra Motor Yogyakarta Tanam 1.000 Pohon Aren di Desa Bonosari Kebumen
- Jumlah Penumpang Bandara YIA Melonjak 31 Persen Saat Puncak Arus Balik
- Pemkot Jogja Kaji WFH Bagi ASN Guna Tekan Biaya Operasional Kendaraan
- KY Buka Pendaftaran Calon Hakim Agung dan Hakim Ad Hoc Tahun 2026
- Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang
- Jasa Marga Tebar Diskon Tarif Tol 30 Persen untuk Urai Arus Balik
Advertisement
Advertisement



