Batik Parang yang Dikenakan Jokowi Bukan Motif Sembarangan, Ini Maknanya

Akbar Evandio
Akbar Evandio Kamis, 05 November 2026 13:17 WIB
Batik Parang yang Dikenakan Jokowi Bukan Motif Sembarangan, Ini Maknanya

Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) saat tampilkan ijazahnya di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026)/dok.Istimewa\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Penampilan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri persidangan kasus dugaan pencemaran nama baik di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menjadi perhatian. Selain membawa dokumen ijazah untuk kepentingan persidangan, Jokowi terlihat mengenakan batik bermotif parang yang dikenal memiliki filosofi mendalam dalam tradisi budaya Jawa.

Jokowi datang ke PN Jakarta Timur pada Kamis sekitar pukul 08.30 WIB untuk memenuhi panggilan sebagai saksi dalam perkara yang menjerat Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa.

Ia tiba menggunakan mobil hitam dengan pengawalan ketat dari ajudannya. Sejumlah pendukung Jokowi juga telah berada di lingkungan pengadilan sejak pagi.

Saat tiba di lokasi, Jokowi mengonfirmasi bahwa dirinya membawa dokumen ijazah yang diperlukan dalam persidangan.

"Bawa, bawa [dokumen ijazah]," kata Jokowi saat tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis.

Namun, selain kehadirannya sebagai saksi, pilihan busana Jokowi turut menarik perhatian. Ia mengenakan batik bermotif parang, salah satu motif klasik dalam tradisi batik Jawa yang memiliki nilai filosofis terkait perjuangan, keteguhan hati, dan semangat pantang menyerah.

Filosofi Batik Parang: Perjuangan Tanpa Henti
Batik parang bukan sekadar motif dekoratif pada kain. Dalam tradisi Jawa, motif ini mengandung pesan tentang konsistensi dalam berjuang, keteguhan prinsip, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Secara etimologis, kata parang berasal dari bahasa Jawa, yakni pereng, yang berarti lereng atau tebing miring.

Ciri khas motif parang terlihat dari susunan pola menyerupai huruf "S" atau ombak yang saling menjalin. Pola tersebut membentuk garis diagonal dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Susunan garis yang berkesinambungan itu menggambarkan perjuangan yang tidak terputus. Filosofinya juga berkaitan dengan kesinambungan usaha dan semangat yang terus mengalir seperti ombak laut.

Dalam pandangan budaya Jawa, batik parang turut mengajarkan pentingnya kedisiplinan, keteguhan hati, serta kemampuan seseorang memperbaiki diri dan mengendalikan hawa nafsu.

Batik Parang Pernah Menjadi Motif Larangan Keraton
Di balik filosofi perjuangannya, batik parang juga memiliki sejarah panjang dalam lingkungan kerajaan Jawa, khususnya pada masa Kesultanan Mataram.

Motif ini termasuk kategori batik larangan, yakni motif batik yang penggunaannya diatur berdasarkan kedudukan dan lingkungan keraton.

Pada masa tersebut, beberapa jenis motif parang tertentu hanya boleh dikenakan oleh raja, keluarga kerajaan, dan kalangan bangsawan.

Ketentuan itu membuat batik parang juga lekat dengan simbol kewibawaan, kepemimpinan, kekuasaan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari makna historis motif parang dalam tradisi keraton.

Mengenal 3 Jenis Motif Batik Parang
Dalam perkembangannya, tradisi batik Jawa mengenal beberapa jenis motif parang. Masing-masing memiliki karakteristik dan filosofi tersendiri.

1. Parang Barong
Parang Barong merupakan jenis batik parang dengan ukuran motif paling besar. Pada masa lalu, motif ini dikaitkan dengan raja dan menjadi simbol kekuasaan serta besarnya tanggung jawab seorang pemimpin.

2. Parang Rusak
Berbeda dengan namanya, kata "rusak" pada Parang Rusak bukan berarti kain atau motif batiknya mengalami kerusakan.

Motif ini justru melambangkan perjuangan manusia dalam melawan kejahatan, hawa nafsu, serta berbagai kelemahan yang ada dalam dirinya sendiri.

3. Parang Klitik
Parang Klitik memiliki ukuran motif lebih kecil dengan bentuk yang cenderung halus. Dalam tradisi keraton, motif ini dikenakan oleh putri-putri keraton dan melambangkan kelembutan serta keanggunan.
Batik Parang dan Nilai Budaya Jawa
Penampilan Jokowi dengan batik parang saat menghadiri persidangan di PN Jakarta Timur kembali menyoroti salah satu warisan budaya klasik Jawa.

Motif yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan pesan mengenai perjuangan, keteguhan prinsip, kedisiplinan, dan pantang menyerah dalam menjalani kehidupan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online