Karhutla Kalimantan Capai 513,89 Hektare, Asap Hambat Pemadaman

Akbar Evandio
Akbar Evandio Selasa, 13 Oktober 2026 20:17 WIB
Karhutla Kalimantan Capai 513,89 Hektare, Asap Hambat Pemadaman

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghadapi kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Kebakaran baru di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan tercatat mencapai 513,89 hektare, sementara asap tebal menghambat operasi pemadaman melalui udara.

Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan karhutla yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026).

“Per hari ini ada 513,89 hektar yang terbakar di sana. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan,” kata Suharyanto.

Menurut dia, Kalteng dan Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi dua wilayah yang masih menghadapi penanganan karhutla cukup berat. BNPB telah menambah personel dan peralatan untuk mendukung pemadaman di darat, termasuk dengan keterlibatan Pangdam Kalimantan Tengah yang memimpin langsung penanganan di lapangan.

Asap Tebal Hambat Pemadaman dari Udara

Upaya pemadaman karhutla di Kalteng belum dapat dioptimalkan melalui udara karena jarak pandang yang rendah akibat asap tebal. Kondisi tersebut membuat helikopter water bombing, operasi modifikasi cuaca, hingga penerbangan pesawat komersial belum dapat dilakukan.

“Untuk Kalimantan Tengah khususnya, tadi kami laporkan bahwa untuk heli water bombing ini sudah hampir seminggu lebih tidak bisa terbang karena visibility rendah,” ujarnya.

Sementara itu, operasi helikopter water bombing di Sumatra Selatan kembali dapat dilakukan pada Senin setelah sebelumnya mengalami kendala penerbangan.

BNPB juga menyiapkan tambahan armada untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Sebanyak empat pesawat disiapkan untuk wilayah Kalteng, sedangkan dua pesawat dari Pangkal Pinang akan mendukung penanganan di Sumatra Selatan.

Suharyanto mengatakan pemerintah akan mengerahkan kemampuan yang tersedia untuk menangani karhutla, terutama selama Oktober. Upaya tersebut dilakukan menjelang perkiraan turunnya hujan alami pada pertengahan Oktober hingga November.

“Kami tetap akan bekerja keras, sekuat tenaga mengerahkan segala kemampuan, paling tidak di bulan Oktober ini. Mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami di pertengahan Oktober sampai dengan November dan selanjutnya, setelah musim hujan turun tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik,” katanya.

Luas Karhutla di Enam Provinsi Capai 129.899 Hektare

Secara kumulatif, luas karhutla di enam provinsi prioritas mencapai 129.899,59 hektare hingga 12 Oktober 2026. Dari total tersebut, 129.260,36 hektare dilaporkan telah dipadamkan, sedangkan 639,23 hektare lainnya masih dalam proses penanganan.

Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan adalah Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

Kalimantan Barat mencatat luas kebakaran kumulatif terbesar, yakni 51.124,71 hektare. Dari jumlah tersebut, 51.108,37 hektare telah dipadamkan dan tersisa 16,34 hektare yang masih ditangani.

Kalimantan Tengah berada di urutan berikutnya dengan luas kebakaran kumulatif 23.304,72 hektare. Sebanyak 22.780,03 hektare dilaporkan telah dipadamkan, sementara rincian laporan tingkat provinsi mencatat 10,80 hektare masih dalam proses pemadaman.

Di Kalimantan Selatan, luas kebakaran mencapai 22.043,32 hektare. Sebanyak 22.034,52 hektare telah dipadamkan, sedangkan 8,80 hektare masih ditangani.

Adapun di Riau, luas kebakaran tercatat 20.690,20 hektare, dengan sisa 1 hektare yang masih dalam proses pemadaman.

Sumatra Selatan mencatat luas lahan terbakar 8.409,60 hektare. Dari total tersebut, 8.402,70 hektare telah dipadamkan dan 6,90 hektare masih dalam penanganan.

Sementara itu, luas kebakaran di Jambi mencapai 4.327,04 hektare. Sebanyak 4.245,54 hektare telah dipadamkan, sedangkan 81,50 hektare masih dalam proses penanganan. Angka tersebut menjadi sisa kebakaran terbesar kedua setelah Kalimantan Tengah dalam rincian laporan enam provinsi.

Data kumulatif tersebut merupakan gabungan data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) per 31 Juli 2026 dan penambahan luas kebakaran berdasarkan penghitungan manual selama 1 Agustus hingga 11 Oktober 2026.

Data Sipongi mencatat luas kebakaran awal mencapai 72.009,10 hektare. Sementara itu, penambahan luas kebakaran selama periode berikutnya tercatat 57.376,60 hektare.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online