Advertisement

Rusia Bebas dari New START, Masa Depan Perjanjian Nuklir Tak Pasti

Newswire
Kamis, 05 Februari 2026 - 11:27 WIB
Sunartono
Rusia Bebas dari New START, Masa Depan Perjanjian Nuklir Tak Pasti Presiden AS Donald Trump (kiri) menerima bola sepak dari Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dalam konferensi pers bersama setelah keduanya bertemu membahas sejumlah isu di Helsinki, Finlandia. - Reuters - Grigoriy Dukor

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Mulai 4 Februari 2026, Rusia menyatakan bahwa pihak-pihak dalam Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut (New START) tidak lagi terikat kewajiban dan deklarasi simetris, sehingga masing-masing bebas menentukan langkah berikutnya.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkapkan pada Rabu (4/2) bahwa upaya perpanjangan perjanjian telah dilakukan, termasuk inisiatif terakhir yang diajukan Presiden Vladimir Putin pada 22 September 2025. Saat itu, Putin menyarankan agar pembatasan senjata strategis tetap berlaku setidaknya satu tahun setelah berakhirnya masa berlaku New START. Namun, Moskow belum menerima tanggapan resmi dari Amerika Serikat melalui saluran bilateral.

Advertisement

“Dalam situasi saat ini, para pihak tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka New START, termasuk ketentuan intinya, dan secara prinsip bebas menentukan langkah selanjutnya,” jelas Kemlu Rusia.

Rusia menegaskan akan bertindak “secara bertanggung jawab dan seimbang” dengan mengembangkan kebijakan senjata strategis berdasarkan analisis mendalam terhadap kebijakan militer AS dan kondisi strategis global. Kementerian menekankan kesiapan untuk mengambil langkah militer-teknis tegas jika terjadi ancaman tambahan terhadap keamanan nasional.

“Namun, negara kami tetap terbuka untuk mencari solusi politik dan diplomatik yang dapat menstabilkan situasi strategis secara menyeluruh, melalui dialog setara dan saling menguntungkan, apabila kondisi memungkinkan,” imbuh Kemlu Rusia.

New START merupakan satu-satunya perjanjian yang secara hukum mengikat kedua negara dalam membatasi kekuatan nuklir strategis AS dan Rusia. Berakhirnya perjanjian ini memicu kekhawatiran tentang dimulainya era baru persaingan nuklir tanpa regulasi, sehingga potensi risiko global semakin meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Derbi Mataram PSIM Jogja vs Persis Solo Dijaga Ketat Ratusan Personel

Derbi Mataram PSIM Jogja vs Persis Solo Dijaga Ketat Ratusan Personel

Bantul
| Kamis, 05 Februari 2026, 13:47 WIB

Advertisement

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

Wisata
| Rabu, 04 Februari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement