Advertisement

Tanpa Tanda Damai, Perang Rusia vs Ukraina Telan Hingga 2 Juta Korban

Jumali
Kamis, 29 Januari 2026 - 11:17 WIB
Jumali
Tanpa Tanda Damai, Perang Rusia vs Ukraina Telan Hingga 2 Juta Korban Asap mengepul dari lokasi kebakaran selama konflik Ukraina-Rusia di kota pelabuhan selatan Mariupol, Ukraina, Kamis (7/4/2022). - JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Perang Rusia–Ukraina memasuki fase paling mematikan sejak pecah pada 2022, dengan estimasi korban tentara yang mencapai hingga 2 juta jiwa pada awal 2026. Hal ini, menjadikannya salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah modern dan memicu kekhawatiran global akan krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Angka tersebut terungkap dalam laporan terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington, Amerika Serikat. Studi ini menilai skala korban perang Rusia–Ukraina sudah setara dengan konflik besar abad ke-20, meskipun terjadi di era teknologi modern.

Advertisement

Dalam laporan yang juga bersumber dari Rusia Mediazona dan BBC Russian Service itu disebutkan, Rusia diperkirakan menanggung sekitar 1,2 juta korban. Dari jumlah tersebut, sekitar 325.000 tentara Rusia diperkirakan tewas di medan pertempuran. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan korban yang dialami Uni Soviet saat perang di Afghanistan pada dekade 1980-an, bahkan melampaui total korban dalam Perang Chechnya.

Sementara itu, Ukraina diperkirakan kehilangan sekitar 600.000 personel, mencakup tentara yang tewas, terluka, maupun hilang. Meski jumlah korban Rusia lebih besar, Ukraina menghadapi tantangan serius karena keterbatasan jumlah penduduk usia militer.

CSIS mencatat rasio korban Rusia terhadap Ukraina berkisar antara dua hingga dua setengah banding satu. Namun, Ukraina dinilai lebih kesulitan mengganti pasukan yang gugur atau cedera. Hingga kini, pemerintah Ukraina masih menahan diri untuk menurunkan batas usia wajib militer di bawah 25 tahun, meskipun tekanan di garis depan semakin berat.

Perbedaan kondisi tersebut membuat strategi perekrutan kedua negara sangat kontras. Rusia dilaporkan menawarkan gaji tinggi dan bonus besar untuk menarik relawan, bahkan merekrut tentara bayaran dari berbagai wilayah seperti Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Sebaliknya, Ukraina lebih bergantung pada mobilisasi internal dengan sumber daya manusia yang terbatas.

Di tengah besarnya korban, kemajuan wilayah Rusia justru berjalan sangat lambat. Sejak 2024, pasukan Rusia rata-rata hanya mampu maju sekitar 15 hingga 70 meter per hari. Kecepatan ini disebut sebagai salah satu laju pergerakan paling lambat dalam sejarah peperangan modern.

Hingga Januari 2026, Rusia dilaporkan baru menguasai tambahan wilayah sekitar 152 kilometer persegi, terutama akibat hambatan cuaca ekstrem musim dingin di Ukraina timur dan wilayah Dnipropetrovsk. Pemerintah Rusia membantah data tersebut dan menyebut laporan CSIS tidak dapat dipercaya.

Upaya diplomasi pun belum membuahkan hasil. The Guardian melaporkan, pertemuan perdamaian yang digelar di Abu Dhabi pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi ini membuat harapan gencatan senjata kembali menjauh, sementara dunia terus mencermati dampak kemanusiaan dari konflik berkepanjangan ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Cakupan JKN Sleman Hampir 99 Persen, Status UHC Ditantang Naik

Cakupan JKN Sleman Hampir 99 Persen, Status UHC Ditantang Naik

Sleman
| Kamis, 29 Januari 2026, 12:17 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement