Advertisement
Listrik Padam Total Tekanan AS ke Kuba Makin Kencang
Warga membeli buah dari pedagang keliling di Havana, Kuba. - dok - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, MOSKOW—Krisis energi yang berujung padamnya listrik secara total di Kuba memperkuat tekanan Amerika Serikat dalam negosiasi politik. Di tengah situasi ini, posisi Presiden Miguel Diaz-Canel justru menjadi titik paling krusial yang disorot Washington.
Kondisi tersebut terjadi setelah kebijakan baru Amerika Serikat yang membatasi pasokan energi ke Kuba, termasuk melalui tarif impor bagi negara pemasok minyak. Dampaknya langsung terasa ketika jaringan listrik nasional di Kuba gagal total pada Senin lalu.
Advertisement
Dalam situasi yang kian menekan, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut tidak akan melanjutkan kemajuan negosiasi selama Diaz-Canel masih menjabat. Pesan ini disampaikan kepada Havana sebagai bagian dari strategi mendorong perubahan arah kebijakan ekonomi.
Laporan The New York Times, seperti dikutip RIA Novosti Selasa (17/3/2026) menyebutkan, Washington tidak menyasar keluarga Castro yang masih berpengaruh di balik layar. Fokus utama justru pada pencopotan Diaz-Canel untuk membuka peluang lahirnya pemimpin yang lebih moderat.
BACA JUGA
Selain isu kepemimpinan, Amerika Serikat juga mengajukan tuntutan lain seperti pembebasan tahanan politik dan pencopotan pejabat lama yang masih setia pada ideologi Fidel Castro.
Miguel Diaz-Canel yang kini berusia 65 tahun merupakan presiden pertama di luar dinasti Castro sejak revolusi 1959. Ia menjabat sejak 2018 menggantikan Raúl Castro, namun kerap dinilai tidak memiliki kendali penuh atas pemerintahan.
Pengaruh besar disebut masih berada di tangan GAESA, konglomerat bisnis milik militer Kuba yang menjadi pusat kekuatan ekonomi negara tersebut.
Di sisi lain, Diaz-Canel menyalahkan embargo Amerika Serikat sebagai penyebab utama krisis kemanusiaan dan pemadaman listrik yang meluas.
Namun di internal Kuba, mulai muncul pertimbangan baru. Sumber menyebut negosiator, termasuk Raúl Guillermo “Raulito” Rodríguez Castro, mulai melihat opsi pengunduran diri Diaz-Canel sebagai langkah realistis untuk menyelamatkan ekonomi.
Bagi Donald Trump, skenario ini bisa menjadi keuntungan politik di dalam negeri, terutama di kalangan komunitas eksil Kuba di Florida.
Meski begitu, langkah tersebut juga berisiko menuai kritik dari kelompok konservatif Amerika Serikat yang menginginkan perubahan total, bukan sekadar pergantian figur pemimpin.
Jika kesepakatan tercapai, sosok presiden baru diperkirakan akan muncul di luar keluarga Castro. Namun, kendali kekuasaan diyakini tetap berada di tangan loyalis lama di balik struktur pemerintahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BPOM Cabut Izin Edar 8 Kosmetik, Promosi Berbau Asusila
- KPK Periksa Gus Alex Terkait Korupsi Kuota Haji Seusai Penahanan Yaqut
- Ledakan Keras di Masjid Jember Saat Tarawih, 1 Jemaah Dilarikan ke RS
- Chelsea Kena Sanksi Rp225 Miliar, Ini Sebabnya
- Hujan Deras dan Angin Kencang Ganggu 15 Penerbangan di Juanda
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Kasus Siswa Tewas di Bandung Jadi Alarm Tradisi Geng Pelajar
- Dari Pangkalan ke GoDigital Ojek Giwangan Kini Jadi Mitra Gojek
- Sejumlah Ruang Penting di Setda Cilacap Digeledah KPK
- Pertamina Patra Niaga: Stok BBM dan LPG Jelang Lebaran Aman
- 13 Proyek Wisata di Karst Gunungsewu Disebut Tak Berizin
- Kilang Minyak Nasional Dipacu Maksimal Jaga Pasokan BBM
- Seratus Anak di Sleman Ikuti Pesantren Ramadan Bersama BAZNAS
Advertisement
Advertisement







