Advertisement
Serangan ke Pasukan PBB di Lebanon Picu Kecaman Prancis
Foto ilustrasi pengungsi warga Lebanon. - Antara - Anadolu
Advertisement
Harianjogja.com, MOSKOW—Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon memicu reaksi keras dari Prancis. Insiden ini terjadi saat situasi keamanan di kawasan tersebut kembali memanas di tengah konflik yang belum mereda.
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) dilaporkan menjadi sasaran serangan dalam tiga kejadian terpisah saat berpatroli di sejumlah wilayah.
Advertisement
Komando UNIFIL menyebut serangan terjadi di Yater, Deir Kifa, dan Qallawiyah pada Minggu (15/3/2026). Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata non-negara.
Pemerintah Prancis melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan kecaman keras atas insiden tersebut.
BACA JUGA
"Prancis mengecam keras penembakan yang terjadi beberapa kali terhadap tentara UNIFIL kemarin. Serangan dari kelompok bersenjata non-negara ini tidak dapat diterima," demikian pernyataan resmi yang disampaikan pada Senin (16/3/2026).
Prancis juga mendesak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk kembali menahan diri dan mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang telah ditetapkan sebelumnya.
"Prancis menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri, kembali melakukan gencatan senjata yang ditetapkan pada 26 November 2024 dan mematuhi Resolusi Dewan Keamanan 1701," lanjut pernyataan tersebut.
Selain itu, Prancis menyoroti perlunya pelucutan senjata oleh kelompok Hizbullah di Lebanon serta mendesak Israel untuk menghentikan operasi darat di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Lebanon juga turut mengecam serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tersebut.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah pada awal Maret terjadi serangan roket dari wilayah Lebanon ke arah Israel.
Kelompok Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Sebagai balasan, militer Israel melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah wilayah padat penduduk di Lebanon, termasuk di Beirut.
Akibat eskalasi konflik tersebut, ratusan ribu warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan mencari perlindungan ke wilayah yang dianggap lebih aman di dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Batas Lapor SPT 30 April, Telat Kena Denda Rp100.000
- Terjebak di Lantai 23, Ini Pesan di Baju Selamatkan Penghuni Kebakaran
- KUR Perumahan Tembus Rp14 Triliun, Pemerintah Genjot Kota Satelit
- Kasus Penganiayaan Balita di Daycare Aceh, Pemkot: Hanya 6 TPA Berizin
- Usulan Kurikulum Keselamatan Transportasi Muncul Usai Tragedi Bekasi
Advertisement
Advertisement
Thailand Bakal Hapus Bebas Visa, Turis Wajib Verifikasi Saldo Keuangan
Advertisement
Berita Populer
- Fakta Baru! Sopir Taksi Listrik Baru 3 Hari Kerja Saat Kecelakaan
- Hasil TKA SD-SMP Diumumkan 26 Mei, Ini Cara Ceknya
- Mobil Tertabrak Kereta di Grobogan, 4 Tewas Termasuk Anak Balita
- Aksi Celurit Berujung Kecelakaan di Moyudan, Satu Remaja Diamankan
- Jadwal KRL Jogja-Solo 1 Mei 2026 Lengkap Tugu-Palur
- FIB UGM Tegas, Tak Bela Dosen Terkait Kasus Daycare Little Aresha
- Gelar Puteri Indonesia Riau 2024 Dicopot Usai Kasus Klinik Ilegal
Advertisement
Advertisement








