Advertisement
KPAI Apresiasi Buku Aurelie Moeremans soal Child Grooming
Ilustrasi . - Pixabay/Ulrike Mai
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengapresiasi buku The Broken String karya Aurelie Moeremans yang dinilai penting dalam edukasi bahaya child grooming.
Anggota KPAI, Dian Sasmita, menyatakan bahwa karya ini membantu membuka cakrawala publik mengenai modus kejahatan yang sering kali tidak disadari oleh orang tua maupun lingkungan sekitar.
Advertisement
"Kami berterima kasih sekali adanya buku itu sehingga membuka pengetahuan masyarakat luas terkait apa itu child grooming. Ternyata, child grooming itu ada di sekitar kita," ujar Dian Sasmita dalam acara Laporan Akhir Tahun (LAT) 2025 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Memahami Modus Manipulatif "Child Grooming"
BACA JUGA
Dian menjelaskan bahwa kejahatan child grooming memiliki karakteristik yang sangat spesifik, yakni adanya upaya manipulatif dari pelaku untuk membangun ikatan emosional dengan korban. Tujuannya adalah untuk memanfaatkan atau mengeksploitasi anak di kemudian hari.
"Manipulasi ini dalam konsep perlindungan anak sudah termasuk aspek kekerasan. Bujuk rayu, memberikan iming-iming, itu semua termasuk bentuk kekerasan juga," tegasnya.
Berdasarkan data KPAI, kasus kekerasan seksual terhadap anak terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan:
- Tahun 2024: Tercatat 11.000 anak menjadi korban.
- Tahun 2025: Angka tersebut meningkat menjadi 12.000 anak.
Dian menambahkan bahwa pelaku kekerasan seksual sering kali berasal dari lingkaran terdekat anak, seperti teman, orang tua, tenaga pendidik, hingga tokoh masyarakat.
Buku Aurelie Moeremans: Melawan Stigma dan Luka Lama
Isu child grooming ini semakin mencuat setelah buku "The Broken String" viral di awal tahun 2026. Meski telah dirilis secara gratis pada 12 Oktober 2025, kontennya yang diangkat dari kisah nyata pengalaman hidup Aurelie Moeremans sebagai korban kekerasan seksual baru-baru ini menyita perhatian luas netizen.
Melalui buku ini, Aurelie melakukan keberanian besar dengan meluruskan berbagai rumor lama, termasuk isu pernikahan tidak sah yang sempat menerpanya. Ia berupaya mematahkan stigma negatif yang selama ini kerap menyudutkan korban.
Lebih dari sekadar membedah luka dan trauma masa lalu, "The Broken String" hadir sebagai narasi inspiratif tentang proses penyembuhan diri (self-healing) yang panjang. Karya ini diharapkan menjadi penguat bagi para penyintas lainnya untuk berani bersuara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Jadwal Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Ini Jam Puncaknya
- DPR Minta KBRI Ambil Langkah Darurat Lindungi Jemaah Umrah Indonesia
- Hutan Rehabilitasi IKN Mulai Dihuni Satwa, Burung Kembali Berdatangan
- Emergency Alert Abu Dhabi Berakhir, UEA Nyatakan Situasi Aman
- Jadi Sorotan Publik, Gubernur Kaltim Kembalikan Mobil Dinas Rp8,49 M
Advertisement
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Ratusan Penumpang Tertahan di Bandara Bali Imbas Perang Iran-AS
- Arsenal vs Chelsea: Rekor Tak Terkalahkan The Blues Diuji di Emirates
- Iran Nilai Pembunuhan Khamenei Langgar Piagam PBB
- Korlantas Polri Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Mudik Berbasis Teknologi
- Jadi Sorotan Publik, Gubernur Kaltim Kembalikan Mobil Dinas Rp8,49 M
- Merapi Masih Siaga, APG dan Guguran Lava Terjadi Sepekan Terakhir
- Protes Kematian Khamenei Berujung Rusuh, 9 Orang Tewas di Karachi
Advertisement
Advertisement







