Advertisement

Kemenhut Siapkan Rehabilitasi Hutan Pascabencana di Sumatera

Catur Dwi Janati
Selasa, 13 Januari 2026 - 12:27 WIB
Maya Herawati
Kemenhut Siapkan Rehabilitasi Hutan Pascabencana di Sumatera Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih ditemui seusai acara di UGM pada Senin (12/1 - 2026). Harian Jogja // Catur Dwi Janati 

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Kementerian Kehutanan menyiapkan rehabilitasi hutan di wilayah Sumatera yang terdampak banjir dan longsor sebagai langkah pemulihan lingkungan dan pencegahan bencana lanjutan.

Kementerian Kehutanan segera melakukan rehabilitasi kawasan hutan di Sumatera yang terdampak banjir dan longsor. Upaya tersebut menjadi bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus langkah mitigasi agar bencana serupa tidak kembali terulang.

Advertisement

"Pasca kejadian banjir ini, rehabilitasi akan terus kami lakukan. Tentu saja kami akan melihat prioritas-prioritas yang harus kami selesaikan," terang Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, Senin (12/1/2026), saat ditemui seusai acara di UGM.

Dyah menjelaskan, tahapan awal rehabilitasi dimulai dengan pendataan kondisi lapangan. Setelah itu, langkah pemulihan akan segera dijalankan sesuai tingkat kerusakan yang ditemukan.

"Pada kondisi yang longsor, kami tentu saja harus lakukan kegiatan rehabilitasi tetapi sebelumnya kami tata dulu. Kalau kami lihat kemarin pada drone map ataupun foto-foto yang kami lihat, kan kondisinya tanah itu sudah turun semua," tuturnya.

Menurut Dyah, kondisi tanah yang mengalami penurunan akibat longsor membutuhkan teknik konservasi air dan tanah yang tepat. Salah satu metode yang akan diterapkan ialah pembuatan terasering pada area dengan kemiringan tertentu.

"Karena tadi, dengan kemiringan tertentu pada kondisi hujan yang seperti kemarin ini sangat ekstrem dan kondisi tanahnya labil misalkan, ini akan berdampak terhadap longsor selanjutnya. Dengan prinsip konservasi tanah dan airnya nanti kita berharap meminimalisir dampak bencana yang akan terjadi," tandasnya.

Ia menambahkan, durasi rehabilitasi hutan sangat bergantung pada tingkat kerusakan lahan. Ada kawasan yang dapat langsung ditanami, namun ada pula yang harus lebih dulu melalui penerapan prinsip konservasi tanah dan air.

"Misalkan terasering, kemudian juga ada dam penahan, dam pengendali," imbuhnya.

Dyah mengungkapkan hasil rehabilitasi hutan tidak dapat dirasakan dalam waktu singkat. Proses pemulihan ekosistem membutuhkan waktu lebih dari lima tahun karena tanaman yang ditanam memerlukan fase tumbuh hingga benar-benar berfungsi menjaga tanah dan menyerap air.

"Namanya tanaman kan tidak bisa ditanam langsung jadi. Ya butuh waktu agar tanaman itu bisa tumbuh besar atau tumbuh besar sehingga manfaatnya dalam fungsi untuk menjaga tanah, menjaga penyerapan air itu akan bisa berjalan lama. Tentu saja di atas lima tahun. Tetapi untuk rehabilitasinya kami usahakan untuk dilakukan cepat. Sesegera mungkin," tuturnya.

Di sisi lain, Dyah juga menyoroti pemanfaatan kayu hanyutan yang terbawa banjir. Menurutnya, material tersebut dapat digunakan untuk kepentingan rekonstruksi, termasuk pembangunan hunian sementara hingga hunian tetap bagi warga terdampak.

"Untuk membuat hunian-hunian bagi masyarakat-masyarakat yang terdampak tadi. Jadi untuk sosial dan untuk masyarakat," katanya.

Langkah rehabilitasi hutan pascabencana di Sumatera ini diharapkan tidak hanya memulihkan kawasan terdampak, tetapi juga memperkuat daya dukung lingkungan dalam menghadapi cuaca ekstrem di masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan, Jogja Perpanjang Siaga Bencana

BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan, Jogja Perpanjang Siaga Bencana

Jogja
| Selasa, 13 Januari 2026, 16:47 WIB

Advertisement

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Wisata
| Selasa, 13 Januari 2026, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement