Advertisement
Upah 40 Hari, Pemuda Nepal Berebut Jadi Polisi Pemilu
Pemuda Nepal menggelar protes anti-pemerintah di Kathmandu, Nepal (8/9/2025). ANTARA - Anadolu
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Terpuruknya ekonomi Nepal pascakrisis politik membuat puluhan ribu pemuda rela mengantre panjang demi pekerjaan polisi sementara (myadi prabari) selama 40 hari.
Mengutip laporan AFP, Senin (12/1/2026), sekitar 27.000 pelamar memadati kantor polisi pusat pada akhir pekan lalu. Mereka berharap mendapatkan pekerjaan singkat meski hanya untuk durasi 40 hari selama masa pemilu.
Advertisement
Ekonomi Nepal mengalami guncangan hebat pasca penggulingan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli pada September 2025. Gelombang demonstrasi besar-besaran tahun lalu tidak hanya meruntuhkan pemerintahan, tetapi juga meninggalkan luka ekonomi yang dalam:
- Pengangguran Masif: Setidaknya 15.000 orang kehilangan pekerjaan tetap.
- Kerugian Finansial: Kerugian ekonomi diperkirakan menembus US$586 juta (sekitar Rp9,8 triliun).
- Sektor Informal: Sekitar 82% tenaga kerja dalam negeri tidak memiliki jaminan sosial.
“Saya generasi Z, tetapi saya tidak punya pekerjaan,” ujar Sarika Karki (20), salah satu pelamar yang mengantre demi mendapatkan uang saku.
BACA JUGA
Pemerintah Nepal menargetkan rekrutmen sebanyak 149.090 posisi polisi sementara untuk mengamankan jalannya pemungutan suara. Berikut poin-poin rekrutmennya:
- Masa Tugas: 40 Hari.
- Upah: Sekitar US$280 (setara Rp4,6 juta) untuk total masa kerja.
- Tugas Utama: Mengatur antrean di TPS, mengawal kotak suara, dan menangani logistik pemilu.
Juru bicara kepolisian, Abinarayan Kafle, menyebutkan bahwa antrean pelamar tetap mengular meski pada hari libur nasional, menandakan desakan kebutuhan hidup yang luar biasa.
Fenomena rekrutmen ini juga menyingkap masalah migrasi tenaga kerja Nepal yang kronis. Sepanjang tahun lalu saja, lebih dari 839.000 warga memilih meninggalkan Nepal untuk mencari nafkah di luar negeri.
Bagi mereka yang bertahan, lowongan polisi sementara ini menjadi secercah harapan di tengah bayang-bayang kerusuhan tahun 2025 yang sempat menewaskan 77 orang dan merusak gedung parlemen. Kini, stabilitas pemilu Maret mendatang sangat bergantung pada ribuan pemuda yang terdesak ekonomi ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Produksi Sampah di Bantul Naik 8 Persen Selama Libur Lebaran
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Teh Bisa Kehilangan Manfaat Jika Dicampur Ini
- Ratusan Pemudik Pilih Balik Naik Kapal Perang dari Semarang
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Belajar Daring untuk Hemat Energi, Kualitas Pendidikan Dipertanyakan
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Anak Balita Tiba-Tiba Menolak Makan, Ini Penyebabnya
Advertisement
Advertisement







