Advertisement

Hingga Juni 2024, Sekitar 7.437 Pekerja di Jawa Tengah Mengalami PHK

Newswire
Rabu, 19 Juni 2024 - 22:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Hingga Juni 2024, Sekitar 7.437 Pekerja di Jawa Tengah Mengalami PHK Foto ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Rahmatullah

Advertisement

Harianjogja.com, SEMARANG—Setidaknya 7.437 pekerja di Jawa Tengah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) seiring tutupnya sejumlah perusahaan di wilayah itu pada tahun ini.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah Jateng Ahmad Aziz mengatakan pada 2024 angka PHK sebanyak 7.437 pekerja. Jumlah tersebut tersebar di sejumlah perusahaan seperti PT Semar Mas Garmen di Boyolali, PT Cermai Makmur di Boyolali, PT Maju Sakti di Wonogiri, dan lainnya.

Advertisement

BACA JUGA: PT Tokopedia Melakukan PHK Ratusan Karyawan

"Ada pula perusahaan yang dinyatakan pailit, seperti PT Cahaya Timur Garmindo yang ada di Pemalang dengan jumlah karyawan sekitar 600 orang dan saat ini sedang ditangani kurator," katanya, Rabu (19/6/2024).

Kemudian, lanjut Aziz, ada PT S. Dupantex di Kabupaten Pekalongan yang sudah tutup permanen sejak 6 Juni 2024 dengan jumlah karyawan 800 orang, tetapi statusnya masih belum PHK karena masih proses bipartit antara serikat pekerja dengan perusahaan.

Menurut dia, tingkat PHK pada tahun ini hampir sama dengan 2023 yang mencapai 8.588 pekerja, seperti PT Tanjung Kreasi di Temanggung, PT Bamas Satria Perkasa (Purwokerto), PT Delta Merlin (Sukoharjo).

"Termasuk PT Apac Inti Corpora di Bawen yang pada 2023 (melakukan PHK, red.) sebanyak 1.000 karyawan pada 2023. Namun, mereka sudah konfirmasi secara langsung bahwa sekarang tidak ada PHK lagi," katanya.

Untuk hak-hak karyawan PT Apac Inti Corpora yang mengalami PHK sudah diberikan sesuai ketentuan. Sekarang ini perusahaan itu memiliki karyawan sebanyak 2.600 orang dan baru saja membuka lowongan 100 tenaga kerja perempuan.

Aziz menyampaikan bahwa perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawannya merupakan pilihan terakhir yang harus diambil, setelah beberapa opsi sudah ditempuh, yakni pengurangan "shift" dan "merumahkan".

"Perusahaan melakukan PHK itu pilihan terakhir. Pilihan pertama pengurangan jam kerja, dikurangi 'shift'-nya, kemudian 'dirumahkan'. Terpaksa sekali harus melakukan PHK dan itu tidak mudah karena perusahaan harus membayarkan hak-hak karyawannya," katanya.

Meski sejumlah perusahaan tutup, kata dia, banyak juga perusahaan lainnya yang justru membuka lowongan kerja, seperti PT Sritex yang saat ini memiliki 10.400 karyawan dan membutuhkan 2.000 karyawan baru.

Ada juga PT Djarum, kata dia, yang melakukan pengembangan industri di Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Temanggung, dan Rembang dengan kebutuhan 9.927 karyawan baru dan masih kekurangan 6.772 tenaga kerja.

Selain itu, ia mengatakan bermunculan beberapa industri baru, seperti pabrik sepatu di Pekalongan yang proses pembangunannya sebenarnya pada 2024, namun mundur jadi 2025 dengan kebutuhan tenaga kerja sekitar 20.000 orang.

"Di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dengan jumlah pelaku usaha ada 34 (industri) dengan tenaga kerja sebanyak 12.031 orang, dan pada 2024 masih membutuhkan 9.240 karyawan," katanya.

Demikian pula di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), kata dia, beberapa industri yang sudah beroperasi membutuhkan 12.000 tenaga kerja, namun baru terisi sebanyak 1.656 tenaga kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Advertisement

alt

Catatan Statistik Bek Anyar PSS asal Brasil, Pemegang Operan Sukses Tertinggi di Liga 1

Sleman
| Selasa, 16 Juli 2024, 20:37 WIB

Advertisement

alt

6 Destinasi Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi di Bogor

Wisata
| Minggu, 14 Juli 2024, 09:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement