Advertisement
Terkait Pengungsi Rohingya, Ini Sikap Kemenkumham
Pengungsi Rohingya. - Reuters/Damir Sagolj
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Terkait penanganan masalah pengungsi Rohingya, pemerintah mengutamakan aspek kemanusiaan yang bersifat universal, dengan tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat lokal.
Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia (HAM) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Dhahana Putra mengatakan kebijakan tersebut melihat resistensi yang terjadi terhadap pengungsi Rohingya sehingga perlu diintensifkan komunikasi dengan IOM, UNHCR, dan negara negara tetangga.
Advertisement
BACA JUGA: Ada Penolakan dari Warga Aceh, Komnas HAM Berikan Rekomendasi Ini
"Langkah ini tentunya agar penanganan pengungsi tidak menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat lokal, khususnya dalam konteks ini di Aceh," kata Dhahana Putra dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (30/12/2023).
Meski demikian, kata Dhahana, Pemerintah Indonesia belum meratifikasi Konvensi Jenewa 1951 tentang pengungsi, sehingga atas dasar kemanusiaan, Indonesia tetap harus menampung sementara para pengungsi Rohingya.
Pasalnya, ada asas non-refoulment yang sudah diakui sebagai hukum kebiasaan internasional.
Non-refoulment adalah asas larangan terhadap suatu negara untuk menolak atau mengusir pengungsi dari negara lain untuk kembali ke negara asalnya atau ke suatu wilayah di mana pengungsi tersebut berpotensi menghadapi hal-hal mengancam serta membahayakan kehidupan maupun kebebasan pengungsi karena alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan kelompok sosial tertentu, atau opini politik.
"Prinsip non-refoulment ini melarang negara untuk mengembalikan atau mengusir orang-orang ke negara asal atau negara lain yang berpotensi mendapat tindak persekusi, penyiksaan, pelanggaran HAM yang berat," jelasnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan para pengungsi Rohingya saat ini hanya bersifat sementara di Aceh.
"Yang perlu digarisbawahi, keberadaan mereka di sini adalah sementara hingga nanti UNHCR menentukan status sebagai pengungsi dan penempatan negara ketiga atau negara penerima para pengungsi Rohingya," jelas Dhahana.
Di satu sisi, selama para pengungsi Rohingya berada di Indonesia, maka tetap diwajibkan untuk menaati peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai kearifan lokal yang berlaku di Indonesia, supaya tidak memunculkan masalah-masalah sosial yang membuat gaduh.
"Di sisi lain, kami berharap semua pihak dapat menahan diri dari tindakan-tindakan provokatif agar tidak menimbulkan kondisi yang tidak kondusif di Aceh dalam penanganan para pengungsi Rohingya," imbuhnya.
Sementara itu, terkait tindak kekerasan terhadap para pengungsi Rohingya, telah menjadi sorotan masyarakat internasional. Sejumlah media internasional telah mewartakan insiden di Gedung Balee Meuseuraya Aceh.
"Harapannya, tentu kejadian serupa yang memberikan citra negatif semacam itu tidak terjadi lagi ke depan," ujar Dhahana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Akun Instagram Laras Faizati Dimusnahkan, iPhone 16 Disita Pengadilan
- Arus Kendaraan di Jalan Tol Meningkat Jelang Libur Isra Mikraj
- Banjir Bandang di Pulau Siau Sulawesi Utara Berdampak pada 1.377 Warga
- Dokter Peringatkan Risiko Penyakit Pekerja Lapangan Saat Banjir
- Sejumlah Negara di Eropa Imbau Warganya Tinggalkan Iran karena Protes
Advertisement
Pemkab Gunungkidul Tertibkan PKL Alun-Alun Wonosari, Pedagang Menolak
Advertisement
Way Kambas Tutup Sementara Wisata Alam karena Konflik Gajah Liar
Advertisement
Berita Populer
- Prabowo Tambah Dana Riset Perguruan Tinggi Jadi Rp12 Triliun
- Satpol PP Bantul Petakan Akomodasi Ilegal, Tunggu Dasar Penindakan
- PDAB Tirtatama DIY Targetkan Layanan Air Minum 24 Jam
- DPR Siapkan Rapat Dengar Pendapat Soal Child Grooming
- KKO MAN 2 Jogja Cetak Juara Futsal dan Jalur Prestasi Masa Depan
- Persik Kediri Resmi Datangkan Jon Toral, Eks Arsenal
- Hasil India Open 2026: Jonatan Christie ke Perempat Final
Advertisement
Advertisement



