Advertisement

Sudah Dilebur dengan BRIN, Ini Sejarah dan Profil Lembaga Eijkman

Aliftya Amarilisya
Senin, 03 Januari 2022 - 10:37 WIB
Budi Cahyana
Sudah Dilebur dengan BRIN, Ini Sejarah dan Profil Lembaga Eijkman Eijkman Institute adalah lembaga penelitian yang diperbarui, nirlaba, yang didanai pemerintah melakukan penelitian dasar dalam biologi molekuler medis dan bioteknologi. Lembaga ini terletak di jantung kota Jakarta, ibu kota Indonesia. - JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Harianjogja.com, SOLO - Menurut Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021, mulai 1 September 2021, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman resmi berintegrasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN.

Sebelumnya, lembaga riset yang diakui secara internasional ini berada di bawah naungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Eijkman sendiri pertama kali berdiri pada 1888. Ia didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Central Geneeskundig Laboratorium atau Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat di area Rumah Sakit Militer Hindia Belanda--kini menjadi RS Gatot Subroto di Jakarta Pusat.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Pada tahun 1938, nama Eijkman lantas digunakan untuk mengganti Geneeskundig Laboratorium.

Adapun penamaan tersebut diambil dari nama dokter sekaligus peneliti Belanda, Christiaan Eijkman. Ia adalah penerima penghargaan Nobel bidang kedokteran pada tahun 1929 atas penemuan konsep vitamin, saat meneliti penyakit beri-beri di Batavia.

Sayangnya, akibat pergolakan politik dan ekonomi di Indonesia tahun 1960-an, Lembaga Eijkman akhirnya ditutup dan digabungkan dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo.

Namun, setelah tiga dekade berlalu, pada Desember 1990, B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi memutuskan membuka kembali Lembaga Eijkman.

Lembaga tersebut dihidupkan kembali pada Juli 1992 melalui Surat Keputusan Nomor 475/M/Kp/VII/1992 Pendirian Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Kemudian, laboratoriumnya sendiri mulai beroperasi pada April 1993.

Sementara itu, guna mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, Habibie lantas meminta lembaga tersebut beralih dari dunia mikrobiologis ke ranah biomolekuler. Ia kemudian menunjuk Profesor Sangkot Marzuki, ahli biomolekuler lulusan Monash University, sebagai pemimpin.

Advertisement

Selama ini, Lembaga Eijkman telah terlibat dalam riset-riset penting, di antaranya HIV-Aids, flu burung, SARS-1, dan SARS COV-2 yang menjadi penyebab Covid-19.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

PLN Sukses Hadirkan Listrik Tanpa Kedip Untuk Gelaran Indonesia International Series 2022

Jogja
| Minggu, 25 September 2022, 13:07 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement