Banjir Bandang Nepal-Tibet, Kemlu Pantau 45 WNI
Kemlu memantau sekitar 45 WNI di Nepal setelah banjir bandang Nepal-Tibet. Hingga 27 Agustus, belum ada laporan WNI terdampak.
RSPAD Gatot Soebroto melakukan uji terapi plasma konvalesen untuk pasien Covid-19./JIBI-Bisnis.com-Nancy Junita
Harianjogja.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) tidak menyarankan metode terapi plasma konvalesen bagi pasien Covid-19.
Dikutip dari Channel News Asia, WHO menyebut, pengobatan Covid-19 menggunakan plasma yang diambil dari darah pasien Covid-19 yang telah pulih tidak boleh diberikan kepada orang dengan penyakit ringan atau sedang.
Rekomendasi terbaru ini berdasarkan pada bukti dari 16 uji coba yang melibatkan 16.236 pasien dengan infeksi Covid-19 yang ringan, parah, dan kritis, di mana penelitian menunjukkan tidak ada peningkatan manfaat pada pasien yang menerima perawatan tersebut.
"Tidak ada manfaat yang jelas untuk hasil kritis seperti kematian dan ventilasi mekanis untuk pasien dengan penyakit ringan, parah, atau kritis. Dan kebutuhan sumber daya yang signifikan dalam hal biaya dan waktu untuk pemberian," tulis pedoman WHO, Selasa (7/12/2021).
Sekadar informasi, terapi plasma konvalesen merupakan prosedur di mana plasma darah orang yang sudah pulih dari Covid-19 diberikan pada pasien yang tengah berperang melawan Virus Corona tersebut dengan harapan, antibodi dari pasien pulih itu bisa membantu melawan infeksi.
Selain itu, penelitian juga mengungkapkan prosedur tersebut menghadapi tantangan praktis, mulai dari menemukan dan menguji donor, mengumpulkan, serta menyimpan, serta mengangkut plasma.
Selain WHO, National Institute of Health (NIH) pada Agustus 2021 mengatakan bahwa plasma konvalesen tidak membantu pasien dalam penelitian terhadap lebih dari 500 pasien Covid-19 dewasa di University of Pittsburgh.
Pihak NIH juga mengungkapkan bahwa uji coba itu dihentikan pada Februari 2021 karena kurang efektif.
Dalam sebuah penelitian, The New England Journal of Medicine juga menemukan, bahwa plasma konvalesen tidak mencegah perkembangan penyakit pada pasien rawat jalan yang berisiko tinggi, bila diberikan satu minggu setelah timbulnya gejala.
Itu juga tidak meningkatkan hasil klinis pada pasien rawat inap di akhir perjalanan penyakit mereka. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa plasma konvalesen memang mengurangi perkembangan penyakit pada orang dewasa yang lebih tua, jika diberikan dalam waktu 72 jam usai timbulnya gejala.
Panel ahli internasional juga membuat rekomendasi kuat terkait penggunaan plasma konvalesen pada pasien Covid-19 dengan penyakit tidak parah, lanjut WHO.
Para ahli menyarankan agar terapi plasma tidak digunakan pada pasien dengan penyakit parah dan kritis, kecuali dalam konteks uji coba terkontrol secara acak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Kemlu memantau sekitar 45 WNI di Nepal setelah banjir bandang Nepal-Tibet. Hingga 27 Agustus, belum ada laporan WNI terdampak.
Jadwal KRL Jogja–Solo September 2026 relasi Stasiun Tugu ke Palur lengkap di 13 stasiun, mulai pukul 05.05 WIB hingga perjalanan malam.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 13 September 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
iPhone 18 Pro, Pro Max, dan Duo sama-sama memakai A20 Pro. Cek perbedaan layar, kamera, baterai, dan harga ketiganya.
Andika Mahesa meminta publik tenang setelah Dodhy mengumumkan Kangen Band bubar. Ia akan menemui seluruh personel di Jakarta.
Pameran Nasirun digelar di Galeri Nasional Indonesia hingga 11 Oktober 2026, sekaligus menjadi pameran terakhir sebelum revitalisasi.