WHO Tak Sarankan Terapi Plasma Konvalesen untuk Pasien Covid-19

RSPAD Gatot Soebroto melakukan uji terapi plasma konvalesen untuk pasien Covid-19. - JIBI/Bisnis.com/Nancy Junita
08 Desember 2021 06:37 WIB Akbar Evandio News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) tidak menyarankan metode terapi plasma konvalesen bagi pasien Covid-19.

Dikutip dari Channel News Asia, WHO menyebut, pengobatan Covid-19 menggunakan plasma yang diambil dari darah pasien Covid-19 yang telah pulih tidak boleh diberikan kepada orang dengan penyakit ringan atau sedang.

Rekomendasi terbaru ini berdasarkan pada bukti dari 16 uji coba yang melibatkan 16.236 pasien dengan infeksi Covid-19 yang ringan, parah, dan kritis, di mana penelitian menunjukkan tidak ada peningkatan manfaat pada pasien yang menerima perawatan tersebut.

"Tidak ada manfaat yang jelas untuk hasil kritis seperti kematian dan ventilasi mekanis untuk pasien dengan penyakit ringan, parah, atau kritis. Dan kebutuhan sumber daya yang signifikan dalam hal biaya dan waktu untuk pemberian," tulis pedoman WHO, Selasa (7/12/2021).

Sekadar informasi, terapi plasma konvalesen merupakan prosedur di mana plasma darah orang yang sudah pulih dari Covid-19 diberikan pada pasien yang tengah berperang melawan Virus Corona tersebut dengan harapan, antibodi dari pasien pulih itu bisa membantu melawan infeksi.

Selain itu, penelitian juga mengungkapkan prosedur tersebut menghadapi tantangan praktis, mulai dari menemukan dan menguji donor, mengumpulkan, serta menyimpan, serta mengangkut plasma.

Selain WHO, National Institute of Health (NIH) pada Agustus 2021 mengatakan bahwa plasma konvalesen tidak membantu pasien dalam penelitian terhadap lebih dari 500 pasien Covid-19 dewasa di University of Pittsburgh.

Pihak NIH juga mengungkapkan bahwa uji coba itu dihentikan pada Februari 2021 karena kurang efektif.

Dalam sebuah penelitian, The New England Journal of Medicine juga menemukan, bahwa plasma konvalesen tidak mencegah perkembangan penyakit pada pasien rawat jalan yang berisiko tinggi, bila diberikan satu minggu setelah timbulnya gejala.

Itu juga tidak meningkatkan hasil klinis pada pasien rawat inap di akhir perjalanan penyakit mereka. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa plasma konvalesen memang mengurangi perkembangan penyakit pada orang dewasa yang lebih tua, jika diberikan dalam waktu 72 jam usai timbulnya gejala.

Panel ahli internasional juga membuat rekomendasi kuat terkait penggunaan plasma konvalesen pada pasien Covid-19 dengan penyakit tidak parah, lanjut WHO.

Para ahli menyarankan agar terapi plasma tidak digunakan pada pasien dengan penyakit parah dan kritis, kecuali dalam konteks uji coba terkontrol secara acak.

Sumber : JIBI/Bisnis.com