Terpilihnya Indonesia sebagai Presidensi G20 Jadi Momentum Pulihkan Ekonomi

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. - Ist
16 November 2021 06:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Terpilihnya Indonesia sebagai presidensi G20 pada 2022 mendatang menjadi salah satu momentum untuk pemulihan ekonomi. Pergelaran internasional itu akan membahas isu-issu terkini berkaitan dengan recovery pasca pandemi Covid-19.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan G-20 dimaknai memiliki dua arti penting, yang pertama sarana sosialisasi dari peluang dan aspirasi presidensi G20 terhadap dunia. Kedua memberi masukan bagi pemerintah untuk memaksimalkan manfaat presidensi Indonesia bagi masyarakat. Pemulihan ekonomi yang kuat adalah pemulihan yang inklusif, ekonomi kuat adalah ekonomi yang mampu bertransformasi sejalan dengan visi G20. Tentunya target pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 bisa mencerminkan itu dimana proyeksi pemerintah Indonesia ekonomi tumbuh di angka 5,2-5,5 persen.

“Menjadi presidensi G-20 merupakan kehormatan sekaligus harapan bagi pemerintah untuk turut andil mencari exit policy dari pandemi Covid-19, tantangan global tidak akan selesai tanpa adanya sinergi dari seluruh peserta G20 khususnya. Indonesia memaknai presidensi G-20 di 2022 lebih dari hanya sebagai ketua sidang namun sebagai pemimpin yang akan menentukan arah perkembangan perekonomian dunia ke depan," tegas Airlangga dalam acara Indonesia's Global Leadership Outlook: How and for whose benefits? di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (15/11/2021).

Indonesia juga melihat pentingnya pemerataan sentra produksi internasional, untuk menguatkan rantai pasok global dengan mendorong kemandirian produksi dalam meningkatkan nilai tambah. Selain itu mendukung sistem electric vehicle system dengan melakukan investasi pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat, yang memberikan peluang besar untuk melakukan pembangunan secara berkelanjutan terlebih pergerakan itu menjadi yang pertama di Asia Tenggara.

“Muncul harapan bahwa presidensi G-20 juga diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik akibat langsung sebesar Rp1,7 triliun, dan menambah PDB sebesar Rp7,4 triliun dan akan mempekerjakan 33.000 tenaga kerja di berbagai sektor,” katanya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Profesor Haedar Nashir menyatakan G20 menjadi sebuah capaian yang positif dan konstruktif bagi upaya pemulihan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, sekaligus juga membangun optimisme Indonesia berperan di kancah global.

“Setelah sekian perjalanan panjang Indonesia penuh dinamika dalam menghadapi percaturan dunia, dan capaian ini harus diakui oleh seluruh komponen bangsa untuk secara bersama mengisi ruang positif ini sebagai penguatan mobilisasi domestik di dalam negeri," ujarnya.

Haedar menilai Indonesia perlu melakukan akselerasi dalam mencari titik-titik baru dalam memainkan peran yang lebih signifikan di dalam kancah dunia internasional, dengan memanfaatkan secara baik presidensi G20 itu. "Terlebih menurut beberapa pakar, Indonesia memiliki potensi besar di tahun 2030 menjadi negara dengan kategori ekonomi terbesar setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India," tegasnya.