Advertisement
Besok Ada Fenomena Hujan Meteor Draconid dan Konjungsi Solar Mars
Ilustrasi / mashable.com
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Lapan RI mencatat ada dua fenomena antariksa yang akan terjadi besok, 8 Oktober 2021.
Fenomena itu yakni konjungsi Solar Mars dan puncak Hujan Meteor Draconid.
Advertisement
Menurut Lapan, konjungsi solar mars tidak dapat disaksikan dengan alat optik apapun.
Konjungsi solar Mars merupakan konfigurasi ketika Mars, Matahari dan Bumi berada pada satu garis lurus dan Mars terletak sejajar dengan Matahari. Puncak konjungsi solar Mars terjadi pada 8 Oktober pukul 11.29 WIB/12.29 WITA/13.29 WIT. Mars berjarak 243.738.000 km dari Matahari dengan magnitudo +1,65.
Konsekuensi dari fenomena ini adalah Mars tidak akan tampak lagi di langit malam karena sejajar dengan Matahari. Sudut pisah Mars-Matahari hanya sebesar 0,65°. Konjungsi Mars terjadi setiap 25-26 bulan sekali, sebelumnya terjadi pada 27 Juli 2017 dan 2 September 2019. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 18 November 2023 dan 9 Januari 2026. Konjungsi solar Mars menandai pergantian ketampakan Mars yang semula ketika senja menjadi fajar.
Jika Mars dapat diamati menggunakan teleskop, maka akan tampak lebih redup dan berukuran sangat kecil sebesar 3,56 detik busur. Hal ini disebabkan oleh jarak Mars terhadap Bumi akan lebih jauh ketika Mars mengalami konjungsi dengan Matahari. Mars dapat diamati kembali pada 17 November 2021 mendatang ketika fajar.
Sementara itu, untuk puncak Hujan Meteor Draconid dapat disaksikan dengan mata biasa.
Hujan Meteor Draconid aktif sejak 6 hingga 10 Oktober dan puncaknya terjadi pada 8 Oktober pukul 16.00 WIB/17.00 WITA/18.00 WIT. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Draco. Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P/Giacobini-Zinner yang mengorbit Matahari setiap 6,6 tahun.
BACA JUGA: Meninggal Dunia karena Jantung, Gunawan Maryanto Sosok Mandiri di Keluarga
Oleh karenanya, hujan meteor ini dikenal juga dengan nama Giancobinid. Meskipun hujan meteor ini sempat menjadi hujan meteor spektakuler sepanjang sejarah, sebagian besar pengamat langit menganggapnya sebagai salah satu hujan meteor yang kurang begitu menarik disaksikan.
"Hujan meteor ini dapat disaksikan sejak awal senja bahari selama 3 jam dari arah utara-barat laut hingga barat laut dengan intensitas antara 4-6 meteor per jam jika cuaca cerah dan bebas polusi cahaya. Akan tetapi, bagi pengamat di area perkotaan hanya akan menyaksikan antara 1-2 meteor per jam. Ketampakan hujan meteor Draconid terbaik jika diamati dari belahan Bumi Utara," tulis Lapan di website resminya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Prajurit TNI Asal Kulonprogo Gugur di Lebanon, Ini Kata Ketua DPRD DIY
Advertisement
Masuk Jepang Wajib JESTA 2026, Ini Biaya dan Cara Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Korban Ledakan SAL di Teras Malioboro Ditanggung Pengelola
- Isu Pertamax Naik 10 Persen 1 April, Ini Penjelasan Bahlil
- Polemik Retribusi Parangtritis, Pemkab Bantul Berencana Pindah TPR
- Bos Maktour dan Ketua Kesthuri Ditetapkan Tersangka Korupsi Kuota Haji
- HUT ke-80 Sultan HB X, 10.000 Pamong se-DIY Bakal Kirab Hasil Bumi
- Sempat Viral Putus Sekolah Rawat Orang Tua, Fendi Kembali ke Kelas
- Kemenko PM: Kasus Amsal Sitepu Ancaman Bagi Industri Kreatif Nasional
Advertisement
Advertisement







