Advertisement
TPA Pasuruhan Sudah Overload, Sampah di Magelang Mendesak Butuh Penanganan
Kegiatan Pelatihan Kebersihan Lingkungan Sanitasi dan Pengelolaan Sampah di Destinasi Pariwisata Kabupaten Magelang tahun 2021, Rabu (6/10/2021). - Harian Jogja/Nina Atmasari
Advertisement
Harianjogja.com, MAGELANG- Tempat pembuangan sampah di Kabupaten Magelang semakin tak mampu menampung sampah kiriman warga. Dibutuhkan solusi mendesak untuk masalah ini.
“Kondisi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di Pasuruhan, Mertoyudan Kabupaten Magelang saat ini sudah overload dan tidak lagi mampu menampung kiriman sampah. Ada potensi TPA Pasuruhan di akhir tahun 2022 harus tutup,” kata Kabid Kebersihan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang, Wulandari, dalam kegiatan Pelatihan Kebersihan Lingkungan Sanitasi dan Pengelolaan Sampah di Destinasi Pariwisata Kabupaten Magelang tahun 2021, Rabu (6/10/2021).
Advertisement
Ia menjelaskan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) regional yang rencananya dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah di Bandongan diperkirakan baru bisa beroperasi pada 2024 atau 2025. Itu pun jika lancar. Saat ini lahan untuk TPST regional ini belum disetujui dan ada kemungkinan anggaran akan di-refokusing untuk penanganan pandemi Covid-19. TPST regional ini akan menjadi tempat pembuangan sampah dari Kabupaten dan Kota Magelang.
Baca juga: Tolak Disuntik Vaksin Covid-19, 3 Pengawal Paus Pilih Mengundurkan Diri
DLH Kabupaten Magelang, katanya, berupaya melakukan antisipasi jika TPA Pasuruhan tutup. Upaya tersebut di antaranya dengan mendorong desa menangani sampahnya masing-masing melalui bank sampah serta Tempat Pengolahan Sampah dengan 3R (TPS3R). Jadi, sampah ditangani dan selesai di masing-masing desa.
Upaya lain yakni mendorong dusun-dusun untuk membentuk bank sampah dengan dukungan dana desa. DLH juga masih mengupayakan pembangunan TPST kawasan gabungan beberapa kecamatan dengan teknologi incinerator ataru pirolisis (alat pemusnah/pembakar sampah).
“Kami juga mendorong dan mewajibkan kawasan ekonomi seperti pasar, wisata dan permukiman untuk membangun TPS3R skala kawasan untuk mengelola sampah di kawasannnya,” katanya.
Ketua Pokdarwis Dewi Pari Desa Paremono, Kota Mungkid, Mufid mengatakan perlu berbagai upaya agar warga lebih peduli dan tergerak untuk menangani sampah di lingkungannya,. “Seperti lomba bank sampah yang sudah pernah dilakukan. Itu membuat kami semangat mengelola sampah. Kami berharap lomba seperti ini lebih ditingkatkan,” katanya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat di Jateng hingga Akhir Januari 2026
- PLN Hadirkan Tambah Daya Listrik Instan untuk Hajatan dan Proyek
- KPK Duga Modus CSR Dipakai dalam Aliran Dana Wali Kota Madiun
- OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
- Guru dan Murid di Jambi Adu Jotos, Kasus Berujung Laporan ke Polda
Advertisement
Pemkot Jogja Tata Rumah di Sepadan Sungai, Kurangi Risiko Banjir
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Anggaran Stunting Kelurahan di Kota Jogja Naik pada 2026
- Insentif CBU Berakhir, Pasar Mobil Listrik Berisiko Melambat
- Pos Bantuan Hukum Resmi Hadir di Seluruh Kalurahan DIY
- Basarnas Evakuasi Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 di Jurang Maros
- Macan Tutul Masih Ada di Gunungkidul, Begini Penjelasan BKSDA
- Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Rawit Merah Rp48.600 per Kg
- Produksi Ikan Budidaya Bantul Lampaui Target, Tembus 13.825 Ton
Advertisement
Advertisement



