Ada Jejak Moeldoko di Ivermectin, Ngaku Pernah Konsumsi hingga Siapkan Distribusi

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan ANTARA di Jakarta, Senin (29/6/2020). Moeldoko mengungkapkan Presiden menegur keras menteri-menterinya agar mereka dapat lebih lebih sigap, cepat dan tepat dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19. ANTARA FOTO - Akbar Nugroho Gumay
23 Juli 2021 11:57 WIB Edi Suwiknyo News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) menuding adanya hubungan antara salah satu pejabat PT Harsen Laboratories, Sofia Koswara, dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. PT Harsen adalah salah satu produsen Ivermectin yang ramai dibicarakan saat ini.

Kendati, nama Sofia tak tertera dalam akta perusahaan PT Harsen, ICW menyebut Sofia memegang peran sentral dalam menjalin relasi dengan berbagai pihak.

Peneliti ICW, Egi Primayogha mengatakan Sofia memiliki keterkaitan dengan Front Line Covid-19 Clinical Care (FLCCC).

Sofia juga, tutur dia, tercatat sebagai direktur dan pemilik saham PT Noorpay Perkasa. Menurut Egi, saham terbesar PT Noorpay dimiliki oleh Joanina Rachman, anak dari Kepala Staf Presiden Moeldoko.

"Joanina juga sebagai tenaga khusus atau tenaga ahli di KSP," kata Egi Kamis kemarin.

Dalam catatan Bisnis-jaringan Harianjogja.com, Moeldoko sebenarnya telah beberapa kali mengeluarkan statemen tentang pemakaian obat cacing tersebut. Pada akhir Juni lalu, misalnya, eks Panglima TNI itu sempat sesumbar telah mengonsumsi Ivermectin berkali-bali. Dia bahkan akan segera mendistribusikan obat tersebut.

Keputusan ini diambil karena menurutnya Indonesia kritis dalam menghadapi virus corona (Covid-19) dan beragam variannya yang terus berkembang.

Peningkatan kasus positif Covid-19 terjadi di banyak daerah. Selain itu, fasilitas kesehatan untuk perawatan Covid-19 semakin terbatas dan belum semua orang mendapatkan vaksin Covid-19.

 “Saya selaku Ketua Umum HKTI dan juga mantan jenderal TNI tentu berpikir sedikit berbeda dalam melihat situasi ini. Untuk itu saya mengambil keputusan berani mendistribusikan invermectin kepada anggota HKTI,” tegasnya dalam diskusi virtual yang digelar Frontline Covid-19 Critical Care Alliance (FLCCC), Senin (28/6/2021).

Menurut Moeldoko yang juga Kepala Staf Kepresidenan, butuh pemikiran kritis dalam menghadapi situasi yang tidak normal ini. Dia mengilustrasikan strategi militer dalam mengatasi situasi kritis.

Dalam sebuah peperangan di atas bukit, seorang komandan perang akan mengkalkulasi dengan baik risiko yang akan dihadapi.

Misal jika mengambil langkah terjun payung, kemungkinan 33 persen prajurit dinyatakan meninggal. Apabila peperangan terjadi di medan terbuka dan di bawah tembakan musuh, diperkirakan 12-15% prajurit akan meninggal.

“Dalam menghadapi situasi kritis ini apakah kita harus diam? Menurut saya tidak. Diam ada risiko kematian. Melakukan sesuatu belum tentu mati. Sebuah pilihan bijaksana melakukan sesuatu,” tuturnya.

Saran menggunakan invermectin kata Moeldoko pun tidak sembarang. Pasalnya menurut FLCCC Aliance, sudah ada 33 negara yang menggunakan obat ini dalam menghadapi Covid-19, termasuk di antaranya Brazil, Jepang, Zimbabwe, dan India.

Sementara berdasarkan data American Journal of Therapeutics, ada penelitian yang melibatkan 3406 partisipan yg terbagi atas 15 uji klinis membuktikan invermectin dapat mengatasi Covid 95 persen. Selain itu, kata Moeldoko tercatat 15 negara sudah berhasil melawan Covid menggunakan invermectin seperti Peru, Meksiko, dan Slowakia.

Moeldoko waktu itu bahkan menyinggung para dokter yang menyebut invermectin memiliki risiko kematian. Menurutnya itu pernyataan yang tidak bijak.

BACA JUGA: Ussy Sulistiawaty Gelar Sayembara Maling Spion, Ini Hasilnya

“Saya ini berkali-kali menggunakan invermectin, sehat-sehat saja. Ini harus dipahamkan ke masyarakat agar tidak terjebak dalam situasi perdebatan yang tidak produktif,” tuturnya.

Di Indonesia pun kata Moeldoko telah dilakukan penelitian mengenai khasiat invermectin ini.

Berdasarkan data sementara di lapangan atas dasar distribusi penggunaan invermectin pada anggota HKTI, menghasilkan tingkat kemanjuran hampir 100 menangani Covid-19 di Tangerang, Jakarta Timur, Depok, dan Bekasi.

Di Semarang Timur, lanjut Moeldoko, 40 pasien Covid-19 bisa disembuhkan. “Di Sragen 25 orang dan di Kudus 13 orang semuanya bisa diselamatkan,” beber Moeldoko. Oleh karena itu, dia cukup optimis invermectin bisa menjadi solusi obat yang efektif sembuhkan pasien Covid-19.

“Kami melakukan kajian dari penelitian dan rekomendasi dokter di luar negeri yang merekomendasikan hipermektin di negaranya,” pungkasnya.

Sumber : Bisnis.com