Advertisement
Blokade Total Selat Hormuz, Iran Siap Serang Setiap Kapal yang Lewat
Selat Hormuz Iran. / ist
Advertisement
Harianjogja.com, TEHERAN–Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah militer Iran secara sepihak memutuskan untuk menutup total akses pelayaran di Selat Hormuz.
Langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk perlawanan terbuka terhadap dominasi Barat, di mana Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melontarkan ancaman serius untuk menghancurkan setiap armada kapal yang nekat melintasi jalur logistik energi paling vital di dunia tersebut.
Advertisement
Penutupan jalur strategis ini diprediksi akan memicu guncangan hebat pada pasar komoditas global, dengan estimasi harga minyak mentah yang melonjak hingga 200 dolar AS per barel.
Penasihat Komandan IRGC, Ibrahim Jabari, menegaskan bahwa tindakan ini sengaja dilakukan untuk melumpuhkan kepentingan ekonomi Amerika Serikat yang dinilai sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
BACA JUGA
"Amerika Serikat serakah akan minyak. Biarkan mereka tahu bahwa kami kini telah menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melintasinya," tegas Jabari dalam keterangannya melalui Kantor Berita ISNA pada Selasa (3/3/2026).
Blokade ini menjadi pukulan telak bagi lalu lintas perdagangan internasional, mengingat posisi Selat Hormuz sebagai urat nadi utama penghubung Teluk Persia dengan Laut Arab yang menguasai sebagian besar pasokan gas alam cair (LNG) dunia.
Dampak nyata dari kebijakan tersebut mulai dirasakan di sektor maritim dengan melambungnya biaya pengiriman ke wilayah Irak hingga mencapai 60 persen akibat kenaikan tarif asuransi yang drastis.
Laporan dari Pelabuhan Um Qasr mengonfirmasi tidak ada aktivitas sandar kapal sama sekali, sementara tujuh kapal tanker minyak raksasa dilaporkan terjebak di perairan Irak tanpa kepastian waktu untuk bisa melintasi jalur yang kini dijaga ketat oleh militer Iran.
Eskalasi konflik ini merupakan buntut dari serangan rudal IRGC terhadap tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris, serta penggunaan pesawat nirawak atau drone untuk melumpuhkan kapal tanker AS di perairan yang sama.
Aksi saling balas kian memanas setelah adanya laporan mengenai serangan udara gabungan AS dan Israel ke Teheran pada akhir Februari lalu yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta jatuhnya korban sipil di wilayah kedaulatan Iran.
Situasi keamanan di kawasan tersebut semakin tidak menentu setelah televisi pemerintah mengonfirmasi gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara yang dilancarkan sebelumnya.
Sebagai bentuk respons balasan, Iran langsung menghujani fasilitas militer AS dan wilayah Israel dengan rudal balistik, yang kini dibarengi dengan penutupan Selat Hormuz guna memastikan krisis energi global memberikan tekanan langsung bagi stabilitas ekonomi negara-negara aliansi Barat di Timur Tengah.
Â
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Kota Besar
- Qatar Tegaskan Tidak Berperang dengan Iran, Klaim Hak Bela Diri
- Iran Memanas, 15 WNI di Teheran Siap Dievakuasi Lewat Azerbaijan
- KPK Duga Perusahaan Rokok Jateng-Jatim Terlibat Korupsi Cukai
- KPK Siap Usut Dugaan Korupsi Bea Cukai hingga Kanwil
Advertisement
Terekam CCTV, Gamelan Ndalem Pujokusuman Jogja Digondol Maling
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Bawaslu Sleman Gencarkan Edukasi Pemilu Sambil Ngabuburit
- Wisata Bantul Sepi Saat Ramadan, Pelaku Usaha Fokus Benahi Fasilitas
- Penerbangan Normal, Amphuri Sebut Umrah DIY Tetap Berjalan
- Imbas Serangan Drone, Kedubes AS di Riyadh Tutup Layanan Total
- Gerakan Jogja Berhati Nyaman di DPRD Kota Jogja Kini Dua Kali Sepekan
- Jadi Daya Tarik Budaya, Melasti Ngobaran Masuk Kalender Wisata 2027
- Film Setan Alas Usung Meta-Horor, Tayang Serentak 181 Layar Bioskop
Advertisement
Advertisement




