Wonogiri Putar Haluan Ekonomi, Pariwisata dan Ekraf Jadi Andalan Baru
Wonogiri mulai tinggalkan ketergantungan sektor pertanian, kini fokus kembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dongkrak ekonomi daerah.
Oximeter/Stanley Ng-Pexels
Harianjogja.com, JAKARTA - Oximeter semakin banyak dipakai semenjak pandemi Covid-19. Cara penggunaan oximeter yang baik dapat membantu Anda untuk mendapatkan hasil dan informasi yang maksimal.
Oximeter adalah alat untuk mengukur seberapa banyak oksigen yang masuk ke dalam paru-paru yang kemudian dibawa ke tubuh oleh sel darah yakni hemoglobin (Hb). Hemoglobin yang berkaitan dengan oksigen disebut dengan oksihemoglobin dan yang tidak berikatan dengan oksigen disebut dengan deoksihemoglobin. Perangkat ini digunakan dengan menjepit di bagian jari tangan, daun telinga, lalu kemudian kaki.
Untuk mengukur saturasi oksigen, oximeter menggunakan cahaya yang terdiri dari cahaya merah yang menyerap deoksihemoglobin dan cahaya inframerah yang menyerap oksihemogloin. Selain itu, oximeter juga menggunakan detektor untuk menangkap cahaya.
Oximeter menghitung saturasi oksigen dengan membandingkan berapa banyak cahaya merah dan cahaya inframerah yang kemudian diserap oleh darah, di pembuluh darah arteri yang diteruskan ke sensor kemudian dibaca dan ditampilkan ke monitor.
Hal yang dilihat dari oximeter adalah pulsasi pembuluh darah arteri yakni PR/HR (bpm), saturasi oksigen dalam SpO2 dalam bentuk persen, gambar grafik pulsasi, nilai rata-rata dari perfusi darah yakni dalam PI (perfusi index dalam persen), dan gambar daya baterai alat oximeter tersebut.
Oximeter dan hasilnya dipengaruhi dengan ada beberapa faktor, yakni sebagai berikut.
1. Jari yang dipasangkan di alat terhalang oleh cahaya
2. Posisi pemakaian oximeter yang tidak sejajar
3. Pasien mengalami hipotermi atau dingin
4. Tangan yang basah
5. Memiliki badan yang gemuk
6. Memiliki gangguan pada pembuluh darah
7. Kekurangan darah
8. Posisi badan yang bergerak
9. Ruangan yang terlalu banyak cahaya
10. Saturasi yang cukup rendah (yakni di bawah 75%)
11. Interferensi elektromagnetik
Untuk membaca oximeter, Anda dapat melihat dari grafik pulsasi untuk mendapatkan informasi mengenai saturasi oksigen. Jika nilai PI atau perfusi semakin tinggi (dengan nilai maksimal 10), maka akan semakin baik. Saturasi oksigen juga dapat dikatakan normal jika memiliki nilai PR/HR di antara 60 hingga 100, dan nilai Sp02 dengan nilai normal 95-100%.
Dilansir dari Healthline, jika hasil dari Sp02 lebih dari 89%, maka darah Anda telah membawa oksigen dengan baik. Jika sesekali kadar oksigen Anda berada di bawah 89% hal ini tidak diyakini dapat menimbulkan kerusakan. Namun, jika secara konsisten nilai oksigen Anda berada di bawah level tersebut, maka perlu bagi Anda untuk berkonsultasi dengan dokter.
Untuk membeli oximeter, pastikan bahwa Anda melakukan beberapa tes sederhana untuk mengetahui apakah oximeter dapat berfungsi dengan baik. Anda dapat menahan nafas selama 3-5 detik dan melihat dari perubahan setiap indikasi informasi. Jika nilainya turun, maka oximeter dapat berfungsi dengan baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Wonogiri mulai tinggalkan ketergantungan sektor pertanian, kini fokus kembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dongkrak ekonomi daerah.
Indomaret Cabang Yogyakarta Bersama PMI Sleman kembali Gelar Aksi Donor Darah Disertai Pemeriksaan Mata dan Cek Kesehatan Gratis Dari Puskesmas Gamping 2
Rute Trans Jogja 2026 makin luas dengan pembayaran digital memakai GoPay dan kartu elektronik. Cek daftar jalur dan tarif terbaru di DIY.
Sharp Indonesia Hadirkan Professional Portable Speaker Terbaru dengan Suara Powerful untuk Karaoke hingga Live Performance
Menlu Sugiono memastikan penangkapan WNI dalam misi Gaza bukan penyanderaan. Pemerintah RI terus mengupayakan pemulangan mereka.
Daihatsu terus mendekatkan diri kepada seluruh masyarakat di Indonesia melalui semangat campaign “Karena Kamu Ada”.