Pertama Kali, PBB Minta Israel-Palestina Patuhi Gencatan Senjata

Warga Palestina turun ke jalan merayakan gencatan senjata di Jalur Gaza Selatan, Kamis (20/5/2021)./Antara - Reuters/Ibraheem Abu Mustafa
23 Mei 2021 10:07 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dalam pernyataan pertamanya sejak kekerasan meletus pada 10 Mei, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menyerukan "kepatuhan penuh terhadap gencatan senjata" antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza.

Pernyataan yang dikeluarkan kemarin setelah disetujui oleh semua 15 anggota DK PBB, menyatakan "berduka atas hilangnya nyawa warga sipil akibat kekerasan" seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (23/5/2021). 

PBB juga menekankan kebutuhan segera untuk bantuan kemanusiaan bagi penduduk sipil Palestina, khususnya di Gaza.

Pemboman 11 hari Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 248 orang, termasuk 66 anak-anak, dengan lebih dari 1.900 orang terluka. Sedangkan di pihak Israel sedikitnya 12 orang tewas akibat tembakan roket dari Gaza.

Pernyataan itu lebih lanjut mengatakan bahwa sangat mendesak untuk memulihkan keamanan dan "menegaskan kembali pentingnya mencapai perdamaian yang komprehensif berdasarkan visi sebuah kawasan di mana dua negara demokratis, Israel dan Palestina, hidup berdampingan dalam damai dengan perbatasan yang aman dan diakui".

Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel, sebelumnya memblokir empat usulan pernyataan DK PBB yang menyerukan penghentikan semua serangan atau gencatan senjata yang disetujui semua anggota dengan mengatakan hal itu dapat mengganggu upaya pemerintahan Presiden Joe Biden untuk mengakhiri serangan militer Israel.

Pada hari Sabtu, Qatar berjanji untuk bekerja dengan negara Arab dan negara Muslim lainnya untuk membantu menghentikan serangan Israel terhadap Palestina. 

Sedangkan parlemen Mauritania mendesak Pengadilan Kriminal Internasional dalam resolusi untuk menuntut pejabat Israel atas tindakan "genosida" melalui serangan militernya di Gaza.

Sementara itu, warga Palestina di Gaza terus turun ke jalan untuk menyambut gencatan senjata, melanjutkan tren dari hari Jumat ketika pertempuran berhenti. Ratusan pejuang Hamas yang mengenakan kamuflase militer berpawai melewati tenda duka untuk Bassem Issa, seorang komandan senior yang tewas dalam pertempuran itu.

Pemimpin tertinggi Hamas di Gaza, Yehiyeh Sinwar, memberikan penghormatan dalam penampilan publik pertamanya sejak pertempuran dimulai awal bulan ini.

Israel mengebom rumah Sinwar, bersama dengan tokoh-tokoh senior Hamas lainnya, sebagai bagian dari serangannya terhadap apa yang dikatakan sebagai infrastruktur militer kelompok 

Sementara itu, pawai solidaritas pro-Palestina diadakan sebagai kelanjutan dari protes selama seminggu. Pengunjuk rasa menuntut pemerintah masing-masing menjatuhkan sanksi dan embargo militer untuk menghentikan pasokan senjata ke Israel.

Sumber : Aljazeera.com, Bisnis.com