Advertisement
PTDI-BRIN Perkuat Ekosistem Industri Dirgantara Nasional
Salah satu bagian utama pesawat N250 Prototype Aircraft 01 (PA01) pesawat produksi dari PT Dirgantara Indonesia. - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi strategis guna mendorong kemandirian dan daya saing industri dirgantara nasional.
Dukungan riset dari BRIN menjadi kunci peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kedirgantaraan.
Advertisement
Sebagai satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara dengan kapabilitas desain, manufaktur, hingga perawatan pesawat, PTDI terus mengembangkan produk unggulan seperti N219, CN235, dan NC212i yang telah menembus pasar internasional.
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan, dalam pernyataan di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa dukungan riset dari BRIN menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemandirian industri dirgantara, khususnya dalam mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
"Dengan dukungan riset dari BRIN, kami optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kedirgantaraan," kata Gita dilansir Antara Kamis (25/12/2025).
Ia menyatakan sebagai satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara yang memiliki kapabilitas lengkap mulai dari desain, manufaktur, hingga perawatan pesawat, PTDI terus mengembangkan produk berdaya saing global.
Selain N219, pihaknya juga telah berhasil memasarkan pesawat CN235 dan NC212i ke berbagai pasar internasional.
Pada Rabu (24/12/2025), Kepala BRIN Arif Satria melakukan kunjungan ke fasilitas produksi PTDI di Bandung. Dalam kesempatan itu, Arif menekankan bahwa riset di sektor dirgantara harus selaras dengan kebutuhan industri dan tidak berhenti pada tahap laboratorium semata.
"Kita harus memastikan bahwa setiap riset di bidang kedirgantaraan memiliki dampak ekonomi dan nilai tambah nyata bagi industri nasional," ujar Arif.
PTDI memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi teknologi tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya akan memberikan dukungan mulai dari pendanaan riset, pemanfaatan fasilitas laboratorium bersama, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM) periset guna mempercepat hilirisasi inovasi.
Salah satu fokus utama dalam kunjungan tersebut adalah peninjauan perkembangan pesawat N219 Nurtanio, yang merupakan hasil kolaborasi antara BRIN dan PTDI. Pesawat bermesin ganda ini dirancang untuk menjawab tantangan konektivitas di wilayah terpencil Indonesia.
Arif menilai N219 memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan, khususnya kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) yang memungkinkan pengoperasian di landasan terbatas.
"N219 mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek, kurang dari 800 meter, bahkan yang tidak beraspal sekalipun. Ini solusi kunci untuk wilayah seperti pegunungan Papua atau daerah 3T lainnya," ucapnya.
Kolaborasi PTDI dan BRIN diharapkan mempercepat hilirisasi riset, memperkuat inovasi teknologi tinggi, serta menghadirkan solusi konektivitas nasional melalui pengembangan pesawat karya anak bangsa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pendaftaran Calon Pimpinan OJK Dibuka, Begini Tahapan dan Syaratnya
- DKPP Pecat Tiga Anggota KPU karena Pelanggaran Kode Etik
- KPK Ungkap Alasan Negara Bisa Menyuap Negara di Kasus PN Depok
- Atraksi Naik Gajah Dilarang, Warga Diminta Melapor
- Kemensos Benahi PBI BPJS Kesehatan, 54 Juta Warga Belum Terdaftar
Advertisement
Advertisement
Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
Advertisement
Berita Populer
- PLN Bekali Pelajar SMA Negeri 2 Keterampilan Bisnis Hampers
- Diskon Transportasi Mudik Lebaran 2026 Capai Rp911 Miliar
- Banyak Bangunan Sleman Belum Ber-PBG, Risiko Keselamatan Mengintai
- Viral Dugaan Kebocoran Data 58 Juta Siswa, Ini Kata Menko PMK
- PPATK Telusuri Aliran Dana Jaringan Etomidate di Tanjung Priok
- Mudik Lebaran 2026, Kemenhub Siapkan 50 Ribu Tiket Gratis
- Parkir Stasiun Lempuyangan Dinilai Cukup, KAI Dorong Penertiban Liar
Advertisement
Advertisement




