HASIL STUDI: Satu dari Tiga Penyintas Covid-19 Alami Gangguan Kesehatan Jangka Panjang

Foto ilustrasi. - Reuters
23 Maret 2021 20:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Sebuah studi baru-baru ini mengungkap potensi penyintas Covid-19 merasakan efek jangka panjang.

Satu dari tiga pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 memiliki masalah kesehatan jangka panjang.

Menurut jurnal Nature Medicine yang diterbitkan Senin, (22/3/2021), masalah kesehatan tersebut termasuk masalah organ dan kesehatan mental yang memburuk.

Untuk sampai pada kesimpulan itu, peneliti mengamati frekuensi gejala jangka panjang termasuk kelelahan, sesak napas, kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma atau PTSD.

BACA JUGA: IDI Tegaskan Sekolah Bisa Dibuka Jika Laju Penularan Covid-19 di Bawah 5 Persen

Data menunjukkan, keadaan darurat kesehatan yang kurang diperhatikan membuat pemerintah perlu mempelajarinya, dan menemukan cara untuk memberi imbauan pencegahan.

"Mengingat jutaan orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 secara global, biaya jangka panjang pada aspek kesehatan fisik, kognitif, dan mental masih harus dilihat," ungkap Kartik Sehgal, Ahli Onkologi medis di Boston’s Dana Farber Cancer Institute.

Dikatakan, COVID-19 yang parah dapat menginfeksi paru-paru pasien, dan meninggalkan banyak masalah pada kemampuan pernapasan jangka panjang.

Penelitian telah menunjukkan, virus juga menyerang organ lain termasuk komplikasi kardiosvaskular dan peradangan kronis.

Sehgal dan rekannya meninjau sembilan studi jangka panjang dari Eropa, Amerika Serikat, dan China. Ditemukan, bahwa beberapa pasien melaporkan masalah organ setelah keluar dari rumah sakit.

Selain itu, temuan juga mengungkap 30 persen pasien yang diteliti melaporkan setidaknya memiliki satu gejala, seperti kelelahan, sesak napas, dan kondisi kejiwaan.

Studi di Italia terhadap 143 pasien menemukan hampir 90 persen melaporkan gejala yang menetap 60 hari setelah pulih dari infeksi COVID-19. Namun, gejala yang paling umum adalah kelelahan (53,1 persen), sesak napas (43,4 persen), nyeri sendi (27,3 persen), dan nyeri dada (21,7 persen).
Secara total, lebih dari separuh pasien mengalami beberapa gejala dua bulan setelah meninggalkan rumah sakit.

Tiga penelitian dari Prancis, Inggris, dan China menunjukkan, antara 25-30 persen pasien melaporkan gangguan tidur selama beberapa minggu, setelah pulih dari COVID-19. Dan sekitar 20 persen pasien juga melaporkan adanya masalah kerontokan rambut.

Dalam analisis kohort yang terdiri dari 402 orang yang selamat di Italia, satu bulan setelah dirawat di rumah sakit, 56 persen dinyatakan positif karena kondisi kejiwaan. Seperti depresi dan kecemasan.

Para peneliti mengatakan, sekitar 30 persen pasien COVID-19 mengembangkan gejala PTSD setelah dirawat di rumah sakit. "Penting untuk tidak melupakan efek kesehatan mental dari COVID-19, sembari menjaga gejala fisik, karena bisa dengan mudah terlewat," ungkap Sehgal yang dilansir dari Healthshots.

Para peneliti menyerukan penyelidikan lebih lanjut terhadap COVID-19, dan pendirian klinik untuk merawat pasien dengan gejala yang menetap.

Sehgal mengatakan, ia berharap penelitian dapat menunjukkan bahwa bertahan hidup dari COVID-19 belum tentu memberi hasil kesehatan yang memuaskan. "Meskipun mencegah kematian tetap menjadi tujuan penting, penting juga untuk mengenali morbiditas multi-organ COVID-19," paparnya.

Ia juga mengatakan, kebutuhan medis bagi pasien COVID-19 tidak berhenti pada saat keluar dari rumah sakit. "Kebutuhan medis pasien dengan COVID-19 tidak berhenti pada saat keluar dari rumah sakit, dan mereka juga tidak berhenti setelah tiga hingga empat minggu," ungkap Sehgal.

Sumber : Suara.com