MSCI Kaji Rencana Downgrade Saham RI, OJK Siapkan Reformasi Pasar
MSCI mengkaji status pasar saham Indonesia melalui enam poin utama, mulai dari transparansi free float hingga penegakan hukum dan tata kelola.
Petugas medis memasukkan sampel tes usap seorang pasien dalam kunjungan pemeriksaan kesehatan ke rumah-rumah di New York, AS, Selasa (4/8/2020)./Bloomberg-Angus Mordant
Harianjogja.com, JAKARTA -- China akan memberlakukan tes usap anal bagi wisatawan yang akan berkunjung ke beberapa kota di China.
Langkah itu dilakukan menyusul temuan beberapa dokter China yang terkait penularan virus tersebut. Menurut mereka, virus corona dapat dideteksi dalam tinja lebih lama daripada di hidung dan tenggorokan
"Beberapa pasien tanpa gejala atau mereka dengan gejala ringan pulih dengan cepat dari COVID-19, dan mungkin tes tenggorokan tidak akan efektif untuk orang-orang ini," kata dokter penyakit menular di China, Li Tongzeng kepada CNN. M
BACA JUGA: Bantuan Rp50 Juta per Dukuh di Bantul Jangan Dipukul Rata
enurut dia, para peneliti mengungkapkan pada beberapa orang yang terinfeksi, durasi waktu hasil nukleat positif bertahan lebih lama pada tinja dan tes usap anal mereka dibandingkan pada saluran pernapasan bagian atas.
"Oleh karena itu, menambahkan tes usap anal dapat meningkatkan tingkat deteksi positif dari yang terinfeksi," kata dia.
Beberapa warga negara China juga diharuskan melakukan tes usap ini. Pada Januari lalu, lebih dari 1.000 siswa dan guru di sebuah distrik sekolah di Beijing dites baik itu di anal maupun hidung.
Pemberlakuan tes pada akhirnya memicu protes. Pejabat di Jepang pada pekan ini seperti dikutip dari Livescience, Minggu, mengeluh karena warga negaranya yang tiba di China dan menjalani tes mengalami sakit psikologis yang hebat.
Keluhan juga datang dari beberapa diplomat Amerika Serikat yang diminta untuk mengikuti tes. Di China sendiri, tes juga menimbulkan keluhan.
Wakil direktur departemen biologi patogen di Universitas Wuhan, Yang Zhanqiu, mengatakan tes hidung dan tenggorokan masih lebih efektif daripada tes anal, karena virus diketahui menyebar melalui tetesan pernapasan bukan melalui feses.
Dia mengatakan, apabila tujuan tes ini untuk mencegah orang yang terinfeksi menyebarkan virus, maka argumennya berlanjut menjadi tes hidung tenggorokan akan bekerja paling baik.
"Ada kasus tentang tes virus corona positif pada kotoran pasien, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang," kata Yang.
Para ahli kesehatan di luar China juga mempertanyakan praktik tes usap anal. Menurut mereka, ini karena mereka yang positif COVID-19 pada tes anal tetapi tidak pada tes hidung atau tenggorokan kemungkinan tidak akan menulari orang lain, menurut The New York Times.
"Apabila seseorang terkena infeksi tetapi tidak menular ke orang lain, kami tidak perlu mendeteksi orang itu," tutur profesor kesehatan masyarakat di University of Hong Kong, Benjamin Cowling kepada Times.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
MSCI mengkaji status pasar saham Indonesia melalui enam poin utama, mulai dari transparansi free float hingga penegakan hukum dan tata kelola.
John Rachmat menilai pemberantasan saham gorengan dan transparansi kepemilikan menjadi kunci mencegah pasar modal RI turun ke standalone market.
Harga pangan Jakarta 17 Oktober 2026 menunjukkan cabai keriting turun menjadi Rp63.750/kg, sedangkan Minyakita naik menjadi Rp19.350/liter
Bank Jateng dan Kemenag Jawa Tengah memperkuat kerja sama layanan perbankan, penyaluran gaji pegawai, pembayaran digital QRIS, serta pengembangan ekonomi
KPK menyebut Nusron Wahid absen dalam dua panggilan pemeriksaan karena agenda lain dan perjalanan dinas ke Malaysia.
KPK menduga pengadaan HT untuk penanganan karhutla terkait korupsi dana siap pakai BNPB. Penyidik menyita barang bukti senilai Rp5,47 miliar.